NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM — Perjalanan pendidikan sering kali menjadi kisah panjang yang dipenuhi tantangan, pengorbanan, dan ketekunan. Bagi Ev. Dr. Yefri Edowai, S.T., M.T., M.M., M.Th., D.Th., D.Mn.P, perjalanan menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor (S3) bukanlah sesuatu yang diraih dengan mudah ataupun dengan dukungan fasilitas yang melimpah. Justru sebaliknya, semua proses tersebut dilalui melalui kerja keras, kedisiplinan, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan.
Dalam refleksi pengalaman hidupnya, Yefri Edowai mengungkapkan rasa bangganya karena seluruh perjalanan pendidikannya dari jenjang awal hingga tingkat doktoral ditempuh tanpa bergantung pada bantuan pemerintah maupun dana Otonomi Khusus (Otsus). Semua proses itu dijalani melalui usaha pribadi, ketekunan, serta dukungan keluarga dan iman kepada Tuhan.
Menurutnya, kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi merupakan anugerah yang tidak dimiliki semua orang. Terlebih bagi banyak generasi muda di Tanah Papua yang masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi ekonomi, akses pendidikan, maupun infrastruktur.
Kesadaran tersebut membuatnya memandang pendidikan bukan sekadar kebutuhan pribadi, melainkan sebuah panggilan untuk berjuang dan memberi makna bagi kehidupan yang lebih luas.
Dalam perjalanan akademiknya, Yefri Edowai berhasil menyelesaikan berbagai jenjang pendidikan tinggi, mulai dari sarjana (S1), kemudian melanjutkan ke program magister (S2) dengan beberapa bidang studi, yakni Magister Manajemen, Magister Teknik Industri, serta Teologi. Tidak berhenti di situ, ia juga menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) pada dua bidang, yakni Doktor Manajemen Pendidikan dan Doktor Teologi.
Namun perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ia mengakui bahwa tantangan terbesar yang sering dihadapi bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga keterbatasan finansial yang kerap menjadi hambatan utama bagi banyak mahasiswa.
“Banyak kali saya harus bekerja sambil kuliah, mengatur keuangan secara disiplin, bahkan menunda berbagai kebutuhan pribadi demi memastikan biaya pendidikan tetap terpenuhi,” ungkapnya Ev. Dr. Yefri Edowai diterima media ini, Minggu (15/03/2026).
Meski tidak mendapatkan bantuan pemerintah, ia menegaskan bahwa dirinya tidak berjalan sendiri. Dukungan keluarga, ketekunan pribadi, serta iman kepada Tuhan menjadi kekuatan utama yang menuntunnya melewati setiap proses pendidikan.
Perjalanan panjang tersebut juga mengajarkan arti kemandirian yang sesungguhnya. Menurutnya, kemandirian bukan hanya soal kemampuan membiayai diri sendiri, tetapi juga keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan hidup dan masa depan.
Setiap semester yang berhasil dilalui, setiap penelitian yang diselesaikan, hingga setiap gelar yang diraih bukan hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga simbol dari keteguhan hati dan komitmen terhadap masa depan.
Dalam konteks kehidupan di Tanah Papua, pengalaman tersebut memiliki makna yang lebih luas. Ia menilai banyak anak muda Papua memiliki potensi besar, namun sering kali merasa bahwa pendidikan tinggi hanya dapat dicapai jika ada bantuan besar dari luar.
Pengalaman pribadinya justru menunjukkan bahwa bantuan memang penting, tetapi semangat perjuangan pribadi tetap menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan seseorang.
“Tanpa semangat itu, bantuan apa pun tidak akan menghasilkan perubahan yang berarti. Sebaliknya, dengan tekad yang kuat, seseorang tetap bisa maju meskipun menghadapi berbagai keterbatasan,” katanya.
Lebih jauh, pendidikan menurutnya bukan sekadar alat untuk meningkatkan status sosial. Ilmu pengetahuan harus memiliki makna yang lebih luas, yakni memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia memandang pendidikan sebagai sarana untuk melayani masyarakat, memperjuangkan keadilan, dan menjadi suara bagi mereka yang sering kali tidak terdengar.
Dalam perjalanan akademiknya, ia juga menghadapi berbagai ujian mental dan spiritual. Rasa lelah, keraguan, bahkan pertanyaan tentang kelanjutan perjuangan sering muncul. Namun dalam situasi tersebut, iman kepada Tuhan menjadi sumber kekuatan yang menuntunnya untuk terus melangkah.
Ia percaya bahwa setiap proses kehidupan memiliki makna, dan setiap perjuangan yang dilakukan dengan tujuan yang benar tidak akan pernah sia-sia.
Proses panjang tersebut juga membentuk karakter yang kuat dalam dirinya. Ia belajar tentang kesabaran, disiplin, ketekunan, serta pentingnya menjaga kerendahan hati dalam setiap pencapaian.
Menurutnya, gelar akademik bukanlah tujuan akhir dari sebuah perjalanan pendidikan. Gelar hanyalah simbol, sedangkan proses perjuangan di baliknya adalah pengalaman hidup yang membentuk identitas dan karakter seseorang.
Bagi Yefri Edowai, kebanggaan terbesar bukanlah pada gelar S1, S2, atau S3 yang berhasil diraih, melainkan pada proses perjuangan yang menyertainya.
Pengalaman tersebut juga menjadi pesan bagi generasi muda, khususnya di Tanah Papua, bahwa pendidikan memang membutuhkan waktu, biaya, dan kerja keras, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai.
Dengan tekad yang kuat, kerja keras, serta iman kepada Tuhan, setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Ia berharap kisah perjuangannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Papua agar terus berani bermimpi, bekerja keras, dan tidak menyerah pada keterbatasan keadaan.
“Bangga atas perjuangan sendiri bukanlah kesombongan, tetapi ungkapan syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui. Dengan kerja keras, ketekunan, dan pertolongan Tuhan, seseorang dapat mencapai hal-hal besar bahkan ketika harus berjalan dengan kekuatan sendiri,” tutupnya.
Penulis : Ev. Dr. Yefri Edowai
Editor : Derek Kobepa