YAHUKIMO,JELATANEWSPAPUA.COM- Seorang warga sipil bernama Victor B. Deyal dilaporkan meninggal dunia setelah ditangkap dan mengalami penganiayaan oleh aparat Polresta Yahukimo pada Rabu (03.09). Peristiwa ini kembali menimbulkan kekhawatiran tentang praktik kekerasan aparat dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Papua.
Peristiwa bermula sekitar pukul 07.30 WIT di kawasan pemukiman Jalur 1, Dekai. Victor ditangkap di depan Polsek Kota oleh sejumlah aparat kepolisian. Dalam proses penangkapan itu, ia sempat melakukan perlawanan, namun kemudian berhasil diamankan.
Setelah dibawa ke Polresta Yahukimo, Victor diduga mengalami pemukulan dan penyiksaan secara berulang. Keterangan keluarga menyebutkan bahwa ia diperlakukan dengan kasar meski sudah tidak memberikan perlawanan. Kejadian itu berlangsung di dalam kantor polisi hingga kondisi korban memburuk.
Keesokan harinya, sekitar pukul 06.00 WIT, keluarga menerima telepon dari pihak kepolisian. Mereka diminta datang ke RSUD Yahukimo untuk melihat kondisi Victor. Saat tiba di rumah sakit, keluarga mendapati bahwa Victor sudah meninggal dunia.
Kondisi jasad korban disebut penuh luka memar di hampir seluruh tubuh. Luka-luka tersebut menimbulkan dugaan kuat bahwa kematian Victor diakibatkan oleh tindakan kekerasan fisik yang dialami selama berada di kantor polisi.
Tragedi ini memicu duka dan kemarahan dari pihak keluarga maupun warga sekitar. Mereka menilai tindakan aparat telah melampaui batas kewenangan, serta melanggar hak dasar manusia untuk hidup dan diperlakukan secara adil di hadapan hukum.
Tuntutan agar kasus ini diusut secara tuntas segera menguat. Keluarga dan masyarakat mendesak agar kepolisian bertanggung jawab, serta semua aparat yang terlibat dalam dugaan penyiksaan dicopot dari jabatannya dan diproses hukum.
Kematian Victor B. Deyal menambah panjang daftar kasus dugaan kekerasan aparat di Papua. Peristiwa ini juga mempertegas kebutuhan akan mekanisme pengawasan yang ketat terhadap aparat keamanan, agar praktik penyalahgunaan kekuasaan tidak terus berulang.
Sejumlah pemerhati HAM menilai bahwa kasus seperti ini akan semakin memperdalam ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat negara. Mereka menekankan pentingnya penyelesaian kasus secara transparan agar keadilan bagi korban dan keluarganya dapat ditegakkan.
Tragedi di Yahukimo menjadi pengingat bahwa penyelesaian masalah keamanan di Papua tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan kekerasan. Tanpa akuntabilitas dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, situasi rentan menimbulkan luka sosial yang berkepanjangan bagi masyarakat.