Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    KPK Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Terkait Kepabeanan di Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu

    Tiga Kampung di Distrik Kamuu Raih Penghargaan dalam Lomba Antar‑Kampung Kabupaten Dogiyai

    KNPB Sentani Serukan Konsolidasi dan Aksi Nasional 15 Agustus 2026 di Tanah Tabi Papua

    Bupati Dogiyai Buka Monev Dana Otsus dan DAK 2026

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    Abni Auwe Terima SK DPC PBB Dogiyai, Siap Penuhi Syarat Verifikasi Pemilu 2029

    KNPB Nabire Serahkan Surat Pemberitahuan Aksi Nasional kepada Polres Nabire dan MRP Papua Tengah

    Panitia Mubes II Fajar Timur Resmi Dibentuk, Siap Satukan Seluruh Elemen Masyarakat Adat

    DPW dan DPD Tani Merdeka Papua Tengah Dukung Don Muzakir Jadi Wakil Menteri Pertanian

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Maybrat Berdarah Jelang 17 Agustus: YKKMP Negara Buka Fakta Minta Tiga Warga Sipil Terluka

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    IPMI-J Jayapura Dukung Aksi GPMI di Nabire, Desak DPR Papua Tengah Segera Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa

    Mahasiswa Papua di Makassar Desak Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM dan Dorong Dialog untuk Intan Jaya

    Dua Anggota TPNPB dan Seorang Warga Sipil Tewas dalam Operasi Militer di Yahukimo 

    IPMADO Dogiyai Tuntut Hentikan Militerisasi Pasca 5 Warga Tewas

    IPMADO: Kehadiran Militer Picu Ketakutan dan Lumpuhkan Aktivitas Warga Dogiyai

    Forum Solidaritas Mahasiswa di Gorontalo Serukan Perlindungan Warga Sipil dan Dialog Damai untuk Papua

    YKKMP: Penembakan Pilot dan Pembakaran Pesawat di Yahukimo Bertentangan dengan Prinsip Hukum Humaniter Internasional

  • Kesehatan

    Selamatkan Anak Negeri Paniai! KPA Gelar Sosialisasi Kepada Sahabat 06 Meepago Korwil Panai Diajak Cegah HIV/AIDS

    KPA Paniai Edukasi Ratusan Siswa SMP Negeri 1 Aradide tentang Pencegahan HIV/AIDS

    Adinkes Papua Tengah Perkuat Kemitraan PP-ATM di Paniai, Dorong Sinergi Lintas Sektor hingga Tingkat Kampung

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Ratusan Siswa Baru SMA Negeri 1 Paniai

    KPA Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Mudika Paroki Kristus Jaya Komopa, Tekankan Edukasi dan Hapus Stigma

    KPA Paniai Kembali Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS di Jemaat Maranatha Klasis Agadide

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Training Tutor, Membangun Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

  • Lingkungan

    Masyarakat Paniai Himbau Hentikan Pembakaran Hutan, Siap Serahkan Pelanggar ke Jalur Hukum

    Porter Yonii Paniai Apresiasi Kepedulian Bupati Yampit Nawipa, Minta Sekretariat Resmi untuk Tingkatkan Pelayanan

    Intelektual dan Mahasiswa Distrik Fajar Timur Gelar Konsolidasi Perdana, Bahas Persiapan MUBES Ke-II

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Pemkab Nabire atas Bantuan Bibit Jagung bagi Petani

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Rapat Panitia Persiapan Training Tutor AIDS

    DPW Tani Merdeka Papua Tengah Sosialisasi dan Tinjau Sektor Perikanan di Paniai

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

  • Pendidikan

    Mahasiswa Afirmasi ADIK-ADEM Asal Intan Jaya Desak Pemkab Segera Cairkan Beasiswa, Sampaikan Delapan Tuntutan

    Kabid TK-PAUD Paniai: Sebanyak 515 Siswa dari 31 TK dan PAUD Telah Menyelesaikan Pendidikan Tahun Ajaran 2026

    Ketua BEM STAK Nabire Ajak Ratusan MABA 2026 Pahami Aturan Akademik dan Budaya Disiplin

    Di MPLS SMAN 2 Dogiyai, Kepala Distrik Kamuu Ajarkan Pemimpin Melayani

    TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru, Pendidikan Berkualitas Tanpa Dipungut Biaya

    TK Negeri Kagama Resmi Tamatkan 8 Siswa, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Negeri Ekadide Resmi Tamatkan 19 Siswa, Siapkan Generasi Emas Paniai

    17 Siswa TK Efata Kugitadi Resmi Ditamatkan, Kepala Sekolah Tekankan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

    TK Negeri Bobamo Gelar Penamatan, Kabid TK-Paud Apresiasi Dewan Guru dan Orang Tua 

  • Religi

    Panitia HUT Merangkap Natal 2026 Pos PI Maranatha Resmi Dilantik, Begini Pesan Hamba Tuhan

    Ketua Klasis Debei Letakkan Batu Pertama Rumah Pastori Jemaat Anugrah Dadimani

    Orang Muda Katolik Tulang Punggung Gereja, KYD Jadi Sarana Pembinaan Berkelanjutan

    Tutup KYD ke-5: Orang Muda Katolik Diminta Miliki Iman Militan dan Optimis

    OMK Diajak Hidupkan Budaya dan Iman Atasi Penyakit Sosial di Dogiyai

    Bangun Karakter Kuat, KYD 2026 Tekankan Nilai Kedamaian dan Keutuhan

    Komisi Kepemudaan: Datang ke Kamapi Youth Day, Pulang Harus Bawa “Hasil”

    Uskup Timika Buka Kamapi Youth Day 2026

    Misa Pembukaan KAMAPI Youth Day, Uskup Bernardus: Orang Muda adalah Aset Berharga

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

by Redaksi
23 Mei 2026
in Artikel Opini
0
SHARES
122
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Enatomapega Gobai

OPINI | Setiap kali sebuah peta wilayah baru digambar di atas meja-meja birokrasi yang jauh dari riuh angin gunung, selalu ada mantra yang dirapalkan dengan nada yang sama: kesejahteraan, pemendekan rentang kendali, dan percepatan pembangunan. Narasi ini seperti naskah kuno yang terus dibacakan berulang kali, dari satu wilayah ke wilayah lain, tanpa pernah direvisi isinya. Hari ini, naskah itu sedang dibacakan untuk wilayah yang hendak dinamai Kabupaten Moni. Di bawah panji pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB), masyarakat disodori sebuah janji tentang masa depan yang gemerlap, tentang kantor-kantor pemerintahan yang megah, tentang akses jalan yang mulus, dan tentang pundi-pundi rupiah yang seolah-olah akan mengalir ke kantong-kantong rakyat kecil.

Namun, mari kita duduk sejenak di bawah bayang-bayang pohon, menjauh dari kepulan asap knalpot mobil dinas dan retorika para politisi lokal, untuk merenungkan satu hal yang mendasar: sejak kapan pemekaran wilayah benar-benar menjadi obat penawar bagi luka-luka ketimpangan? Sejarah modern, terutama di tanah Papua, telah berulang kali mempertontonkan drama yang sama, di mana otonomi baru tidak lebih dari taktik pengalihan isu yang canggih. Ia adalah taktik penjinakan massa. Ketika rakyat mulai kritis mempertanyakan hak-hak dasarnya yang dirampas, mereka disuapi dengan struktur kekuasaan baru. Mereka dialihkan perhatiannya untuk memperebutkan kursi jabatan, anggaran daerah, dan proyek-proyek penunjukan langsung.

Dalam konteks Kabupaten Moni, tawaran DOB ini bukan urusan administratif. Ia adalah gejala dari penyakit yang lebih besar, keinginan kekuasaan yang berkelindan dengan kepentingan kapitalisme global yang lapar. Kita dipaksa untuk percaya bahwa tanpa menjadi kabupaten sendiri, kita akan selamanya tertinggal. Kita dikondisikan untuk merasa miskin dan tidak berdaya, sehingga ketika tawaran otonomi itu datang, kita akan menerimanya dengan tangan terbuka tanpa sempat memeriksa apa yang tersembunyi di balik jas rapi para pengusulnya. Ini adalah nalar jinak yang sengaja diproduksi untuk memastikan bahwa ketika operasi besar-besaran itu dimulai, tidak ada lagi suara sumbang yang mengganggu jalannya mesin-mesin pengeruk bumi.

Anatomi Udang di Balik Batu: DOB sebagai Karpet Merah Kapitalisme

Jika kita membedah anatomi politik-ekonomi di balik rencana pembentukan Kabupaten Moni, kita akan segera menyadari bahwa garis-garis batas wilayah yang baru itu tidak digambar berdasarkan kebutuhan sosiologis atau kultural masyarakat adat. Garis-garis itu digambar mengikuti koordinat-koordinat kandungan mineral yang mendekam di perut bumi. Otonomi baru dalam hal ini berfungsi tidak lebih dari “karpet merah” yang sengaja digelar untuk mempermudah, mempercepat, dan melegitimasi masuknya investasi skala besar yang selama ini tertahan oleh rumitnya koordinasi birokrasi di tingkat kabupaten induk.

Selama wilayah masih berada di bawah kendali kabupaten yang luas, korporasi sering kali menghadapi jalan berliku. Mereka harus menghadapi resistensi berlapis dari berbagai komunitas adat yang tersebar, serta birokrasi yang dianggap tidak efisien oleh nalar pasar. Dengan memecah wilayah tersebut menjadi sebuah kabupaten baru, Kabupaten Moni, maka pusat pengambilan keputusan didekatkan. Namun, penjelasannya dibalik: keputusan didekatkan bukan agar rakyat mudah mengadu, melainkan agar korporasi mudah mengetuk pintu ruang kerja bupati baru untuk mendapatkan tanda tangan perizinan. Pemerintah daerah yang baru lahir, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang masih tertatih-tatih dan ketergantungan yang tinggi pada dana perimbangan pusat, akan dengan sangat mudah didikte oleh para pemodal. Atas nama peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), investasi akan diposisikan sebagai tuhan baru yang tidak boleh ditolak.

Inilah jebakan struktural dari DOB yang sedang ditawarkan. Kita diajak merayakan lahirnya sebuah identitas politik baru, tanpa sadar bahwa di saat yang sama, kita sedang menyerahkan kunci gerbang rumah kita kepada pihak asing. Birokrasi baru yang dibentuk akan menjadi tameng bagi korporasi. Ketika konflik agraria terjadi di kemudian hari, yang akan berhadapan di lapangan bukan lagi masyarakat melawan korporasi langsung, melainkan masyarakat melawan aparat pemerintah daerahnya sendiri, saudara mereka sendiri yang kini mengenakan seragam dinas. Pemekaran wilayah, dengan demikian, adalah strategi pecah belah gaya baru yang sangat rapi, meminjam tangan anak daerah untuk menggusur tanah kelahirannya sendiri demi kenyamanan modal asing.

Pengorbanan Kosmologis: Nestapa Gunung Egeida dan Blok Wabu

Mari kita sebutkan nama-nama korban yang sudah masuk dalam daftar antrean pengorbanan ini dengan lantang: Gunung Egeida di Paniai dan Blok Wabu di Intan Jaya. Bagi mata seorang kapitalis atau birokrat yang bernalar teknokratis, Egeida dan Wabu hanyalah tumpukan angka-angka produk domestik regional bruto (PDRB) yang belum digali. Mereka melihat gunung-gunung itu sebagai kalkulasi tonase emas, tembaga, atau komoditas tambang lainnya yang siap dikonversi menjadi angka di lantai bursa saham. Mereka melihat bentang alam tersebut sebagai ruang kosong yang pasif, yang baru dianggap “bernilai” jika di atasnya telah berdiri menara-menara pengeruk, lubang-lubang raksasa, dan pabrik pengolahan limbah.

Namun, bagi masyarakat adat yang telah mendiami wilayah tersebut selama berabad-abad, sebelum negara ini mengenal batas-batas modern, Gunung Egeida dan Blok Wabu adalah ruang kosmologis yang sakral. Gunung bukan tumpukan batu dan tanah; ia adalah tiang penyangga langit, tempat bersemayamnya roh-roh leluhur, dan penjaga keseimbangan alam. Hutan yang menyelimutinya adalah pasar tradisional gratis yang menyediakan pangan, obat-obatan, dan bahan bangunan tanpa pernah menuntut bayaran. Sungai-sungai yang mengalir dari puncaknya adalah urat nadi kehidupan yang menyusui seluruh makhluk hidup.

Ketika Kabupaten Moni resmi berdiri dan operasi penambangan dimulai dengan mudah karena regulasi yang telah dijinakkan, apa yang akan terjadi pada Egeida dan Wabu? Jawabannya jelas dan mengerikan: mereka akan digusur habis-habisan. Puncak-puncak gunung yang megah itu akan dipangkas, diratakan, dan diubah menjadi kawah-kawah raksasa yang menganga. Penggusuran ini hanya pemindahan fisik tanah dan batu, tapi sebuah pembunuhan kultural dan spiritual. Ketika gunung suci diratakan, maka runtuh pula seluruh sistem nilai, memori kolektif, dan identitas masyarakat adat yang melekat padanya. Mereka kehilangan jangkar spiritualnya. Manusia-manusia yang tercerabut dari tanahnya akan menjadi pengungsi di atas tanah ulayatnya sendiri, kehilangan harga diri, dan terpaksa mengemis pekerjaan kasar sebagai buruh rendahan dengan upah minimum di perusahaan yang sedang menguras kekayaan leluhur mereka.

Kerusakan Lingkungan dan Ilusi Kenikmatan Sesaat

Sering kali, para promotor otonomi baru dan investasi tambang ini datang dengan membawa tas koper penuh dengan janji kompensasi. Mereka berbicara tentang dana bagi hasil, program Corporate Social Responsibility (CSR), pembangunan sekolah, klinik kesehatan, dan lapangan kerja bagi pemuda lokal. Ini adalah bentuk penyuapan kesadaran yang sangat nyata. Mereka menawarkan kenikmatan dan keuntungan sesaat untuk menukar sesuatu yang nilainya tidak terbatas dan tidak akan pernah bisa dibeli kembali dengan uang: kelestarian lingkungan hidup.

Keuntungan ekonomi yang didapat dari eksploitasi Blok Wabu dan Gunung Egeida, jika memang ada yang menetes ke masyarakat bawah, sifatnya sangat sementara. Uang tunai yang diterima akan habis dalam hitungan bulan atau tahun karena gaya hidup konsumtif yang dibawa oleh arus modernisasi tambang. Jabatan-jabatan politik di kabupaten baru akan berganti setiap lima tahun sekali, hanya dinikmati oleh segelintir elite lokal yang pandai bersilat lidah. Namun, kerusakan lingkungan yang ditinggalkan oleh industri ekstraktif tersebut akan menetap selama-lamanya, melintasi generasi demi generasi.

Baca Juga:

Tiga Kampung di Distrik Kamuu Raih Penghargaan dalam Lomba Antar‑Kampung Kabupaten Dogiyai

Mahasiswa Afirmasi ADIK-ADEM Asal Intan Jaya Desak Pemkab Segera Cairkan Beasiswa, Sampaikan Delapan Tuntutan

Bupati Dogiyai Buka Monev Dana Otsus dan DAK 2026

Abni Auwe Terima SK DPC PBB Dogiyai, Siap Penuhi Syarat Verifikasi Pemilu 2029

Mari kita bayangkan masa depan ketika mesin-mesin itu telah pergi setelah menguras habis isi bumi Moni/Migani-Mee. Mereka akan meninggalkan warisan berupa air sungai yang pekat oleh logam berat, tanah-tanah yang kehilangan kesuburannya akibat pencemaran kimia, udara yang berdebu, dan bencana ekologis seperti longsor dan banjir yang mengintai setiap kali hujan turun. Anak-cucu kita tidak akan bisa meminum air dari lembaran-lembaran uang kertas kompensasi. Mereka tidak bisa memakan aspal jalan raya atau dinding beton kantor bupati ketika kelaparan melanda akibat hutan buruan mereka telah berubah menjadi wilayah terlarang korporasi. Kenikmatan sesaat yang dirasakan oleh generasi hari ini dengan menerima DOB dan investasi adalah tindakan pengkhianatan bawah sadar terhadap masa depan anak cucu. Kita sedang memakan modal masa depan mereka demi kenyamanan egois kita hari ini.

Menolak Tunduk pada Logika DOB: Panggilan untuk Berpikir Panjang

Oleh karena itu, ketika tawaran DOB Kabupaten Moni ini digulirkan dengan segala kemasannya yang memikat, sikap kita tidak boleh mendua: kita harus menolaknya secara tegas melalui sebuah refleksi kritis yang mendalam. Kita harus berani membongkar kedok dari setiap regulasi dan janji manis yang disodorkan. Menolak DOB Kabupaten Moni bukan berarti kita menolak kemajuan atau anti-pembangunan. Menolak DOB ini adalah tindakan pembelaan diri yang paling radikal untuk melindungi eksistensi kemanusiaan, budaya, dan lingkungan hidup kita dari kepunahan struktural.

Kita harus melatih diri kita untuk berpikir panjang, sebuah konsep berpikir yang melampaui batas-batas kalender politik lima tahunan atau masa jabatan seorang pejabat. Berpikir panjang berarti kita menimbang setiap kebijakan hari ini dengan ukuran: Apakah tindakan ini akan membuat anak cucu kita tujuh generasi ke depan masih bisa menyebut tanah ini sebagai tanah air mereka? Jika jawabannya adalah tidak, jika jawabannya adalah tanah ini akan berubah menjadi milik korporasi dan gunung-gunungnya rata dengan tanah, maka tidak ada alasan lain selain melawan dan menolak.

Jangan kaget, jangan silau, dan jangan terpukau dengan tawaran DOB. Kita harus melihat DOB bukan sebagai hadiah dari kebaikan hati pemerintah pusat, tetapi sebagai umpan yang di dalamnya terdapat mata kail yang siap merobek kedaulatan kita atas tanah ulayat. Kita harus memperkuat konsolidasi di akar rumput, menyatukan suara antara masyarakat adat di Paniai, Intan Jaya (Bibida), dan seluruh wilayah yang terdampak. Kita harus menegaskan kembali bahwa kesejahteraan yang sejati tidak lahir dari pembagian wilayah administratif yang baru, tetapi dari pengakuan yang tulus dan perlindungan yang kokoh atas hak-hak masyarakat adat atas tanah, hutan, dan gunung mereka.

 

Memilih Warisan, Bukan Sisa-Sisa Eksploitasi

Pada akhirnya, peristiwa ini akan mencatat posisi kita di hari ini. Apakah kita akan tercatat sebagai generasi yang lemah, yang dengan mudah menukarkan gunung suci dan ruang hidupnya demi selembar surat keputusan pemekaran daerah dan janji kemakmuran semu? Ataukah kita akan dikenang sebagai generasi yang kokoh, yang berani berdiri tegak menghadapi badai kapitalisme, memilih untuk hidup bersahaja namun berdaulat penuh atas tanah kelahirannya?

Gunung Egeida dan Blok Wabu adalah ujian kesadaran bagi kita semua. Mereka adalah saksi isu yang sedang memperhatikan apakah kita memiliki keberanian untuk berkata tidak pada keinginan keserakahan. Kesejahteraan tidak bisa dibangun di atas fondasi kehancuran alam. Pembangunan tidak boleh mengorbankan manusia dan identitas budayanya.

Mari kita sudahi kenaifan ini. Mari kita tutup buku naskah lama tentang keindahan DOB yang semu, dan mulai menulis narasi kita sendiri, narasi tentang perlawanan yang berbasis pada cinta yang mendalam terhadap tanah air, hutan, gunung, dan masa depan generasi yang akan lahir. Berpikirlah yang panjang, karena tanah ini adalah satu-satunya rumah kita, dan sekali ia hancur, tidak ada kabupaten baru mana pun di dunia ini yang mampu membelinya kembali. Salam perlawanan, jagalah ruang hidup kita sebelum semuanya terlambat.

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT FT) Abepura-Jayapura.[*]

Post Views: 847
Tags: Blok WabuDOB Kabupaten MoniEgeidaIntan JayaPaniaiPapua TengahTolak DOB
Previous Post

Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

Next Post

Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

3 bulan ago
Artikel Opini

OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

3 bulan ago
Artikel Opini

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

4 bulan ago
Artikel Opini

Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

5 bulan ago
Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

6 bulan ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

6 bulan ago
Next Post

Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved