DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Pemuda Katolik Komisariat Cabang (Komcab) Kabupaten Dogiyai menyampaikan sikap tegas mengutuk berbagai tindakan kekerasan yang kembali terjadi di wilayah Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Intan Jaya.
Pemuda Katolik Kab, Dogiyai menilai rentetan peristiwa itu telah mencederai nilai kemanusiaan, mengancam keamanan masyarakat sipil, serta menimbulkan trauma mendalam bagi warga.
Ketua Pemuda Katolik Komcab Dogiyai, Beny Goo, dalam keterangan pers yang disampaikan pada Senin (18/05), mendesak aparat keamanan dan penegak hukum segera mengusut tuntas seluruh kasus kekerasan yang terjadi dan memproses para pelaku sesuai hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Pemuda Katolik Komcab Dogiyai, peristiwa pertama yang mereka soroti adalah penembakan terhadap seorang pelajar SMA Negeri 2 Dogiyai bernama Nopison Tebai. Peristiwa itu disebut terjadi pada Minggu (10/05) lalu di wilayah perbatasan Kampung Idadagi dan Kampung Dogimani, Distrik Dogiyai, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.
Korban disebut meninggal dunia akibat tindakan penembakan yang diduga dilakukan oleh Tim Gabungan Operasi Damai Cartenz.
“Atas nama kemanusiaan, kami sangat menyesalkan dan mengutuk keras tindakan kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa seorang pelajar yang masih memiliki masa depan panjang,” demikian pernyataan resmi Pemuda Katolik Komcab Dogiyai.

PK menilai pendekatan keamanan yang menggunakan kekerasan terhadap warga sipil, terlebih terhadap seorang pelajar, tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Organisasi itu juga meminta agar negara hadir secara adil dan manusiawi dalam menangani persoalan keamanan di Papua.
Selain kasus penembakan di Dogiyai, Pemuda Katolik Komcab Dogiyai juga menyoroti peristiwa ledakan bom yang terjadi di halaman Gereja Paroki St. Paulus Pos Nabuni, Kampung Soali, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, pada Minggu (17/05). Peristiwa itu terjadi saat umat sedang berada di lingkungan gereja dan menyebabkan kepanikan di tengah masyarakat.
Dalam insiden tersebut, empat umat dilaporkan menjadi korban, yakni Pit Pogau, Robert Nabelau, Pius Pogau, dan Piter Nabelau. Para korban mengalami luka-luka dan trauma akibat ledakan yang terjadi di area gereja.
Pemuda Katolik Komcab Dogiyai menilai tindakan tersebut merupakan bentuk teror yang sangat berbahaya dan tidak manusiawi. Mereka menyebut dugaan sasaran utama dari aksi itu adalah Pastor Yance Yogi, Pr, namun ledakan justru mengenai umat sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian.
“Kami menilai tindakan ini merupakan bentuk teror terhadap gereja dan pastor, namun yang menjadi korban justru umat sipil yang tidak tahu-menahu dengan konflik apa pun. Ini sangat memprihatinkan dan melukai rasa kemanusiaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, organisasi kepemudaan Katolik itu meminta aparat keamanan dan penegak hukum melakukan penyelidikan secara terbuka, transparan, dan profesional agar masyarakat memperoleh kejelasan atas kedua peristiwa tersebut.
PK juga meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap situasi kemanusiaan yang terus terjadi di wilayah Papua Tengah.
Pemuda Katolik Komcab Dogiyai menegaskan bahwa masyarakat sipil, pelajar, tokoh agama, dan umat gereja harus mendapatkan perlindungan penuh dari negara. Mereka berharap tindakan kekerasan yang menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka tidak lagi terjadi di tanah Papua.
“Kami meminta pelaku pemboman diproses sesuai hukum yang berlaku dan meminta negara hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat sipil, gereja, pelajar, perempuan, dan anak-anak yang selama ini hidup dalam ketakutan,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Pemuda Katolik Komcab Dogiyai mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban di tengah situasi yang memanas. Lanjutnya,mengimbau warga agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar dan menyerukan pentingnya menjaga persaudaraan, persatuan, dan nilai-nilai kemanusiaan di Papua.
“Masyarakat harus tetap tenang, menjaga situasi tetap kondusif, serta menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang. Kita semua berharap perdamaian dan rasa aman dapat kembali dirasakan masyarakat di Dogiyai, Intan Jaya, dan seluruh Tanah Papua,” tutup pernyataan tersebut.