ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

    Segera Hentikan Operasi Tambang Emas Ilegal di Kampung Mogodagi

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Dewan Pers Tegaskan Tidak Pernah Pungut Biaya Pamflet Imbauan, Masyarakat Diminta Waspada

    Benahi Tata Kelola Kantor, Markus Auwe Tetapkan Jadwal Kerja dan Tupoksi Staf Distrik Kamuu

    Pendekatan Militeristik Dinilai Buntu, Aktivis Soroti Kegagalan Implementasi Otsus Papua

    Guncang Dunia Pers, Festival Media Se-Tanah Papua Bakal Rutin Digelar

    Satu Tahun di DPRD Dogiyai, Akulian Magai Serahkan Mobil Pelayanan dan Pasang Starlink

    Bupati Paniai Resmikan Rumah Penginapan, dan Komitmen Kawal MUSPASMEE di Paroki Kristus Jaya Komopa

    TPNPB Bantah Isu Penyanderaan 18 Karyawan PT Freeport, Tuduh Satgas Habema Sebar Hoaks

    BP3 OKP dan BPP Papua Tengah Apresiasi Panen Jagung Tani Merdeka di Nabire

    Kawal Fesmed 2026, Dinkes Papua Tengah Siagakan Tim Medis dan Ambulans

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

    Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan”

    Kapiraya Kritis! Rumah Dibakar, Warga Tewas, Aktivis HAM Ketuk Pintu Pemerintah

    Kapitalisasi Dunia Kesehatan: Pintu Masuk Pelanggaran HAM Berat di Papua

    Ketika Hukum Menjanjikan, Tapi Realitas Mengingkari: Otsus Papua di Antara Teks dan Hidup Sehari-hari

    Victor Yeimo: Evaluasi Kritis 63 tahun UNCEN: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Penjajahan

    Rambut Putih, Cahaya Tak Padam: Kesaksian Elias tentang Pastor Nato Gobay

    Sagu: Sumber Kehidupan dan Identitas Budaya Masyarakat Sentani

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Jurnalis Papua Diimbau Perkuat Investigasi dan Independensi Hadapi Regulasi Baru

    TPNPB Klaim Bertanggung Jawab atas Penikaman di Dekai, Nilai Kunjungan Wapres Gibran Hanya Pencitraan

    KNPB Konsulat Makassar Tegaskan: Kami bukan Separatis

    Hari HAM Sedunia 10 Desember 2025: Operasi Militer di Gearek Nduga Picu Pengungsian Warga Sipil

    Konflik Yahukimo Memanas, TPNPB Klaim Rumah Agen Intel DibakarKonflik Yahukimo Memanas, TPNPB Klaim Rumah Agen Intel Dibakar

    Kontak Tembak Senjata di Yahukimo, Satu Anggota TPNPB Luka, TPNPB Kalim Tiga Prajurit TNI Tewas

    TPNPB: 6 Helikopter Militer Lakukan Serangan Udara di Nduga, Warga Distrik Gearek Mengungsi ke Hutan

    Kontak Tembak Terjadi di Yahukimo, TPNPB Klaim Aparat Lakukan 98 Kali Serangan Bom

    HRD: Tepat Hari HAM Sedunia, Militer Indonesia Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Papua

  • Kesehatan

    Kawal Fesmed 2026, Dinkes Papua Tengah Siagakan Tim Medis dan Ambulans

    Kepala Bidang P2P Dinkes Paniai: Empat Warga Baya Biru Dinyatakan Positif HIV/AIDS

    KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS di Gereja Kingmi Koordinator Paniai Awepaida

    KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS, di Jemaat Bahtera Dinubutu

    Dinas Kesehatan Paniai Gelar Pemeriksaan dan Pengobatan Massal di Distrik Bayabiru

    KPA Paniai Gelar Deklarasi dan Penandatanganan MOU Penanggulangan HIV/AIDS Bersama 24 Distrik dan 216 Desa

    Hari AIDS Sedunia, Dinkes dan KPA Paniai: Tegaskan Komitmen Lawan AIDS 

    KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS pada Temu Mudika Dekenat Paniai di Paroki Santo Yusuf Enagotali

    KNPI Paniai Gelar Rakerda, KPA Dorong Pemuda Jadi Garda Terdepan Cegah HIV/AIDS

  • Lingkungan

    BP3 OKP dan BPP Papua Tengah Apresiasi Panen Jagung Tani Merdeka di Nabire

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Pemprov Buka Ruang Tani Merdeka

    Aksi Nyata Pemuda dan DLH, Ubah Wajah Dogiyai Jadi Lebih Asri dan Hijau

    GPPMMA Aikai Gelar Aksi Bersihkan Sampah di Pelabuhan Aikai dan sekitarnya 

    Anggota DPR Papua Tengah Mendesak Pemerintah dan Aparat Hentikan Konflik di Timika

    Bupati Paniai Imbau Pelaku Usaha Tak Naikkan Harga Kebutuhan Pokok Jelang Natal dan Tahun Baru

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

    HRD: Tepat Hari HAM Sedunia, Militer Indonesia Lakukan Kejahatan Kemanusiaan di Papua

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Tiga Kepala Badan Baru dan Siapkan Program Kerja 2026

  • Pendidikan

    Pelajar Nabire Didorong Jadi Produsen Konten Positif di Festival Media Papua 2026

    Festival Media Se-Tanah Papua 2026 Resmi Digelar di Papua Tengah

    Bupati Kab. Dogiyai Tekankan Pentingnya Noken, Regenerasi, dan Penguatan Pendidikan

    IPPM-DW HIMLEKS Rayakan Natal dan Dies Natalis di Sentani

    Pemkab Dogiyai Melalui Dikpora  Gelar Launching SSH di SD YPPK Goodide

    TK Negeri Bogodide Resmi Terakreditasi Tepat di Hari Guru Nasional

    Marten Yogi dan Marius Kayame Rayakan Syukuran Bersama Wisudawan USWIM dan Anggota DPRK Paniai

    IPMB Rayakan Wisuda Mikerla Iyai, S.T: Bukti Perjuangan Mengalahkan Tantangan

    Dari Rumah Pribadi ke Sekolah Negeri: Perjuangan Panjang TK Waikato Paapaa Aikai Akhirnya Berbuah Manis

  • Religi

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

    Tim Penegak Daa dan Diyodou Rayakan Ulang Tahun ke-12

    Ketua Panitia MUSPASME VIII Tegaskan Kesiapan Sukseskan Musyawarah Pastoral Mee ke-VIII di Komopa

    Natal Penuh Damai di Pos PI Maranatha: Jemaat Rayakan Kelahiran Yesus Raja Damai

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

    Gelar Dialog Terkait “Postingan Viral”, Dewan Pastoral Paroki Imakulata Moanemani Tegaskan Gereja Tidak Berafilias dengan Pihak Manapun

    Masalah dan Harapan OMK Dekenat Paniai Bahas: Iman, Ekonomi, dan Advokasi Sosial

    Kingmi Pos PI Inii Enaimo Merayakan Natal dan HUT Ke-XII: Yesus Menjadi Pusat Hidup Jemaat

    Mahasiswa Semester VII STAK Nabire Rayakan Natal di Pantai Tiba Lakukan: “Tuhan Survei Hati Setiap Orang”

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

by Redaksi
31 Desember 2025
in Artikel Opini
0
SHARES
40
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil

Pengantar

Mencari uang tidak bisa menghalalkan segala cara, lebih-lebih mengorbankan alam, bahkan manusia. setiap hukum dan peraturan harus ada untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Produk hukum yang dibuat untuk membodohi, menghancurkan dan merusak kehidupan manusia dan alam harus dihentikan. Peraturan yang melegalkan perusahan untuk merusak lingkungan alam telah mengorbankan tidak sedikit manusia. Dua kasus banjir di Aceh dan Sumatera adalah contoh nyata bahwa Negara tidak berperan untuk menyelamatkan hutan dan bahkan rakyat, namun hanya sekedar mencari keuntungan sambil mengorbankan rakyat jelata.

Human & Safety

Banjir di Aceh

BANDA ACEH, 27 November 2025, 16.50 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan kondisi banjir di 16 Kabupaten/Kota (Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang,Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam,Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara,  dan Aceh Selatan) di Provinsi Aceh. Selama periode 18 November 2025 pukul 07.00 WIB hingga 27 November 2025 pukul 16.00 WIB terdampak pada rumah milik 33.817 KK/119.988 Jiwa dan 6.998 KK/20.759 Jiwa mengungsi. Sebagian besar kejadian masih dipicu oleh curah hujan tinggi, angin kencang, dan kondisi geologi labil yang berdampak pada banjir, tanah bergerak, serta tanah longsor.

Perusahaan-perusahaan seperti PT Delima Makmur, PT Global Sawit Semesta, PT Nafasindo, PT Rundeng Putra Persada, dan PT Socfin Indonesia (Lae Butar) dinilai selama bertahun-tahun memperluas konsesi hingga menekan kawasan rawa gambut Tripa, daerah yang kini menjadi kubangan banjir.

Di Nagan Raya dan Aceh Barat, nama-nama besar seperti PT Fajar Baizury, PT Kalista Alam, PT Surya Panen Subur 1 & 2, serta PT Agro Sinergi Nusantara disebut oleh para pemerhati lingkungan sebagai perusahaan yang mengubah bentang alam secara masif dan memicu kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS).

Kini menjadi salah satu titik banjir terparah. Perusahaan-perusahaan seperti PT Bumi Flora, PT Padang Palma Permai (Minamas Plantation), PT PP London Sumatera (Lonsum), PT Socfin Indonesia (Sei Liput), dan PT Sisirau dinilai memiliki rekam jejak panjang konflik lahan, perusakan hutan, serta gagal menunjukkan tanggung jawab sosial yang memadai.

Tak luput dari sorotan, tambang legal besar seperti PT Mifa Bersaudara, PT Prima Bara Mahadana, PT Mega Multi Cemerlang, dan PT Universal Pratama Sejahtera disebut harus ikut bertanggung jawab karena operasi skala industri di wilayah gambut dan hutan perbukitan memperburuk aliran air permukaan setiap musim hujan.

Banjir di Sumatera

Banjir yang terjadi diakhir November 2025 merupakan kelalian manusia menjaga hutan (alam). Bajir terjadi akibat perusahaan perkebunan kelapa sawit dan perusahan tambang. Kapuspenkum Kejagung, Anan Supriatna menjelakskan bahwa Satuan Tugas Penerbitan Kawasan hutan (Satgas PKH) tengah mengusut 27 Perusahan yang salah stunya bergerak di sektor kelawa sawit dan tambang.

Umunya diberitakan, Satuan Tugas Penerbitan Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah memeriksa 27 Perusahaan terkait bencana banjir dan tanah longsor di sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar).

Banjir Aceh Dan Sumbatera Termasuk Bencana Kemanusiaan Nasional

Banjir yang terjadi di Aceh dan Sumatera adalah bencana nasional karena Negara telah memberikan izin membuka perusahaan. Perusahan baik lokal maupun nasional telah merusak alam bahkan manusia Aceh dan Sumatera, maka Negara harus memberi jaminan keselamatan dan keamanan kepada rakyat yang mengalami korban banjir. Negara juga harus membuka diri dan dengan terbuka pula menerima bantuan dari Negara mana pun yang mau membantu manusia yang mengalami korban banjir ulah perusahaan.

Mereka yang korban baik di Aceh maupun Sumatera adalah akibat kelalaian pemerintah dalam mengontrol dan mengawasi ekspoitasi dari perusahaan-perusahaan baik yang berskala kecil maupun yang berskala besar, baik perusahaan lokal maupun peruhaaan Nasional dan Internasional. Negara harus bertanggung jawab atas lingkungan alam yang rusak juga nyawa manusia yang melayang. Banjir terjadi karena perusahaan perkebunan kelapa sawit juga penambangan yang terjadi, yang tentu telah mendapat izin dari pemerintah baik pusat maupun lokal.

Menteri Hak Asasi Manusia harus mampu mengatakan bencana banjir di Aceh dan Sumatera adalah bencana kemanusiaan nasional dan Negara harus bertanggung jawab atas semua kerusakan dan korban yang dialami. Akibat kelalaian manusia menjaga hutan, Negara memberikan izin kepada investor, akhirnya hutan dirusak dengan alat-alat canggih yang menyebabkan banjir yang tak terbendung, yang pada akhirnya tidak sedikit yang mengakibatkan kehilangan nyawa manusia, kehilangan tempat tinggal juga tempat mencari dan mendapatkan kehidupan.

Orang Papua Berbela Sungkawa Dan Waspada

Orang Papua prihatin dan berbelasungkawa kepada sudara-saudari di Aceh dan di Sumatera yang terdampak banjir. Demi kemanusiaan, orang Papua merasa sedih dan turut berduka bersama keluarga yang telah menjadi korban banjir di sana ulah perbuatan manusia, bukan karena takdir. Saudara-saudari yang telah kehilangan tempat tinggal, tempat makan dan minum, bahkan menjadi korban nyawa kami sebagai manusia merawa kehilangan dan selamat berduka.

Kenyataan bencana banjir di Aceh dan Sumatera menjadi pembelajaran untuk semua orang Papua tentang bagaimana menjaga alam dan hutan sebagai ibu, sumber mencari dan mendapatkan makanan. Supaya orang Papua tidak mengalami nasib seperti di Aceh dan Sumatera, diharapkan tidak memberikan izin kepada investor, perusahaan, pemodal, kaum oligarki dan kapitalis untuk mengkeruk dan merusak alam Papua yang berakibat pada kehidupan manusia. Ketika rakyat berdaulat tidak menjual tanah, tidak memberi izin penambangan, para investor tidak akan pernah merusak alam.

Pemerintah Pusat dan daerah yang membuat peraturan PERDASI untuk membolehkan perusahan tambang maupun perkebunan kelapa sawit beroperasi di Papua harus bertanggung jawab atas korban yang terjadi akibat kerusakan hutan dan korban manusia. Termasuk kepala-kepala suku, kepala-kepala kampung di Papua harus bersatu bersama rakyat untuk menolak setiap izin penambangan juga pembangunan kebun kelapa sawit. Apalagi pasca Presiden Prabowo mengumumkan buat perkebunan kelapa sawit di Papua untuk menambah BBM.

Penutup

Banjir di Aceh dan Sumatera adalah bencana nasional, karena itu Negara harus bertanggung jawab. Negara memberi izin penambangan dan pembangugan perkebunan kelapa sawit maka terjadi kerusakan hutan dan bajir pun melanda. Atas perizinan Negara dan kelalaian pemerintah dalam pengontrolan penambangan pemeirntah harus bertanggung jawab untuk mengganti rugi kerugian, terlebih nyawa-nyawa yang melayang di sana.

Orang Papua dalam kemanusiaan turut berduka yang mendalam atas saudara-saudari, orang-orang tidak berdosa yang terkena dampak banjir dan meninggal dunia. Semoga mereka mendapatkan keadilan dan mendapatkan pembelaan hukum yang tepat. Semoga daerah-daerah lain yang menjadi incaran untuk pembukaan kebun kelapa sawit juga penambangan liar, dapat dipikirkan dan dipertimbangkan ulang dalam perizinan, juga rakyat setempat berdikari untuk menolaknya.

Post Views: 382
Tags: Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan
Previous Post

Pemuda di Dogiyai Tolak Pasokan Sayur dari Nabire, Minta Berlaku Mulai 1 Januari 2026

Next Post

DPRD Kabupaten Dogiyai Gelar Sidang Paripurna Pembahasan RAPBD 2026

Redaksi

Redaksi

Next Post

DPRD Kabupaten Dogiyai Gelar Sidang Paripurna Pembahasan RAPBD 2026

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2024 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2024 All rights reserved