Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Peringatan Otonomi Daerah ke-30, Bupati Dogiyai Tekankan Sinergi dan Efisiensi Anggaran

    Mahasiswa Independen Se-Sorong Raya sampaikan tuntutan HAM Papua, desak penyelesaian menyeluruh 

    TPNPB keluarkan warning ke Metro TV, bantah tuduhan pembunuhan warga sipil di Puncak

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

    Kelompok Tani Anak Muda Maju, DPW Tani Merdeka Papua Tengah tanam padi di Wanggar

    KOMNAS HAM  RI Publikasikan Hasil Pemantauan Enam Kasus Pelanggaran HAM di Papua

    Pemeriksaan BPK Selesai, Inspektorat Dogiyai Targetkan WTP

    Jalan Rusak Parah, Warga Mapia Barat Sampaikan Keluhan Saat Pemeriksaan BPK

    Menteri HAM: 15 Tewas 7 Luka, Jangan Bermain Opini, Proses Hukum Harus Segera

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

    Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Mahasiswa Independen Se-Sorong Raya sampaikan tuntutan HAM Papua, desak penyelesaian menyeluruh 

    TPNPB keluarkan warning ke Metro TV, bantah tuduhan pembunuhan warga sipil di Puncak

    KOMNAS HAM  RI Publikasikan Hasil Pemantauan Enam Kasus Pelanggaran HAM di Papua

    Konsolidasi terbuka KNPB: Papua dinilai  zona darurat militer, HAM dan kemanusiaan

    Menteri HAM: 15 Tewas 7 Luka, Jangan Bermain Opini, Proses Hukum Harus Segera

    Pemuda Katolik Dogiyai: Kunjungan Wapres ke Papua Tengah Dinilai Seremonial, Diduga Mengaburkan Pelanggaran HAM

    10 Warga Sipil Tewas, Mahasiswa Puncak di Gorontalo Desak Hentikan Operasi Militer

    Diduga Libatkan Satgas TNI, Komnas HAM Minta Panglima TNI Jelaskan Dugaan Serangan Udara ke Honai

    SRP Dogiyai Minta Masyarakat Tidak Terprovokasi Isu Hoaks, Tunggu Hasil Investigasi

  • Kesehatan

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

    Kabupaten Dogiyai Raih Penghargaan UHC Kategori Utama untuk Ketiga Kalinya

  • Lingkungan

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

    Kelompok Tani Anak Muda Maju, DPW Tani Merdeka Papua Tengah tanam padi di Wanggar

    Asrama Mahasiswa/i Kabupaten Paniai kota studi Nabire gelar pelantikan Badan Formatur 

    Komunitas Porter Paniai gelar evaluasi efektivitas layanan transportasi publik

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    Penyuluh Papua Tengah bagikan bibit bawang merah unggul ke Kabupaten Deiyai

    Forkopimda dan Masyarakat Dogiyai Sepakati Atasi Miras dan Penyakit Sosial, Instruksi Resmi Keluar Besok

    Bupati Dogiyai Ajak Masyarakat Tangani Penyakit Sosial

    Deiyai dan Dogiyai Desak Mimika Berkolaborasi Tangani Konflik Horizontal di Kapiraya

  • Pendidikan

    Atas nama Bupati, Kadinsos Paniai resmikan TK-PAUD YPK Betlehem Madi, Pemerintah tekankan pentingnya pendidikan usia dini

    IPM-IDAKI Nabire Resmi Terbentuk, Paulus Deba Pimpin Organisasi Pelajar Idadagi Kigamani

    STK Touye Paapaa Deiyai Lepas Mahasiswa PKL, Diharapkan Jadi Guru Profesional

    Pamkab Dogiyai Buka Pendaftaran Beasiswa Afirmasi dan Program Baru Beasiswa Aimin

    SMK Karel Gobai Bagikan Seragam Sekolah, Tanamkan Semangat Disiplin dan Motivasi Belajar

    Kisah Inspiratif: Ev. Dr. Yefri Edowai Raih S3 Lewat Perjuangan Mandiri

    Sekolah Dasar di Paniai Gelar MBG untuk Siswa

    BEM STAK Nabire Gelar Seminar Nasional dan Pelatihan Jurnalistik, Wakil Ketua III Resmi Membuka Kegiatan

    SD YPPK Santo Yohanes Terima Fasilitas Pembelajaran, Target Hentikan Nyontek dan Tingkatkan Kreativitas

  • Religi

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

    Tim Penegak Daa dan Diyodou Rayakan Ulang Tahun ke-12

    Ketua Panitia MUSPASME VIII Tegaskan Kesiapan Sukseskan Musyawarah Pastoral Mee ke-VIII di Komopa

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

by Aleks Waine
3 Maret 2026
in Artikel Opini, Papua

Marius Goo, penulis opini yang menyoroti konflik di Kapiraya dan mendesak kaum intelektual untuk berperan aktif dalam menyatukan kembali suku Kamoro dan Mee. - (Foto Istimewa)

