Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Konflik di Kapiraya sejatinya tidak perlu terjadi hingga mengorbankan rakyat kecil. Ketika suku Kamoro dan suku Mee mampu melihat dengan jernih dan secara jelih melihat persoalan ini, dua suku ini hanya diadudomba agar kepentingan pihak ketiga secara mulus masuk dan tidak menghadapi perlawanan. Kealpaan dari kedua suku ini adalah tidak secara bijak mendudukan persoalan dan terhasut oleh isu-isu murahan; mudah diperalat dan diadudomba tanpa analisa dan secara kritis mempertanyakan setiap bujukan yang membawa perpecahan dari kedua suku sebagai satu saudara, satu keluarga dan satu ras Papua.
Suku Kamoro Dan Suku Mee
Suku Kamoro yang kini menyebut diri “Mimikawe” dan suku Mee yang menyebut diri “Aniki Mee” adalah manusia sejati, pemilik hak ulayat Papua yang telah ada dan hidup di Papua pada umumnya dan khususnya di Kapiraya. Kedua suku ini telah ada dan hidup damai sebagai satu ras dan satu pulau yang disebut Papua jauh sebelum orang luar datang.
Sebelum kontak dengan orang luar atau orang pendatang entah datang dengan harapan dan kepentingan apa pun, dua suku ini telah hidup bersama dan mereka hidup harmoni. Orang Kamoro (Mimikawe) dengan budaya meramu sering berpindah-pindah tempat, namun orang Mee tidak pernah mengklaim atau merampas tanah adat suku Mimikawe. Demikian pula Suku Mee yang lebih mengenal budaya menetap dan tinggal di satu tempat selalu ada untuk menjaga tanah miliknya dari perampasan.
Saat belum ada orang luar termasuk pemerintah intervensi tanah adat di Kapiraya, Suku Mimikawe dan Suku Mee tidak pernah konflik, bahkan setingkat perang yang hingga mengorbankan harta benda hingga nyawa. Dalam kenyataan, Suku Kamoro atau Mimikawe dikenal dengan “Suku paling alim”, Suku yang suka Damai dan tidak pernah mencari masalah. Pertanyaannya, Mengapa saat ini terjadi perang di Kapiraya antara Suku Mimikawe dan suku Mee? Apakah konflik antara orang Mee dan Mimikawe murni karena tapal batas? Atau apakah ada pihak ketiga dengan kepentingannya: siapa mereka dan apa kepentingannya?
Mengungkap Rahasia Konspirasi Konflik Kapiraya
Pertanyaan mengapa konflik di Kapiraya antara Suku Mimikawe dan Suku Mee terjadi adalah dasar mencari dan sekaligus menemukan akar persoalan yang sedang terjadi di sana. Menurut pantauan jauh, sekaligus melalui pemberitaan media akar dari persoalan di Kapiraya sementara disimpulkan seperti berikut ini:
Pertama: Ada pihak ketiga bermain. Pihak ketiga yang dimaksud adalah kaum Oligarki, Penguasa (pengusaha) dan suku lain ikut campur. Pihak ketiga ini berusaha menciptakan konflik antar suku agar secara bebas dan tanpa perlawanan masuk melakukan pertambangan liar di sana.
Kedua: Ada indikasi menciptakan konflik horizontal. Suku Mimikawe dan Suku Mee adalah satu ras, satu pulau, satu keluarga dan saling bersaudara. Konflik yang diciptakan di Kapiraya memiliki indikasi “politik pecah belah”, yakni berindikasi menghancurkan kesatuan dan persatuan antara kedua suku ini yang sudah lama dibangun sejak orang pendatang ke Papua. Konflik ini hanya dibuat-buat supaya tercipta dan terbangun sikap benci, dendam dan permusuhan antara kedua suku asli Papua ini.
Ketiga: Ada indikasi pemusnahan etnis Melanesia. Konflik ini jika didekati dengan pikiran jernih dan hati yang dingin, ini hanya setingan pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk memusnahkan orang Papua. Setelah konflik horizontal diciptakan, terjadi Papua makan Papua, pada akhirnya, Papua bunuh Papua dan manusia Papua musnah di tanah sendiri. Rasa benci dan dendam yang dibangun kedua pihak bukan murni, namun hanya karena disetting dan dikondisikan oleh kaum pemodal, penguasa dan orang-orang yang punya kepentingan untuk mengambil alih tanah Papua.
Orang Mimikawe Dan Orang Mee Adalah Saudara
Persaudaraan orang Mimikawe dan orang Mee jangan dihancurkan karena kepentingan orang-orang tidak bertanggung jawab yang mau merampas hak ulayat orang Papua. Suku Mimikawe dan Suku Mee adalah sesama Papua. Rasa kepapuaan harus ditempatkan pada posisi teratas dari kepentingan semua, termasuk harus mampu melawan segala hasutan dan rayuan pihak ketiga yang hendak meluluhlantakkan jati diri yang telah lama dibangun.
Daerah Kapiraya harus dibangun kembali dari puing-puing kehancuran dan pengrusakan yang disetting orang-orang tidak bertanggung jawab yang menginginkan kehancuran dan pemusnahan orang Papua. Kesatuan, kekeluargaan, persaudaraan sebagai satu Papua harus menjadi yang utama dan pertama agar tidak distir (diatur) oleh orang lain yang berwajah malaikat namun berhati iblis.
Yang Tersisah Dari Kehancuran Tanah Kapiraya
Pihak suku Mimikawe maupun suku Mee, yang masih tersisa dari ujaran kejahatan, bahkan sampai penghancuran dan pembunuhan yang penuh keganasan dan kebencian adalah “perdamaian”. Semua kejahatan, kebencian, amarah dan permusuhan antara kedua suku tidak bisa berkepanjangan dan berlama-lama. Suku Mimikawe dan Suku Mee ambil waktu duduk sendiri juga duduk bersama untuk merenung dan meratap; anda yang gabung dalam permusuhan, pertikaian dan perang telah disetting oleh orang lain, pihak-pihak yang tidak ingin orang Papua hidup aman, tanah Papua tetap utuh dan mereka yang merencanakan orang Papua musnah. Dari semua itu, yang masih tersisa adalah bangun kembali rasa persaudaraan, kekeluargaan, kesatuan dan persatuan orang Papua yang sudah lama dibangun. Tokoh-tokoh adat suku Mimikawe tanpa melibatkan suku lain, tokoh-tokoh adat suku Mee tanpa melibatkan suku lain, duduk bersama dan meratap yang sampai pada perdamaian. Suku asli Kamoro dan suku ssli Mee duduk bersama dan melihat kembali secara bersama-sama dan menemukan bahwa anda sedang diadudomba demi kepentingan kaum Oligarki, pemerintah dan penguasa yang bertujuan merampas kekayaan alam anda dengan memasukan perusahan. Harapannya, suku Mimikawe dan Suku Mee bersatu dan hidup berdampingan menolak dan melawan orang tidak bertanggung jawab yang hendak merampas, merusak dan mengeksploitasi alam Papua.