Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Dalam perhubungan sesama manusia, diperlukan nilai. Begitu pun dalam hubungan manusia dengan alam semesta. Sadar atau pun tidak sadar setiap saat manusia cenderung melakukan penilaian. Namun, pada dasarnya ruang lingkup pengertian “nilai” tidak terbatas. Nilai selalu memiliki universalitas dalam usaha melindungi manusia dari perbuatan menghancurkan kehidupan manusia. Di dunia dewasa ini, dengan aneka perkembangan dan kemajuan, masuk tamak dan rakus hingga melupakan atau menghilangkan nilai-nilai yang menjadi dasar bangunan manusia. Akankah nilai pulang kembali kepada manusia untuk dapat hidup selayaknya manusia?
Ketamakan atau Keserakahan
Tamak atau ketamakan adalah sikap yang selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri karena keserakahan, terlebih demi harta duniwi atau kekayaan duniawi. Selalu berkeingingan untuk memperoleh harga sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan orang lain. Selalu berlaku curang demi harta kekayaan.
Sikap tamak muncul dalam wajah-wajah oligarki, kapitalisme , kolonialisme dan imperialisme:
Pertama, oligarki adalah pemerintahan atau penguasaan yang dijalankan oleh beberapa orang yang lebih berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. Oligarki capital atau kelompok individu yang menggunakan kekayaan dalam membentuk kebijakan politik dan memilih pejabat publik. Kaum oligarki menjalankan kekuasaan semena-mena menghancurkan kekayaan demi meraup keuntungan kelompoknya.
Kedua, kapitalisme adalah paham atau sistem ekonomi (perekonomian) yang modalnya (penanaman modal atau kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau modale perusahaan swasta degnan ciri persaingan dalam pasaran bebas.. Kaum kapitalis atau kaum bermodal yang disebut dengan kaum borjuis hadir untuk menintas kaum lemah, atau proletar. Kaum plorelariat atau kauum lapisan sosial yang paling rendah. Mereka adalah golongan buru yang menghidupi hidup dari menjual tenaga karena tidak memiliki alat produksi.
Ketiga, kolonialisme adalah paham tentang penguasaan atau penjajahan oleh Negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksu untuk memperluas negaranya. Kaum kolonialis mempraktekan sikap menjajah dengan aneka cara dan sistem secara terstruktur dan sistemik, sering mereka yang dijajah dibuat seperti bukan manusia dengan mencabut akar-akar kehidupan-nya.
Keempat, imperialisme adalah sistem atau paham politik yang bertujuan menjajah Negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan lebih besar dalam bidang ekonomi, bisnis dan perdagangan. Kaum imperialis hadir sebagai penguasa dengan iming-iming pembangunan dan pemberdasaan, kesejahtaraan dan kesetaraan dengan maksud terselubung, yakni penjajahan dan perbudakan. Imperialisasi dapat terjadi melalui budaya, yakni kebudayaan asing yang lebih kuat mendominasi golongan amsyarakat lemah sehingga warganya kehilangan identitas kultural; atau juga imperialisme linguistic, yakni dominasi satu bahasa atas bahasa lain (terutama dominasi dari bahasa nasional terhadap bahasa lokal atau daerah).
Sikap tamak yang tertampak dan hadir dalam wajah-wajah oligarki: kapitalis dan kolonialis dan imperialisasi merendahkan nilai manusia yang luhur. Dalam kebiasaan mengutamakan ketamakan, sering nilai manusia dilihat atau dipandang sama dengan alat-alat produksi, bahkan benda-benda atau binatang-binatang yang menjadi sarana untuk mendapatkan keuntungan.
Kebiasaan hidup yang lebih mengutamakan ketamakan, sikap ego, serakah dan ingin menguasai daerah lain, orang lain bertumbuh subur. Mereka menciptakan hiburan-hiburan palsu, memberikan harapan-harapan palsu dan selalu mencari cara untuk membuat kaum terjajah, kaum proletariat dan kaum minoritas tak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa: sehingga menciptakan ketergantungan dan sikap pobia yang berlebihan agar selalu ada di bawah kekuasaan dan selalu tunduk pada penguasa.
Di hadapan kaum tamak dan serakah segala sesuatu tidak diukur secara akonomis, hanya untung dan rugi. Relasi yang dibangun pun sebatas horizontal: menjadi baik jika memberikan keuntungan ekonomi dan menganggap rugi ketika tidak tidak menguntungkan secara ekonomis. Mereka lebih mementingkan money daripada man, atau lebih mengutamakan hidup ekonomi daripada hikmat-kebijaksanaan atau religiositas.
Tentang Nilai (Aksiologi)
Nilai memiliki arti yang beraneka, namun yang dimaksud di sini adalah nilai dalam arti sifat atau hal-hal yang peting atau berguna bagi kehidupan manusia. Nilai merupakan sikap atau kebiasaan yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakekatnya. Nilai lebih berhubungan erat dengan moraitas manusia.
Salah satu kebiasaan manusia yang menyelidiki tentang nilai adalah aklak atau budi pekerti. Biasanya ada tiga hal yang dapat ditemukan dalam aksiologi (value) adalah: tindakan moral, ekspreisi keindahan yang melahirkan estetika dan kehidupan sosial politik. Pada umumnya nilai-nilai berasal dan tergatung pada pandangan-pandangan idealisme dan realisme.
Berbicara tentang nilai selalu berkaitan erat dengan hal-hal supranatural atau adikodrati, juga senantiasa bersifat unicersal, abadi dan biasanya berdasrkan prinsip teologis. Yakni, pandangan tentang keluhuran manusia, bahwa manusia berasal dari Tuhan dan manusia memiliki nilai kedudukan tertinggi dari segala sesuatu. Nafsu ketamakan dan keserahkan sering membelenggu nilai manusia yang lebih tinggi.
Di dunia ini dalam prinsip nilai, manusia menduduki posisi tertinggi, karena itu sikap-sikap yang merusak atau menghancurkan, membodohi dan membohongi pribadi manusia harus dihindari dan ditinggalkan. Masyarakat menusia harus bersatu dalam usaha mendukung kodrat manusia sebagai tertinggi dari prinsip hidup duniawi yang lebih mengutamakan hal-hal sekular dan semu. Kerena itu nilai-nilai universal dalam usaha menghormati harkat dan martabat manusia harus dijunjung tinggi, misalnya: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, kejujuran, cinta kasih, kebaikan, dll. Nilai utilitarian tentang kebergunaan atau memiliki makna bagi kehidupan atau tidak selalu harus menjadi landasan dalam melangkah maupun bersikap.
Mengembalikan Nilai Yang Hilang Karena Tamak Di Papua
Setiap manusia bertugas untuk merawat nilai-nilai luhur, sebaliknya jika hilang berusaha untuk dicari dan ditemukan kembali. Manusia yang hidup tanpa nilai ibarat binatang yang berkeliaran tanpa akal budi dan kehendak; bahkan benda-benda mati yang tidak lain hanya pajangan dan perhiasan bumi agar terlihat indah dan tidak membosankan. Nilai-nilai keilahian (religioasitas) yakni menghormati atau mengabdi Allah, nilai-nilai humanitas yakni menghargai orang lain; nilai ekologis yakni menghormati keharmonisan dan keindahan, dll harus dihidupkan, sehingga memperlakukan manusia dan alam tidak sebatas untung dan rugi (ekonomis) melainkan pada essensinya sebagai makluk paling mulia.
Manusia Papua adalah makluk yang istimewa. Keistimewaannya adalah kepada orang Papua diberikan kekayaan alam yang melimpah. Semuanya diberikan agar manusia tidak berkekurangan dan menderita karena lapar, haus, dingin dan kehabisan. Dalam tanah Papua menyimpan makanan dan minuman (sumber-sumber kehidupan) agar tetap sehat dan kuat, tetap kenyang dan damai, aman dan bahagia melewati hari-hari hidup.
Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, nilai pondasi dari bangunan kehidupan. Bangunan kehidupan akan rubuh ketika dalam hidup tidak memiliki nilai. Yang bernilai tinggi di dunia atalah manusia. segala nilai ada untuk memuji Allah dan menghormati kemuliaan manusia. Demi menjaga kemuliaan manusia atau menghormati manusia sebagai makluk yang mulia, nilai-nilai hidup harus dirawat dan diwariskan turun-temurun.
Menjunjung tinggi nilai kehidupan dan keselamatan adalah kewajiban mutlak yang melekat pada setiap insan. Apa pun alasan, entah ekonomi, pembangungan, bisnis, nilai manusia tidak dapat disamakan dengan nilai uang: dalam hitungan untung rugi. Manusia harus mendapatkan perhatian penuh dan posisi sentral di atas segala kebutuhan dan ketamakan duniawi. Bahwa merusak alam sama artinya dengan merusak keharmonisan kosmologi, di mana manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam itu sendiri. Merusak alam Papua demi ketamakan dan kerusakan dunia, sama artinya dengan nilai kemanusiaan diinjak-injak hanya demi uang dan kehormatan duniawi.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika