Oleh: John NR Gobai
Pengantar
Di Provinsi Papua Tengah kerusakan terhadap Mangi mangi/Lolaro atau Bakau/ Hutan Mangrove terjadi karena adanya Tailing Freeport, pembangunan dan perkembangan wilayah.
kawasan pesisir mimika dengan panjang 360 km atau 270.000 hektar dinyatakan sebagai hutan lindung.Hutan bakau Timika, salah satu kawasan ekosistem mangrove terbaik di dunia.
Bahkan dinyatakan hutan dengan spesies bakau terlengkap, sampai 43 jenis.
Hutan bakau ini menjadi sabuk alami terbaik melindungi daratan, dari badai dan gelombang.
Bisa dibayangkan jika tak ada bakau. Apa yang akan melindungi daratan dari gelombang dengan pasang tertinggi mencapai 3,6 meter?
Hal yang sama juga terlihat di beberapa pulau keçil dan kampung di pesisir nabire yang terkena abrasi.
Membangun kawasan pesisir perlu kehati-hatian dan kewaspadaan tinggi.
Segala bentuk risiko dan kemungkinan, harus diperhitungkan matang tentu harus diatur juga dalam RZWP3K.
Fakta dan upaya
Daisy K. Primayanti, Corporate Communication Freeport mengatakan, berdasarkan Amdal Freeport yang disetujui pemerintah Indonesia 1997, tailing akan mengendap di daerah pengendapan tailing pada dataran rendah disebut sebagai Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA) minimum 50% pada akhir masa tambang.ModADA,mempunyai luas 23.000 hektar dan dibatasi Tanggul Barat dan Tanggul Timur.
Sisa tailing sebesar 50%, terutama berukuran partikel sangat halus akan mengalir ke muara dan laut.Berdasarkan prediksi Amdal,tailing yang mengalir ke muara dan laut akan menyebabkan pendangkalan dan membentuk pulau-pulau baru. Hasil pemantauan menunjukkan pulau-pulau baru ini bisa cepat ditumbuhi mangrove.
Sebagai bagian komitmen kepada pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Freeport juga menanam mangrove di pulau-pulau baru untuk mempercepat proses kolonisasi mangrove di muara.
Sejumlah objek wisata khususnya yang berada di pesisir pantai Nabire yang memiliki hutan-hutan bakau, namun sangat di sayangkan, banyak hutan bakau yang telah dirusak. Untuk itu diharapkan bagi pemilik, atau pengelola objek wisata apabila terdapat hutan manggrove jangan di rusak.
Salah satu program Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nabire di tahun ini yakni akan melakukan penanaman manggrove di sejumlah tempatkan di Daerah yang telah terjadi abrasi, di pesisir pantai nabire.
Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Wahana Kelestarian Alam Papua (LSM Wakera) Pice Musendi,mengatakan Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah Juga memiliki hutan mangrove hampir di pesisir pantai, namun ada beberapa titik yang dinilai telah di rusak atau dialihfungsikan, menjadi tambak ikan, perkebunan, pemukiman dan lain sebagainya.
“Terkait kerusakan hutan mangrove disejumlah titik di Nabire, Pihak LSM Wakera berusaha mendorong dan memotivasi masyarakat yang telah memiliki kepedulian untuk turut bekerjasama dalam upaya melestarikan mangrove dan menyelamatkan pesisir pantai yang terkena dampak abrasi air laut,”.
Keberadaan hutan manggrove sangat bermanfaat, baik dari segi ekonomis, fisik, maupun dari segi ekologis.
Kini hutan mangrove semakin sedikit akibat penebangan oleh oknum-oknum yang tidak tahu akan pentingnya pohon tersebut. Hutan mangrove atau yang akrab disebut hutan bakau ialah hutan yang tumbuh di atas rawa, yang terletak di garis pantai.
Hutan mangrove memiliki peranan yang sangat bermanfaat bagi penduduk sekitar pantai dan lain sebagainnya.
Dengan demikian, kerusakan dan pengurangan sumber daya tersebut yang terus berlangsung akan mengurangi bukan hanya produksi dari darat dan perairan, serta habitat satwa liar, dan sekaligus mengurang hayati, keanekaragaman tetapi juga merusak stabilitas lingkungan hutan pantai yang mendukung perlindungan terhadap tanaman pertanian darat dan pedesaan.
Mangrove sangat penting artinya dalam pengelolaan sumber daya pesisir di sebagian besar-walaupun tidak semua wilayah Indonesia.
Fungsi mangrove yang terpenting bagi daerah pantai adalah menjadi penghubung antara daratan dan lautan. Tumbuhan, hewan benda-benda lainnya, dan nutrisi tumbuhan ditransfer ke arah daratan atau ke arah laut melalui mangrove. Mangrove berperan sebagai filter untuk mengurangi 1efek yang merugikan dari perubahan lingkungan utama, dan sebagai sumber makanan bagi biota laut (pantai) dan biota darat.
Contoh Pengembangan Mangrove
Dikampung Pigapu, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika terdapat Kelompok Tani Hutan yang mengolah daun Mangrove menjadi teh dan berbagai macam produk lainnya. Mama Mama Kelompok Tani Hutan Kampung Pigapu, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, apalagi mereka telah memiliki rumah produksi yang dibantu oleh BRIN. Hasil olahan dari Daun Mangrove di Kabupaten Mimika mulai menjanjikan. Bagaimana tidak, setelah diolah menjadi daun teh, ternyata memiliki cita rasa tersendiri dan diyakini juga berkasiat. Produk ini diberi nama Teh Mangrove Achantus karena tehnya berasal dari Mangrove berjenis Achantus. Mendapat pembinaan dari Yayasan Ekologi Sahul Lestari juga Dinas Kehutanan Provinsi Papua, puluhan mama-mama di Mimika berhasil mengolah Mangrove menjadi teh.
Hasil penjualan sejauh ini kami berhasil menjual 103 kilogram teh dengan hasil 20 jutaan lebih, dan karena ada peningkatan ekonomi keluarga yang bagus dari kelompok, akhirnya membuat mama-mama dari luar kelompok ikut bergabung, ini menunjukan tingginya semangat dan minat juga.
Mama–mama menjual satu kotak teh dibanderol dengan harga Rp20 ribu, kemudian ada yang dibungkus menggunakan aluminium foil dengan berat 100 gram dijual dengan harga Rp30 ribu.
Khasiatnya menurut lab ada kandungan jossnya, terus ada satu mama yang kena penyakit gula, setelah konsumsi teh itu hilang luka-lukannya. Kemudian ada kandungan anti oksidannya yang bagus di konsumsi untuk perokok aktif,” ujarnya.
Terdapat juga pengembangan ekowisata mangrove di pomako yang dibangun oleh Pemda Mimika sebagai satu icon wisata di Mimika.
Penutup
Jika mangrove tidak ada maka produksi laut dan pantai akan berkurang secara nyata, oleh karena itu sangatlah penting diperlukan adanya regulasi daerah Papua tengah tentang Perlindungan dan Pengembangan Mangrove.
Ref; https://mongabay.co.id/2014/12/14/kala-tailing-freeport-rusak-ekosistem-mangrove/https://rri.co.id/nabire/daerah/1257
https://rri.co.id/nabire/daerah/1257966/dlh-nabire-mengimbau-warga-tidak-merusak-hutan-bakau
https://seputarpapua.com/view/teh-dari-daun-mangrove-jadi-sumber-pendapatan-baru-mama-mama-di-mimika.html
Penulis adalah Anggota DPR Provinsi Papua Tengah Jalur Otonomi Khusus (Otsus)