oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Membina semangat juang berkatian dengan membina mental atau batin (iman) setiap individu. “Hendaklah kita menjadi malaikat agar dapat meluhurkan ide-ide yang kita terima. Paling tidak hendaknya kita menjadi manusia dan mengubah makanan kita menjadi otot-otot yang kuat atau menjadi otak yang tajam untuk memahami misteri Allah dan dapat memuji Allah. orang yang memiliki semangat juang adalah bekerja tanpa mengenal lelah. Menaklukkan dirinya dan memiliki rencana (tujuan atau program) hidup yang akan membuatnya untuk mampu menghayati kehidupan yang penuh makna ini. Kalau tidak memiliki rencana sekaligus semangat juang, tidak akan dapat melakukan sesuatu yang berharga. Jangan bersifat pesimis, namun bangun sikap optimis yang didukung oleh iman. Kaum pejuang ingat hal ini, setan begitu sering datang dengan kedok kemuliaan dan bahkan kedok kerohanian.” (Josemaria Escriva, 2015, 120-123). Namun jangan takluk padanya, namun lampauilah dengan penuh iman dan penuh dedikasi, itu semua akan terjadi jika otak dibentuk dengan pendidikan yang bermutu.
Pendidikan
Hidup tanpa pendidikan akan tercipta binatang-binatang bebentuk manusia, yang tidak memiliki akal sehat, yang tidak memiliki moralitas dan religiositas. Dalam usaha pembinaan terhadap akal budi (pendidikan karakter) juga moral dan pembinaan iman, pendidikan memiliki peranan yang sangat besar dan posisi strategis yang tak tergantikan.
Melalui pendidikan setiap individu diproses atau dibentuk kepribadiannya menjadi manusia utuh dan tanggung, manusia yang tidak hanya berani menghadapi tantangan dan mengambil resiko atas perjuangan, namun lebih daripada itu memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Segala sesuatu dikerjakan dalam kesatuan dan perpaduan antara berani dan mampu, sehingga perjuangan memili target dan selalu kena pada sasaran secara konteks (parsiap), namun juga secara menyeluruh (holistik). Termasuk pendidik sendiri yang sisakralkan dan diyakini mengandung nilai-nilai kebajikan tersebut ternyata mengandung penindasan. (Mansour Fakih, 2002, x).
Membina
Membina searti dengan membangun atau mendirikan. Mengupayakan sesuatu menjadi lebih baik. Dalam konteks pendidikan, membina berarti membentuk karakter dan kepribadian seseorang, atau membangun kepribadian seseorang menjadi lebih utuh dan sempurna. Proses pembinaan memiliki waktu yang panjang bahkan seumur hidup tanpa henti. Karena itu, setiap orang yang dibina dapat menaklukan diri (menyangkal diri) dan terbuka dan fokus pada rencana dan mimpi-mimpi yang lebih besar dan mulia.
Kata “pembinaan” merupakan suatu proses yang membantuk individu melalui usahanya dalam rangka menemukan dan mengembangkan kemampuannya dengan tujuan memperoleh kebahagian bagi dirinya juga orang lain. Pembinaan mencakup segala daya upaya atau usaha perbaikan. Pembinaan dalam lingkungan masyarakat memiliki fungsi yang sangat baik untuk mengarahkan tingkah laku masyarakat menjadi lebih maju. (Miftah Thoha, 1993:7). Pembinaan sebagai usaha (proses) untuk mempertahankan sekaligus menyempurnakan apa saja yang telah ada sesuai dengan yang diharapkan. (M. Manullang, 1995:9).
Membina dapat diartikan juga sebagaikan usakan perbaikan atau upaya pengembangan sesuatu, seseorang atau sekelompok orang menjadi lebih berkembang maju. Upaya pembinaan dilakukan oleh orang-orang terbina atau kompeten terhadap yang dibina, peserta binaan agar kepribadian terbina, baik secara fisik, psikis (mental), intelektual (kejiwaan), kemanusiaan juga kerohanian.
Pembinaan Semangat
Pembinaan semangat bisa berarti juga pembangungan semangat. Berbicara tentang semagat tidak lain adalah berbicara tentang kejiwaan, yakni soal daya dorong dari dalam dan punya kekuatan (inner power). Inner power adalah kekuatan batin atau kekuatan dari dalam diri seseorang untuk mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bertindak.
Semangat itu melambangkan harapan dan kehidupan. Pribadi yang bersemangat memiliki daya dorong dan kekuatan penuh dalam kehidupan. Orang yang berjiwa besar atau orang yang memiliki masa depan selalu memiliki semangat hidup yang tinggi. Mereka memiliki kepekaan dan kemampuan menilai situasi, sekaligus memiliki daya imaginasi, kereasi dan inovasi dalam membangun dan memberdayakan hidup.
Pembinaan semangat lebih tepat disebut dengan pembinaan atau pendidikan psikologi. Yakni menyentuh unsur kejiwaan atau kebatinan seseorang. Pembinaan semangat adalah membangunkan pribadi-pribadi yang terlihat hidup secara fisik, bersemangat secara lahiriah, namun secara kejiwaan tersiksa, tertekan, tertidur, bahkan mati.
Pembinaan semangat berkaitan pula dengan pembinaan kemanusiaan: usaha memanusiakan manusia. Artinya, membuat sadar bagi individu-individu yang secara tubuh fisik manusia namun berkelakukan bukan manusia. Membina mereka yang bertubuh manusia tapi tidak menghidupi manusia secara integral: ditemui kerapuhan-kerapuhan atau kekosongan-kekosongan di bagian-bagian tertentu, sehingga hidup dalam akar yang tidak kuat dan tidak punya kepastian.
Membina Semangat Juang
Di daerah koloni, biasanya penjajah memukul mental atau kejiwaan supaya tidak sepenuhnya hidup dan berkembang sebagai manusia. Ketika mental dibunuh , kodrat kemanusiaan hilang, karena dikendalikan oleh sikap dan perilaku kebinatangan, bahkan terpuruk dan terpojok dari kompetisi kehidupan manusia di dunia.
Mental dihilangkan oleh penjajah agar tidak dapat tumbuh sebagai manusia utuh. Di sinilah sebagai seorang manusia martabat direndahkan , bahkan disetarakan dengan binatang, atau lebih daripada itu adalah benda-benda mati yang tak memiliki arti. Apalagi kaum terjajah sendiri keenakan dan bahagia dalam settingan musuh yang tidak ingin bangkit dan berkembang. Kebiasaan kaum lemah menerima kenyataan kelemahan sebagai nasib dan takdir dari Pencipta, ketidakmampuan sebagai kutukan, kemiskinan tidak dapat diperbaiki, keputusasaan adalah manusiawi dan wajar dan ketidakberdayaan adalah hal yang wajar, karena itu pasrah dan menyerah pada kondisi-kondisi ketidakmanusiawian, akhirnya tidak menemukan jalan-jalan baru yang lebih baik dan lebih bermartabat.
Membina semangat juang dimulai dari pendidikan. Melalui proses studi setiap pribadi akan dirangsang otaknya sehingga jiwanya terbangun (terdidik) dan bangkit untuk melangkah mencapai mimpi-mimpi yang dikubur kaum penjajah dalam kebohongan dan pembodohan. Upaya pembohongan dan pembodohan yang dilakukan baik secara tersistem maupun tidak, baik secara sengaja maupun tidak, baik secara lansung maupun tidak, semuanya bertujuang membunuh semangat juang, demi kekuaasaan, ketamakan dan kepentingan kaum oligarki (penguasa).
Orang yang berpendidikan atau orang yang memiliki ilmu pengetahuan memiliki harapan hidup, memiliki semangat juang yang tinggi, tidak pernah mengenal kata “pasrah” dan “menyerah” atau “putus asa”. Mereka yang memiliki daya tahan, daya juang dan semangat pengorban pada dasarnya memiliki besik pengetahuan yang benar dan telah melalui proses pendidikan secara utuh dan tidak parsial. Orang yang berpendidikan akan menjadi malaikat-malaikat pelindung dan penjaga dari pembodohan dan sekaligus penganiayaan: menjadi malaikat-malaikat yang menuntun kepada kemerdekaan dan keselamatan. Mereka adalah pahlawan, kaum patriot yang membebaskan manusia dari belenggu ketidaksadaran, ketidakberdayaan dan pasrah buta: kalah sebelum masuk ke medang perang (juang).
Penutup
Jiwa yang terolah melalui pendidikan mampu mengkritisi, menganalisa dan sekaligus menemukan jalan-jalan kehidupan dan keselamatan. Jiwa yang tersentuh pendidikan mampu melihat dan membedakan tipu daya muslihat dan penipuan, dapat melihat kehadiran penjahat serigala berbulu domba, setan berkedok (berpakaian) kerohanian. Mereka adalah malaikat-malaikat yang menuntun jiwa-jiwa yang layu dan mati menemukan sumber-sumber (jalan-jalan) kehidupan di dunia ini dan di dunia lain nanti.
Kepustakaan
Josemaria Escriva, 2015. Domino: Jalan, Obor, Jakarta.
Mansour Fakih, “Ideologi-Ideologi dalam Pendidikan, Pusaka Pelajar, Jakarta.
Manullang, M. 1995. Dasar-Dasar Manajemen. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Miftah Thoha, 1993. Pembinaan Organisasi Proses Diagnosa dan Intervensi, PT.Grafindo Persada, Jakarta.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika