JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Ketua Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits B. Ramandey, menyoroti perbedaan tajam antara pernyataan resmi yang menyangkal adanya serangan terhadap honai dengan keterangan para korban yang melihat kejadian secara langsung.
Hal tersebut disampaikan Ramandey melalui keterangan video berdurasi 28 detik yang diterima awak media, Minggu [19/04].
Menurut Ramandey, kesaksian warga justru menunjukkan bahwa tindakan tersebut diduga dilakukan oleh anggota Satgas TNI yang bertugas di lokasi kejadian.
“Kesaksian sudah terbantahkan. Nah ini dilakukan oleh TNI Satgas yang bertugas di sana. Ini kesaksian termasuk kesaksian korban, mereka lihat secara langsung begitu,” ujar Ramandey dalam video tersebut.
Ia juga menyoroti pernyataan pihak Pangdam dan Kapendam yang menyatakan tidak ada serangan yang terjadi. Menurutnya, hal tersebut tidak sesuai dengan realitas di lapangan, terutama bagi masyarakat setempat yang memahami kondisi wilayah pegunungan.
“Udah biasa, tapi saya ingin mengatakan kalau pihak Pangdam, Kapendam yang mengatakan bahwa serangan ke honai itu tidak ada, dalam rumus orang gunung, terutama orang gunung, itu nggak mungkin,” tambahnya.
Kronologi dan Temuan Awal
Dalam temuan awal, Komnas HAM mencatat insiden bermula dari kontak senjata pada 13 April 2026, yang kemudian berlanjut dengan operasi lanjutan pada hari berikutnya di Pogama dan Kampung Kembru.
Salah satu korban, seorang ibu hamil enam bulan, mengaku tertembak tepat di depan honai dan melihat aparat berseragam loreng. Korban juga mengaku mendengar suara pesawat dan rentetan tembakan yang intens.
Desakan Penjelasan Resmi
Ramandei mendesak agar Panglima TNI memberikan penjelasan resmi terkait penugasan satgas di wilayah tersebut, serta dugaan penggunaan senjata dari udara yang mengarah ke permukiman warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lebih lanjut yang menjawab perbedaan versi antara pernyataan resmi dengan keterangan para saksi mata di lapangan.[*]