0
SHARES
39
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Slogan “Saudara itu Abadi!” atau “Keluarga itu Abadi!” kerap digaungkan dalam berbagai bentuk, baik verbal maupun non-verbal, di media sosial maupun kehidupan nyata. Namun, ironisnya, kasus konflik di Kapiraya justru menunjukkan perpecahan di antara saudara sebangsa. Penting untuk memastikan bahwa kepentingan semu dari pihak-pihak tertentu tidak membenturkan suku-suku asli Papua. Untuk menjaga persatuan dan keutuhan, langkah strategis dan konkret harus diambil, terutama oleh kaum intelektual suku Kamoro dan suku Mee, agar tidak menjadi korban pihak-pihak yang menginginkan kemusnahan bagi orang Papua.

Memahami Makna Persaudaraan Antara Suku Kamoro dan Mee

Bagi suku Kamoro dan suku Mee, istilah “saudara” memiliki makna mendalam sebagai “saudara kandung jauh.” Kedua suku ini diyakini berasal dari “rahim” yang sama, yakni Papua, dan memiliki hak kesulungan atas tanah Papua. Persaudaraan ini bukan didasari oleh kepentingan ekonomi, kekuasaan, atau jabatan, melainkan karena kodrat yang dianugerahkan Tuhan: memiliki satu tanah (Papua), ras yang sama (Melanesia), serta kesamaan fisik seperti rambut dan warna kulit. Kesamaan dan persatuan ini seharusnya tidak tercerai-berai oleh kepentingan sesaat.

Lebih jauh, persaudaraan suku Kamoro dan suku Mee juga dipahami dalam perspektif “saudara seperjuangan,” “saudara sepenanggungan,” atau “saudara senasib.” Mereka memiliki sejarah dan keturunan yang sama, menjadikan ikatan kekeluargaan ini yang paling dekat dan intim. Suku-suku lain, apalagi dari bangsa dan pulau yang berbeda, seringkali hadir demi kepentingan tertentu yang bersifat semu dan sementara.

Kesatuan dan kesamaan sejarah, keturunan, pengalaman, serta ras antara suku Kamoro dan suku Mee adalah kodrat yang tak terpecahkan oleh siapa pun. Kesadaran ini perlu dibangun untuk melawan pihak-pihak yang tidak menginginkan manusia Papua hidup aman di atas tanah leluhur mereka.

Peran Intelektual Kamoro dan Mee dalam Mendamaikan

Kaum cendekiawan atau intelektual dari kedua suku ini memiliki peran krusial. Seharusnya, ketika persoalan di Kapiraya ini didudukan pada tempatnya, konflik dapat dihindari. Jika kedua suku duduk bersama dan menyuarakan “Papua Bukan Tanah Kosong,” tidak menyerahkan atau menjual tanah secara sembarangan kepada pendatang, investor, penambang, atau perusahaan, masalah ini mungkin tidak akan terjadi.

Kaum terpelajar dari suku Kamoro dan suku Mee bertanggung jawab untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat. Kealpaan kaum intelektual ini dapat mengorbankan rakyat kecil dan tanah adat. Masyarakat Kamoro dan Mee yang berpendidikan harus berpartisipasi aktif dalam memberikan pencerahan mengenai situasi dan mencari solusi perdamaian untuk membangun kembali kehidupan sebagai satu keluarga Papua.

Bagi kaum intelektual atau tokoh adat yang terbukti diperalat oleh pihak ketiga—perusahaan dan pemerintah yang mengharapkan kehancuran rakyat Papua—perlu ada refleksi. Pihak-pihak yang menghasut masyarakat demi kepentingan pribadi, menciptakan peperangan, pertikaian, dan konflik berkepanjangan, layak mendapatkan kutukan dari alam Papua. Sebaliknya, kaum intelektual yang aktif membangun kesadaran dan mencari solusi perdamaian akan diberkati.

Mengungkap Musuh Sejati di Balik Konflik Kapiraya

Konflik di Kapiraya sebenarnya tidak perlu terjadi. Sejak dahulu kala, nenek moyang suku Kamoro dan suku Mee telah hidup berdampingan, saling membantu, bahkan saling menikah. Konflik ini muncul karena kepentingan pihak tertentu yang dapat diidentifikasi sebagai “musuh” bagi kedua suku:

1. Oknum Suku Kamoro atau Mee: Pihak yang menerima imbalan finansial dan menghasut masyarakat yang tidak paham untuk berperang, memicu konflik berkepanjangan di antara suku-suku asli.
2. Perusahaan atau Pertambangan Emas: Untuk memuluskan eksploitasi sumber daya, suku-suku asli diadu domba. Mereka mengorbankan rakyat kecil demi emas. Seringkali, aparat keamanan juga memihak investor untuk menekan masyarakat agar aktivitas pertambangan berjalan lancar.
3. Pemerintah: Pihak yang memberikan izin tanpa sepengetahuan masyarakat setempat, atau yang tidak mengambil langkah tegas terhadap penambang liar, sehingga menciptakan pembiaran konflik.

Langkah Konkret Mengatasi Konflik di Kapiraya

Untuk mengatasi dan mengakhiri konflik di Kapiraya, beberapa langkah konkret perlu diambil:

1. Membangun Kesadaran: Kedua suku yang bertikai harus menyadari bahwa mereka sedang dipermainkan oleh pihak ketiga (perusahaan, pertambangan, dan pemerintah yang abai).
2. Dialog Antarsuku: Tokoh intelektual suku Kamoro dan suku Mee harus duduk bersama masyarakat masing-masing untuk memberikan penyadaran, lalu mempertemukan kedua belah pihak secara kekeluargaan. Seruan untuk “meninggalkan alat perang” dan “membuang emosi” harus digaungkan, menyelesaikan masalah dengan “kepala dingin dan hati penuh kasih” sebagai satu keluarga Papua.
3. Menahan Diri dan Menolak Permainan Pihak Ketiga: Baik suku Kamoro maupun suku Mee perlu “menahan diri,” mempelajari “permainan pihak ketiga” dengan cermat, dan “menolak secara tegas” campur tangan tersebut. Mereka harus menyatakan bahwa sebagai manusia Papua, mereka tidak ingin diadu domba di atas tanah leluhur mereka.
4. Menjunjung Tinggi Nilai Budaya: Hidup sebagai saudara yang penuh kasih dengan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya luhur dari leluhur kedua suku, serta seluruh suku bangsa di Tanah Papua.
5. Rekonsiliasi Spiritual: Kedua suku duduk bersama untuk berdoa (rekonsiliasi) dan mengutuk semua pihak yang mempermainkan tanah Kapiraya, pemilik tanah Kapiraya, Mimikawe, dan Mepago (secara umum seluruh tanah Papua). Melalui kebersamaan dalam berjalan, makan, tinggal, berkebun, berburu, memancing, dan menikmati pinang, mereka dapat menerima berkat Tuhan yang berlimpah untuk menjaga tanah warisan leluhur dengan penuh tanggung jawab.

Baca Juga:

Pemeriksaan BPK Selesai, Inspektorat Dogiyai Targetkan WTP

Jalan Rusak Parah, Warga Mapia Barat Sampaikan Keluhan Saat Pemeriksaan BPK

Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

Disiplin Masuk Kerja & Larangan Miras, Sorotan Apel Pagi Distrik Kamuu Selatan

Ketika persaudaraan antara suku Kamoro dan suku Mee diakui dan dihidupi kembali, masalah dapat selesai. Namun, konflik ini terjadi atau diciptakan karena persaudaraan ini “diadu domba” oleh pihak ketiga yang ingin menguasai tanah Papua dengan memusnahkan orang Papua. Jika kedua suku ini menyadari dan bersatu sebagai saudara, pihak ketiga hanya akan menjadi “pajangan” tanpa makna, bukan lagi “dalang” yang menari di atas penderitaan.

Penulis adalah Dosen STT Deiyai, Marius Goo

Editor: Yan A

Post Views: 524
Tags: IntelektualKamoro dan MeeKapirayaMarius Goomenyoroti konflikPapua Tengah
Previous Post

Dispora Mimika Pastikan Kesiapan Liga 4 Piala Gubernur Papua Tengah, Sambut 7 Tim Peserta

Next Post

Biro HAM Klasis Debei Sesalkan Penghadangan Tim Harmonisasi di Kapiraya, Polisi Dinilai Lalai

Aleks Waine

Aleks Waine

Jurnalis Papua

BERITA TERKAIT

Papua

Peringatan Otonomi Daerah ke-30, Bupati Dogiyai Tekankan Sinergi dan Efisiensi Anggaran

18 menit ago
Hukum HAM

Mahasiswa Independen Se-Sorong Raya sampaikan tuntutan HAM Papua, desak penyelesaian menyeluruh 

35 menit ago
Hukum HAM

TPNPB keluarkan warning ke Metro TV, bantah tuduhan pembunuhan warga sipil di Puncak

24 jam ago
Lingkungan

Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

2 hari ago
Berita

Kelompok Tani Anak Muda Maju, DPW Tani Merdeka Papua Tengah tanam padi di Wanggar

2 hari ago
Berita

KOMNAS HAM  RI Publikasikan Hasil Pemantauan Enam Kasus Pelanggaran HAM di Papua

3 hari ago
Next Post

Biro HAM Klasis Debei Sesalkan Penghadangan Tim Harmonisasi di Kapiraya, Polisi Dinilai Lalai

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved