MAKASSAR, JELATANEWSPAPUA.COM – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Konsulat Wilayah Makassar menggelar diskusi refleksi dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-15. Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi terhadap perjalanan perjuangan KNPB selama 15 tahun di tanah kolonial.
Dalam keterangan pers yang diterima Jelatanewspapua.com pada Kamis (25/07), KNPB menyatakan tetap eksis dan hadir sebagai media penyalur suara rakyat Papua. Meskipun berada dalam ancaman, mereka tetap teguh melawan ketidakadilan.
Diskusi ini menghasilkan 11 poin sikap dan tuntutan politik yang ditegaskan dalam pernyataan resmi mereka. Tuntutan ini menjadi bentuk respons terhadap situasi politik yang dihadapi rakyat Papua.
Pertama, Hentikan teror dan intimidasi terhadap mahasiswa Papua di Makassar dan di seluruh Idonesia.
Kedua, Hentikan segala bentuk izin perusahaan di seluruh tanah Papua
Ketiga, Segera buka ruang demokrasi di seluruh indonesia dan di tanah Papua
Keempat, Bebaskan seluruh tahanan politik Papua merdeka
Kelima, Stop rasis terhadap mahasiswa Papua
Keenam, Segera tarik militer organik maupun non organik di seluruh tanah Papua.
Ketujuh, hentikan pelanggaran HAM dan segera adili pelaku pelanggaran HAM di atas tanah Papua.
Kedelapan, Ijinkan jurnalis asing untuk masuk ke Papua
Kesembilan, Negara indonesia stop mengkambing hitamkan KNPB.
Kesepuluh, Berikan perlindungan hukum terhadap pengungsis di beberap daerah konflik di Papua.
Kesebelas, Indonesia segera memberikan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratif bagi bangsa Papua barat.
Melalui momentum peringatan ini, KNPB juga mengucapkan selamat ulang tahun ke-15 kepada seluruh konsulat di Indonesia. Mereka tetap berkomitmen memperjuangkan hak-hak dasar rakyat Papua di tengah tekanan dan penindasan struktural.
“Kami hadir sebagai cahaya dan penghubung suara rakyat Papua,” tegas Jeck Matuan, juru bicara KNPB Konsulat Makassar.
“Sejarah akan mencatat perjuangan ini melalui mereka yang berani, “terangnya.
Seruan semangat disampaikan pada akhir pernyataan mereka, sebagai bentuk keberpihakan kepada mahasiswa, perempuan, dan rakyat Papua.
“Hidup Mahasiswa, Hidup Perempuan, Hidup Orang Papua, Salam Revolusi – Kita Harus Mengakhiri,” tutup Jeck.