Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Bupati Dogiyai Kecewa dengan Standar Festival Kopi Papua Tengah

    Bupati Tebai: Kopi Dogiyai Potensi Terbesar Papua Tengah, Siap Dikembangkan Secara Berkelanjutan

    TPNPB-OPM Laporkan Pergerakan TNI di Paniai, Sampaikan Peringatan

    Dua Rumah Ibadah dan Rumah Warga Terbakar, Bantuan BTT Mulai Disalurkan

    Perjalanan Pembangunan Gereja Idakebo: Pengorbanan Umat dan Harapan Goa Maria

    Pembangunan Minimarket dan Bantuan Sembako, Langkah Dinas Koperasi Dogiyai Kembangkan Ekonomi Pro-Rakyat

    Panitia Penutupan Pelayanan Departemen Pemuda KINGMI Periode 2021-2026 Dilantik di Enarotali

    LPPL Yuyu Kominfo FM 107,7 MHz Mulai Diberi Pelatihan Penyiaran

    Kepala Distrik Kamuu Selatan Tegaskan Kedisiplinan & Pengisian E-Kinerja ASN

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Dari Dosa kepada Keselamatan dalam Perspektif Soteriologi

    Distrack for Hip-hop Merauke “pesta Babi”

    Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    TPNPB-OPM Laporkan Pergerakan TNI di Paniai, Sampaikan Peringatan

    Maybrat Berdarah Jelang 17 Agustus: YKKMP Negara Buka Fakta Minta Tiga Warga Sipil Terluka

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    IPMI-J Jayapura Dukung Aksi GPMI di Nabire, Desak DPR Papua Tengah Segera Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa

    Mahasiswa Papua di Makassar Desak Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM dan Dorong Dialog untuk Intan Jaya

    Dua Anggota TPNPB dan Seorang Warga Sipil Tewas dalam Operasi Militer di Yahukimo 

    IPMADO Dogiyai Tuntut Hentikan Militerisasi Pasca 5 Warga Tewas

    IPMADO: Kehadiran Militer Picu Ketakutan dan Lumpuhkan Aktivitas Warga Dogiyai

    Forum Solidaritas Mahasiswa di Gorontalo Serukan Perlindungan Warga Sipil dan Dialog Damai untuk Papua

  • Kesehatan

    Selamatkan Anak Negeri Paniai! KPA Gelar Sosialisasi Kepada Sahabat 06 Meepago Korwil Panai Diajak Cegah HIV/AIDS

    KPA Paniai Edukasi Ratusan Siswa SMP Negeri 1 Aradide tentang Pencegahan HIV/AIDS

    Adinkes Papua Tengah Perkuat Kemitraan PP-ATM di Paniai, Dorong Sinergi Lintas Sektor hingga Tingkat Kampung

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Ratusan Siswa Baru SMA Negeri 1 Paniai

    KPA Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Mudika Paroki Kristus Jaya Komopa, Tekankan Edukasi dan Hapus Stigma

    KPA Paniai Kembali Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS di Jemaat Maranatha Klasis Agadide

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Training Tutor, Membangun Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

  • Lingkungan

    Distrack for Hip-hop Merauke “pesta Babi”

    Masyarakat Paniai Himbau Hentikan Pembakaran Hutan, Siap Serahkan Pelanggar ke Jalur Hukum

    Porter Yonii Paniai Apresiasi Kepedulian Bupati Yampit Nawipa, Minta Sekretariat Resmi untuk Tingkatkan Pelayanan

    Intelektual dan Mahasiswa Distrik Fajar Timur Gelar Konsolidasi Perdana, Bahas Persiapan MUBES Ke-II

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Pemkab Nabire atas Bantuan Bibit Jagung bagi Petani

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Rapat Panitia Persiapan Training Tutor AIDS

    DPW Tani Merdeka Papua Tengah Sosialisasi dan Tinjau Sektor Perikanan di Paniai

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

  • Pendidikan

    Mahasiswa Afirmasi ADIK-ADEM Asal Intan Jaya Desak Pemkab Segera Cairkan Beasiswa, Sampaikan Delapan Tuntutan

    Kabid TK-PAUD Paniai: Sebanyak 515 Siswa dari 31 TK dan PAUD Telah Menyelesaikan Pendidikan Tahun Ajaran 2026

    Ketua BEM STAK Nabire Ajak Ratusan MABA 2026 Pahami Aturan Akademik dan Budaya Disiplin

    Di MPLS SMAN 2 Dogiyai, Kepala Distrik Kamuu Ajarkan Pemimpin Melayani

    TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru, Pendidikan Berkualitas Tanpa Dipungut Biaya

    TK Negeri Kagama Resmi Tamatkan 8 Siswa, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Negeri Ekadide Resmi Tamatkan 19 Siswa, Siapkan Generasi Emas Paniai

    17 Siswa TK Efata Kugitadi Resmi Ditamatkan, Kepala Sekolah Tekankan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

    TK Negeri Bobamo Gelar Penamatan, Kabid TK-Paud Apresiasi Dewan Guru dan Orang Tua 

  • Religi

    Bupati Dogiyai Serahkan Bantuan BTT, Dua Rumah Ibadah Terbakar di Mapia Tengah Siap Dibangun Kembali

    Perjalanan Pembangunan Gereja Idakebo: Pengorbanan Umat dan Harapan Goa Maria

    Gedung Gereja Paroki Idakebo Diresmikan, Bupati Tebai: Infrastruktur Rohani Penjaga Kedamaian

    Panitia Penutupan Pelayanan Departemen Pemuda KINGMI Periode 2021-2026 Dilantik di Enarotali

    Panitia HUT Merangkap Natal 2026 Pos PI Maranatha Resmi Dilantik, Begini Pesan Hamba Tuhan

    Ketua Klasis Debei Letakkan Batu Pertama Rumah Pastori Jemaat Anugrah Dadimani

    Orang Muda Katolik Tulang Punggung Gereja, KYD Jadi Sarana Pembinaan Berkelanjutan

    Tutup KYD ke-5: Orang Muda Katolik Diminta Miliki Iman Militan dan Optimis

    OMK Diajak Hidupkan Budaya dan Iman Atasi Penyakit Sosial di Dogiyai

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Luka di Tanah Kami: Serpihan Kisah Pengungsian di Tanah Papua

by Redaksi
9 Juli 2025
in Artikel Opini, Hukum HAM
0
SHARES
109
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Agustinus A. Dogomo*

Tanah yang dulu tenang kini jadi ladang kenangan luka. Sejak 1963, ketika bendera Bintang Kejora diturunkan dan digantikan Merah Putih, guncangan besar menggoyahkan akar-akar damai di tanah Papua. Sejak saat itu, langkah kaki rakyat Papua bukan lagi menuju pesta adat, melainkan pengungsian, pelarian dari senapan dan bayang-bayang rezim.

Jejak air mata menetes dari Pegunungan Tengah hingga pesisir Selatan. Pada tahun 1984, lebih dari 10.000 orang Papua melintasi batas negara menuju Papua Nugini, tepatnya ke daerah Black Wara. Mereka tidak membawa koper, hanya luka dan mimpi tentang rumah yang telah direnggut. Peristiwa ini menyusul pembunuhan budayawan Arnold Clemens Ap dan pembubaran grup musik Mambesak, simbol perlawanan kultural yang ditakuti penguasa (Human Rights Watch, 1984).

Di kamp-kamp pengungsian seperti Vanimo dan Kiunga, anak-anak tumbuh tanpa mengenal bangku sekolah. Mereka tahu arti kata “lari”, “sembunyi”, dan “diam saat malam tiba”. Di balik dedaunan sagu dan tangis perempuan, generasi tanpa tanah belajar menyebut hutan sebagai rumah. Negara berubah menjadi batas hidup dan mati.

Intan Jaya menjadi salah satu babak baru dari drama panjang ini. Pada 2020, lebih dari 8.000 warga sipil harus meninggalkan rumah mereka. Bentrok berkepanjangan antara TNI-Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) menghancurkan desa-desa. Rumah dibakar, gereja berubah jadi tempat perlindungan (Komnas HAM, 2020).

Di Nduga, sejak akhir 2018, lebih dari 45.000 jiwa tercerai-berai. Mereka mengungsi usai operasi militer besar-besaran menyusul penembakan pekerja Trans Papua. Anak-anak kehilangan ruang kelas, ibu-ibu melahirkan di hutan tempat pengusian, dan banyak yang mati dalam diam. Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua mencatat, ini adalah salah satu pengungsian terbesar sejak reformasi (YKKMP, 2019).

Maybrat pun ikut menorehkan luka. Tahun 2021, setelah penyerangan pos Koramil di Kisor, lebih dari 3.000 warga lari ke hutan dan tempat-tempat tersembunyi. Mereka menghindari gelap bukan karena takut hewan liar, tetapi karena bayangan tentara lebih mengerikan (Jaringan Damai Papua, 2021).

Di Pegunungan Bintang, sejak 2023, dentuman meriam dan raungan pesawat tempur membuat langit robek. Warga kampung Oksibil dan sekitarnya memilih meninggalkan rumah menuju hutan, mencari keselamatan yang belum tentu ada (Suara Papua, 2023).

Cerita ini bukan hanya milik hari ini. Pada 2000, Wamena menjadi lautan bara dan jeritan. Ribuan warga mengungsi setelah kerusuhan besar. Pasar dibakar, kepala retak, dan rumah-rumah berubah jadi abu (Elsham Papua, 2001).

Lanny Jaya mencatat kisahnya tahun 2014. Setelah aparat ditembak, operasi militer membuat 1.000 orang lari ke hutan. Desa berubah menjadi kota mati. Tak ada suara tifa, hanya helikopter yang berputar-putar di langit (Papua Legal Aid Institute, 2014).

Yahukimo pun tak luput. Tahun 2022, Distrik Kiwirok menjadi tempat hujan peluru. Hampir 5.000 orang mengungsi. Tangisan bayi ditahan, karena isak bisa berarti kematian (Amnesty International, 2022).

Tahun 1996, Mimika dikepung ketegangan. Operasi militer pasca penyanderaan Mapenduma membuat lebih dari 3.000 warga lari ke hutan. Banyak yang tidak pernah kembali. TAPOL mencatat bahwa warga sipil menjadi korban utama operasi tersebut (TAPOL, 1996).

Sentani di awal 1990-an juga menjadi tempat berkumpulnya pengungsi dari wilayah pegunungan dan pesisir. Danau Sentani, yang dulu memantulkan langit biru, kini mencerminkan rasa takut dan kelaparan (Kompas Arsip, 1993).

Sota, perbatasan selatan Merauke, menjadi rumah darurat bagi pengungsi yang datang sejak gelombang 1980-an. Rumah-rumah berdinding pelepah sagu berdiri tak tetap. Mereka tidak tahu harus menunggu siapa atau pulang ke mana (Red Cross PNG, 2005).

Di Dogiyai, pasca kerusuhan 2023, ribuan warga mengungsi ke kampung-kampung tetangga dan hutan. Mereka bukan pelaku kekerasan, namun diperlakukan seperti buruan (Komnas HAM Papua, 2023).

Baca Juga:

No Content Available

Asmat tahun 2017, dihantam konflik antar kelompok dan campur tangan aparat. Dua ribu orang memilih hidup di rawa dan hutan. Nyanyian adat berubah menjadi bisikan ketakutan (BBC Indonesia, 2017).

Fakfak tahun 2003, pasca bentrokan sektarian, ratusan orang memilih keluar dari kota. Mereka tidak ingin diadili karena keyakinan atau warna kulit (ICG Report, 2003).

Jayapura tahun 2019 menyaksikan gelombang pengungsi politik setelah demonstrasi besar. Mahasiswa dan keluarganya menghilang dari asrama. Kota menjadi tempat sembunyi, bukan tempat belajar (The Guardian, 2019).

Biak tahun 1998. Tragedi Biak Berdarah menyisakan ratusan pengungsi yang melarikan diri ke Waropen. Mereka tidak ingin dikenal sebagai korban, tapi sejarah tak bisa dihapus (Biak Massacre Report, 1999).

Dari 1984 hingga 2024, lebih dari 100.000 jiwa telah mengungsi dari tanah kelahirannya sendiri. Ini bukan migrasi biasa, ini adalah pelarian dari peluru dan pengkhianatan negara. Data-data ini diperoleh dari berbagai sumber: Human Rights Watch, Komnas HAM, TAPOL, Amnesty International, Papua Legal Aid Institute, BBC Indonesia, The Guardian, Elsham, dan lembaga-lembaga lokal Papua.

Anak-anak di kamp pengungsian menggambar rumah dengan warna hitam. Bukan karena tak punya krayon, tapi karena tak tahu warna rumah mereka. Seorang perempuan tua memegang noken kosong, berharap hari ini bisa pulang dan membawa sesuatu. Tapi yang ia dapatkan hanya cerita-cerita sedih dari yang baru datang.

Di Papua, pengungsian bukan sekadar perpindahan fisik. Itu adalah pelarian spiritual. Mereka membawa serta bahasa, adat, ingatan, dan harapan. Sungai tahu cerita mereka. Batu-batu menyimpan doa yang tertahan. Pohon-pohon menjadi saksi bisu air mata yang tak pernah kering.

Papua menangis, tapi dunia hanya mendengar desir angin. Mereka melihat gambar-gambar di layar, tapi tak membaca makna di baliknya. Kampung-kampung yang dulu ramai, kini kembali jadi hutan.

Dan ketika seorang pengungsi di PNG berkata, “Saya lahir di tanah orang, mati pun mungkin di sini. Tapi roh saya, tetap pulang ke gunung”, kalimat itu menjadi puisi tak selesai. Sebab, sejarah pengungsian di Papua bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tapi tentang siapa yang dilupakan.

Penulis adalah Masyarakat yang tinggal di Dogiyai.

Views: 1,826
Tags: Luka di Tanah Kami: Serpihan Kisah Pengungsian di Tanah Papua
Previous Post

Rapat Perdana Distrik Kamuu Selatan, Plt. Kepala Distrik Tekankan Disiplin dan Loyalitas ASN

Next Post

Kadin Kebudayaan dan Pariwisata Dogiyai: DPA Harus Digunakan Cerdas dan Jujur

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Hukum HAM

TPNPB-OPM Laporkan Pergerakan TNI di Paniai, Sampaikan Peringatan

7 hari ago
Artikel Opini

Dari Dosa kepada Keselamatan dalam Perspektif Soteriologi

2 minggu ago
Artikel Opini

Distrack for Hip-hop Merauke “pesta Babi”

2 bulan ago
Hukum HAM

Maybrat Berdarah Jelang 17 Agustus: YKKMP Negara Buka Fakta Minta Tiga Warga Sipil Terluka

3 bulan ago
Hukum HAM

Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

3 bulan ago
Berita

IPMI-J Jayapura Dukung Aksi GPMI di Nabire, Desak DPR Papua Tengah Segera Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa

3 bulan ago
Next Post

Kadin Kebudayaan dan Pariwisata Dogiyai: DPA Harus Digunakan Cerdas dan Jujur

Please login to join discussion

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved