JAYAWIJAYA, JELATANEWSPAPUA.COM – Sebuah peristiwa budaya bersejarah akan segera digelar di tanah Papua Pegunungan. Enam sekolah adat Hugulama memastikan pelaksanaan Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I Tahun 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 2–31 Januari 2026 di Kampung Yogonima, Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya.
Festival ini mengusung tema “Membangun Pagar Kehidupan Orang Hugula”, sebuah pesan moral yang lahir dari kegelisahan masyarakat adat Hugulama terhadap perubahan zaman yang kian mengikis jati diri mereka.
Dalam release pers (25/9/2025) di Jayawijaya, Papua Pegunungan, Sekolah Adat Hugulama menyebutkan enam sekolah adat yang terlibat tersebar di tiga distrik. Dari Distrik Itlay-Hisage ada Sekolah Adat Santo Yohanis Pembaptis I Yogonima, Sekolah Adat Santo Yohanis Pembaptis II Sumunikama, dan Sekolah Adat Sagesalo Lukaken.
Dari Distrik Siep-Kosi, Jayawijaya ada Sekolah Adat Sekan dan Sekolah Adat Sekan Dalam, sementara Distrik Walelagama diwakili oleh Sekolah Adat Walelagama. Keterlibatan seluruh sekolah adat ini menandakan adanya komitmen bersama untuk menjaga dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur.
Lebih lanjut, pemilihan tema festival bukan tanpa alasan. Dalam keterangan pers yang diterima Jelatanewspapua.com (27/9/2025), inisiator yang juga pengurus Sekolah Adat Hugulama Melkias Walilo menyebut bahwa pagar kehidupan orang Hugula kini rapuh akibat derasnya arus globalisasi dan pergeseran nilai.
“Pagar kehidupan itu bukan hanya pagar fisik, tetapi mencakup mentalitas, moralitas, spiritualitas, dan idealisme hidup orang Hugula. Semua itu sedang terancam hilang,” ujar Melkias Walilo, Ketua Sekolah Adat Sekan di Kampung Sekan, Distrik Siep Kosi.
Selain itu, kegelisahan ini sejatinya pernah disampaikan oleh Pastor Frans Lieshout OFM, seorang rohaniwan yang lama berkarya di tanah Hugulama. Sebelum meninggalkan wilayah itu, ia kerap mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kebudayaan Hugula yang mulai terkikis.
Fenomena yang muncul, Nehemia Lagowan menekankan ,beberapa tahun terakhir menjadi sinyal kuat lunturnya penggunaan busana tradisional, maraknya tindak pencurian dan kekerasan, hingga perdebatan soal nilai budaya di media sosial. Semua itu dianggap sebagai tanda pagar kehidupan yang runtuh.
“Sekolah adat bukanlah solusi tunggal, tapi inilah jalan sederhana yang kami pilih untuk memperbaiki pagar kehidupan yang rusak,” tambah Nehemia Lagowan, Ketua Sekolah Adat Sagesalo di Kampung Lukaken.
Panitia Festival mengatakan kegiatan ini akan berlangsung selama sebulan penuh dengan menghadirkan kuliner tradisional, lagu asli, busana adat Hugula, dan atraksi budaya.
Para siswa sekolah adat akan mengikuti berbagai lomba tradisional seperti membangun rumah adat (pilamo, lesema, ewuma), membuat pagar, membuka kebun, serta menganyam noken, sali, yokal, walimo, hingga suesi.
Selain itu, permainan tradisional yang jarang diketahui publik juga akan ditampilkan kembali, sebagai cara untuk mengingatkan generasi muda akan akar budaya mereka. Tak kalah penting, festival ini juga menghadirkan lomba penulisan cerita rakyat, puisi, dan karya sastra rakyat lainnya.
Semua karya akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari tokoh adat, pemerintah, gereja, akademisi, dan pemerhati budaya.
“Anak-anak harus belajar bahwa budaya mereka bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi jalan hidup. Melalui lomba ini, mereka bisa memahami sekaligus mempraktikkan nilai yang diwariskan leluhur,” jelas Ambros Haluk, Ketua Sekolah Adat Walelagama.
Panitia berharap festival ini dapat didukung oleh berbagai pihak. Harapan besar ditujukan kepada Keuskupan Jayapura Dekenat Pegunungan Tengah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Persekutuan Gereja-Gereja Jayawijaya (PGGJ), pemerintah daerah, LSM, hingga Lembaga Masyarakat Adat (LMA).
“Kehadiran semua pihak akan menjadi kehormatan besar bagi kami. Lebih dari sekadar menyukseskan festival, ini adalah langkah bersama untuk membangun kembali pagar kehidupan orang Hugula yang rusak,” tegas panitia.
Harapan dan Tantangan ke Depan
Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I bukan sekadar pesta budaya. Ia merupakan ruang refleksi kolektif apakah pagar kehidupan orang Hugula masih bisa diperbaiki? Apakah generasi mendatang masih memiliki harapan untuk menjaga identitas mereka?
Bagi masyarakat Hugula, jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya terletak pada seremonial, tetapi pada komitmen bersama untuk menata ulang kehidupan. Festival ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan, tempat orang Hugula menyatukan tekad agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi.
“Festival ini adalah sejarah baru bagi orang Hugula. Ia akan menjadi penanda bahwa kita tidak menyerah terhadap zaman, tetapi tetap berdiri dengan budaya kita sendiri,” tutup Melkias Walilo.
Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I akan berlangsung di Kampung Yogonima, Distrik Itlay Hisage, Kabupaten Jayawijaya, pada 2–31 Januari 2026. Panitia membuka ruang partisipasi luas bagi masyarakat, pemerintah, lembaga adat, maupun gereja untuk turut mendukung perhelatan budaya ini.