PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Yunus Eki Gobai, S.Kom., Gr, membawakan materi bertajuk “Tantangan Pelajar di Tengah Era Globalisasi” dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh Himpunan Pelajar dan Siswa-siswi Kabupaten Paniai (HP-SP), di Aula SMA YPPGI Enarotali, Dupiya, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Sabtu (16/05/2026).
Dalam pemaparannya, Yunus Eki Gobai menyoroti perkembangan teknologi dan media sosial yang kini menjadi bagian penting dalam kehidupan pelajar. Menurutnya, para siswa memiliki tanggung jawab untuk menggunakan media sosial secara dewasa dan bijaksana agar tidak mengganggu proses belajar.
Ia mengatakan, telepon genggam atau HP dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat bermanfaat apabila digunakan dengan benar. Menurutnya, teknologi saat ini membuka akses luas bagi pelajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan dari berbagai sumber di dunia.
“HP merupakan salah satu alat yang bisa dimanfaatkan pelajar untuk belajar, karena HP adalah perpustakaan dunia. Banyak pelajaran dan pengetahuan yang dapat diakses untuk mengasah keterampilan serta wawasan,” ujar Yunus Eki Gobai dalam materinya.
Selain itu, ia mengingatkan para pelajar agar mampu menyaring informasi yang beredar di media sosial maupun internet. Menurutnya, di era digital saat ini banyak informasi hoaks yang dapat mempengaruhi pola pikir generasi muda apabila tidak disikapi secara kritis.
“Seorang pelajar harus mampu membedakan antara fakta dan opini, serta lebih jeli memahami isu-isu yang belum tentu benar,” jelas ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Paniai.
Dalam seminar tersebut, Yunus Eki Gobai juga menyoroti penggunaan aplikasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di kalangan pelajar. Ia menilai penggunaan AI secara berlebihan dapat mempengaruhi karakter dan pola belajar siswa apabila dijadikan satu-satunya sumber dalam menyelesaikan tugas sekolah.
Menurutnya, kemudahan teknologi yang mampu menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan menit dapat mengurangi semangat belajar dan kemampuan berpikir kritis pelajar.
“Penggunaan aplikasi AI jangan sampai membunuh karakter seorang pelajar untuk belajar. AI tidak boleh dijadikan satu-satunya alat membantu tugas sekolah. Pelajar tetap harus membaca buku dan belajar sendiri agar kemampuan berpikir tetap berkembang,” tegasnya.
Mantan wartawan Kabarmapegaa.com itu juga mengajak para siswa agar melihat era globalisasi sebagai tantangan sekaligus peluang untuk berkembang. Ia menjelaskan bahwa perkembangan internet dan teknologi digital memudahkan pelajar untuk belajar hal-hal baru kapan saja dan di mana saja.
Menurutnya, dunia digital juga menyediakan banyak ruang kreatif bagi generasi muda, mulai dari membuat blog, konten foto dan video, hingga mengembangkan media informasi dan berita online.
“Era teknologi sekarang membuka peluang besar bagi pelajar untuk belajar dan berkarya. Dunia digital menyediakan banyak alat untuk mengekspresikan diri secara kreatif,” katanya.

Yunus menambahkan bahwa pelajar juga perlu memahami fungsi teknologi secara mendasar agar tidak hanya menjadi pengguna pasif media sosial. Ia menekankan bahwa teknologi harus dimanfaatkan untuk mendokumentasikan kegiatan, memperluas wawasan, serta membangun inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Teknologi membantu pelajar mendokumentasikan kegiatan dan mendapatkan inspirasi. Tetapi waktu menggunakan teknologi juga harus diatur. Tidak harus 12 jam menggunakan HP. Harus ada waktu belajar mandiri seperti membaca buku dan kegiatan lainnya,” ujar Ketua Komsos Paniai ini.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia itu menegaskan bahwa manusia harus mampu mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya. Menurutnya, pelajar perlu menggunakan teknologi secara seimbang agar tidak kehilangan fokus terhadap pendidikan dan pembentukan karakter.
“HP tidak bisa mengendalikan manusia, tetapi manusialah yang harus mengendalikan HP. Karena itu, teknologi harus digunakan seperlunya dan dimanfaatkan untuk pendidikan, informasi, dan pengembangan diri,” tutupnya.
Seminar sehari yang digelar HP-SP tersebut mendapat sambutan positif dari peserta karena dinilai memberikan pemahaman kepada pelajar mengenai tantangan dunia digital, pentingnya literasi informasi, serta penggunaan teknologi secara bijaksana di tengah perkembangan era globalisasi. (***)