Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
“Memang uang bukan segalanya, namun untuk memiliki segalanya butuh uang.” Slogan ini bukan membangun opini untuk mengatakan “uang adalah satu-satunya kebutuhan primer” dalam kehidupan manusia. Ketika manusia membuat gradasi nilai antara uang dan segala hal lain untuk mempertahankan dan sekaligus melangsungkan kehidupan manusia, pada akhirnya uang bukan menjadi yang terutama dan bahkan satu-satunya. Dalam konteks Papua butuh pandangan yang benar tentang uang, sehingga uang jangan menjadi pencarian paling akhir atau tujuan terutama dari hidup manusia. Apa tujuan hidup manusia? Bagaimana manusia memandang dan sekaligus menggunakan uang? Bagaimana mencari dan mendatangkan uang? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi premis-premis dalam menamukan konklusi untuk mengafirmasi uang pada tempatnya.
Uang
Uang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) dapat diartikan sebagai alat tukar atau standar pengukur nilai (kesatuan hitungan) yang sah, dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara berupa kertas, emas, perak, atau logam lain yang dicetak dengan bentuk dan gambar tertentu. Sedangkan, “beruang” artinya orang yang memiliki uang. Yang paling inti, uang adalah “alat tukar”, atau “sarana transaksi.”
Alasan Uang bukan Segalanya
Dikatakan uang bukan segalanya karena masih ada hal yang lebih penting dan lebih utama dari uang. Bahwa uang hanyalah alat, sarana yang ada untuk memawa atau mengantarkan kepada tujuan hidup manusia. Frase, “membutuhkan uang untuk beli segalanya” seolah “mendewakan uang”, semacam ” tanpa uang tidak ada kehidupan”, atau “kehidupan ada karena ada uang.”
Pemahaman yang keliru tentang uang, mengatakan “uang adalah segalanya”, sekurang-kurangnya telah membunuh spirit perjuangan dan lebih dari itu, membunuh kodrat dan jiwa manusia sendiri. Semua orang berbondong mencari uang siang dan malam tanpa kenal lelah dan secara radikal, bahkan mengorbankan diri demi uang. Di sini, butuh pencerahan terhadap rakyat tentang cara memperoleh uang secara halal dan sekaligus cara menggunakannya.
Uang bukan Tujuan Hidup
Tujuan utama manusia dihadirkan di dunia bukan pertama-tama untuk dan demi uang. Artinya, bukan berarti setelah mendapat uang, hidup berakhir di situ. Di sini jelas, uang bukan tujuan pencapaian hidup manusia, karena sekalipun mendapat uang bahkan hinggan triliunan tidak mati. Dengan demikian, dari sini jelas bahwa tujuan dari hidup adalah memperoleh hidup yang layak dan sekaligus membuat hidup menjadi lebih layak.
Ketika dikatakan uang bukan tujuan hidup, maka uang jangan menjadi satu-satunya kebutuhan primer, seolah jika tidak memiliki uang dunia runtuh. Demi hidup, mencari uang pun tidak semudah membalikkan telapak tangah. Uang tidak pernah jatuh sendiri dari langit tanpa kerja dan usaha. Mendapatkan uang butuh kerja dan usaha yang keras. Mendapatkan uang tanpa kerja adalah “haram”, bahkan “dosa”, terlebih bagi orang-orang mencari yang dengan cara yang tidak benar, yakni korupsi, kejahatan, penghianatan dan pengrusakan.
Manusia yang menjadikan uang sebagai tujuan, padahal hanyalah sarana untuk mencapai tujuan, mereka akan mendapatkan malapetaka dalam kehidupan. Uang kita pahami sebagai sarana maka dia hanya memiliki “makna” jika ditempatkan pada posisinya sebagai sarana, tidak lebih dari makna ini. Dia hanya makna kepengantaraan, mengantar orang untuk mendapatkan kesejahteraan, kebahagiaan dan kesuksesan, dan bukan sebaliknya.
Cara Halal Mencari Uang
Cara tepat dan bijak untuk mencari dan sekaligus mendapatkan yang adalah “kerja, usaha, berkeringat.” Dalam konteks Papua, tanah yang subur dan kekayaan alam yang melimpah mengundang setiap orang Papua untuk kerja dan berusaha. Mendapatkan uang yang halal hanya melalui “jalan perjuangan dan pengorbanan.” Untuk mendapatkan uang secara baik dan terhormat adalah bekerja.
Mencari dan mendapatkan uang dengan “palang-memalang, mencuri dan merampok, juga korupsi, menjual tanah dan mengambil denda dapat dikategorikan sebagai ‘uang haram, uang darah. Dengan memakan uang darah, hidup menjadi hancur dan masa depan menjadi kabur. Makan uang darah, uang haram, uang denda dan lainnya, pada akhirnya mendatangkan malapetaka dan kutukkan terhadap diri dan anak cucu.
Uang bukan Tuhan
Uang adalah sarana dan Tuhan adalah tujuan. Pernyataan ini memberikan secara tegas posisi uang. Termasuk dengan martabat manusia, uang menduduki posisi terendah, bahkan tak bernilai sekalipin miliaran atau triliunan. Memang manusia membutuhkan uang, namun bukan kebutuhan primer dan satu-satunya. Manusia kini uang salah dimaknai, bahkan menjadi acaman nyawa. Jika ada uang, orang mulai sombong dan tidak menetap diri.
Jika dibandingkan uang dan Tuhan, Tuhan harus didudukan pada posisi sentral, terpenting dan terutama. Tujuan utama manusia hidup adalah mencari dan sekaligua mendapatkan Tuhan, tinggal bersama Tuhan dan dalam kehidupan nyata. Tuhan harus menjadi yang pertama, terutmama, yang teratas dan paling mulia. Secara eksplisit dapat dikatakan bahwa “uang itu milik Tuhan, sebab segala sesuatu diciptakan diciptakan oleh Tuhan dan kembali kepada Tuhan sendiri.
Manusia sendiri memiliki martabat yang lebih mulia dari uang sendiri. Pesan butuh pemahaman bersama sehingga tidak hanya karena uang dan demi uang saling menjual, saling menghianati, saling merusak dan menhancurkan. Uang dimiliki untuk mengabdi manusia yang adalah tuan atas uang itu sendiri. Jangan demi uang, saling menjual, saling mengganggu dan saling membunuh.
Tanah Lebih Tinggi Nilai dari Uang
Berbicara tentang tanah berarti berbicara soal alam semesta (kosmos). Uang ada untuk merawat alam, bukan sebaliknya demi uang merusak alam, apalagi menjual tanah. Tanah tidak bisa dibeli dengan uang. Uang dapat rusak, sedangkan tanah tidak pernah rusak, bahkan bersifat kekekalan.
Dengan mengelola tanah uang akan datang sendirinya, sebaliknya dengan uang tidak pernah menciptakan tanah sejengkal pun. Uang dapat dicari, namun tanah tidak dapat dicari. Tanah memiliki ketersediaan yang terbatas.
Stop Jual Segalanya Demi Uang
Nilai dan martabat manusia lebih tinggi nilainya dengan uang. Demikian juga dengan tanah atau lingkungan alam. Uang bukan segalanya dan sebaliknya yang segalanya “hanya Tuhan.” Uang penya Tuhan dan siapa pun yang mencari Tuhan dengan penuh iman, Tuhan akan melimpahkan berkat berlimpah, tidak hanya uang tetapi juga kekayaan, kehormatan dan kebahagiaan. Uang harus diposisikan atau ditempatkan sebatas “sarana, alat, benda”, yang hanya membantu menolong manusia untuk manusia sampai ke tujuan.
Orang Papua yang menjual tanah demi uang, menjual sesama orang Papua demi uang, telah merendahkan martabat orang Papua, bahkan lebih bodoh dari binatang. Orang Papua yang mencari dan mendapatkan uang dengan palang-palang, mencuri, merampok, korupsi, intel, menjual tanah, hutan, dan lain-lainnya, telah menjadikan uang menjadi segalanya dan Tuhan dilupakan, bahkan dikhianati, seperti Yudas yang pernah menghianati-Nya.
Penulis adalah Dosen STK “TP” Deiyai, Keuskupan Timika