PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Universitas Mataram menjadi sorotan setelah pemutaran film dokumenter Pesta Babi dibubarkan oleh pihak birokrat kampus pada Kamis, 7 Mei 2026. Pembubaran terjadi saat mahasiswa tengah mempersiapkan pemutaran film di area halaman kampus.
Menurut keterangan peserta dilansir dari (Indonesia Biru/Facebook), sejumlah mahasiswa mulai memasang layar dan menyiapkan perlengkapan pemutaran ketika petugas keamanan kampus datang menghentikan kegiatan tersebut. Beberapa layar disebut ditutupi oleh petugas, sementara proyektor dan laptop mahasiswa diawasi pihak rektorat.
Peserta kegiatan juga menyebut adanya sejumlah personel intelijen kepolisian dan TNI yang memantau situasi dari kejauhan selama proses pembubaran berlangsung.
Wakil Rektor III Universitas Mataram, Sujita, kemudian menemui para mahasiswa dan menyampaikan bahwa pemutaran film tidak diizinkan berlangsung di lingkungan kampus. Dalam keterangannya kepada peserta, ia menegaskan bahwa pihak kampus menolak kegiatan tersebut tanpa memberikan ruang pemutaran di area universitas.
“Tidak ada alasan, pokoknya tidak boleh menonton,” ujar Sujita di hadapan peserta.
Sujita juga mengaku telah menonton film tersebut. Menurutnya, isi film dinilai tidak pantas diputar di lingkungan kampus.
Meskipun dibubarkan, mahasiswa dan peserta nobar tetap melanjutkan pemutaran sekitar 50 meter di luar area kampus, tepatnya di sebuah kafe di sekitar Universitas Mataram. Ratusan penonton disebut hadir menyaksikan film hingga selesai, kemudian melanjutkan kegiatan dengan diskusi terbuka.
Sebelumnya, pemutaran film Pesta Babi di Universitas Pendidikan Mandalika pada 25 April 2026 juga dilaporkan sempat dibubarkan oleh pihak kepolisian.
Film dokumenter Pesta Babi sendiri telah diputar di lebih dari 500 titik di berbagai daerah di Indonesia. Pemutaran dilakukan di puluhan sekolah, ratusan kampus, komunitas masyarakat, hingga lembaga negara seperti Komnas HAM.
Film tersebut mengangkat kisah perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari berbagai proyek berskala besar yang dikaitkan dengan program “ketahanan pangan” dan “transisi energi”. Film ini juga menyoroti isu militerisasi serta sejarah panjang eksploitasi sumber daya di Papua.
Sejumlah komunitas dan jaringan solidaritas menyatakan pemutaran film akan terus dilakukan di berbagai daerah selama musim nonton bareng masih dibuka untuk publik.
“Kampus dan aparat keamanan membungkam ruang demokrasi dan kami juga di intimidasi, namun kegiatan ini kami akan tetap laksanakan di luar kampus,” ucap salah satu mahasiswa Universitas Mataram, yang juga salah satu peserta Nobar.