Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    BEM UNIPA kecam pernyataan Ketua KNPI Papua Tengah terkait pembungkaman kebebasan berpendapat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

    Dandhy Dwi Laksono Tanggapi Kodam XVII/Cenderawasih Soal Film Dokumenter Pesta Babi

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

    Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    SRP Adukan Kasus Dogiyai ke Komnas HAM dan Amnesty International

    Mahasiswa Paniai Se-Indonesia di Yogyakarta dan Solo Kembali Suarakan Penolakan DOB dan Tambang di Tanah Adat

    LBH Papua Desak Komnas HAM Tetapkan Dogiyai Berdarah Sebagai Dugaan Pelanggaran HAM Berat

    PK Dogiyai Kutuk Penembakan Pelajar di Dogiyai dan Pemboman Umat di Intan Jaya

    Serangan Udara di Gereja Katolik Intan Jaya Picu Korban Sipil dan Gelombang Pengungsian

    FIM-WP ancam mobilisasi besar dalam aksi Mimbar Bebas kasus Dogiyai berdarah

    Operasi Militer di Tembagapura Tewaskan 5 Warga Sipil, Ribuan Warga Dilaporkan Mengungsi

    Pemutaran film Pesta Babi di Universitas Mataram dibubarkan, Mahasiswa lanjutkan Nobar di luar Kampus 

    Diskusi dan Peluncuran Buku “Tragedi Dogiyai Berdarah” Digelar di Nabire

  • Kesehatan

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

    Dogiyai Masuk Prioritas Nasional, Tim BPJS Turun ke Kamuu Selatan Aktifkan Data Warga

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

    Kabupaten Dogiyai Raih Penghargaan UHC Kategori Utama untuk Ketiga Kalinya

  • Lingkungan

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

    HP-SP Paniai Gelar Diskusi Panel Kenakalan Remaja, Despia Yeimo Ajak Pelajar Bangun Masa Depan

    HP-SP Paniai Bentuk Panitia Musyawarah dan Seminar, Dorong Penguatan Literasi Generasi Muda

    IPPMMARPUT Se-Jayapura gelar pelantikan Badan Formatur tahun 2026, begini pesan senior

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah tegaskan Ormas harus bekerja nyata untuk rakyat

    MUSORMA XVIII AMPPJ Jayapura 2026 resmi digelar

    Kelompok Uti Waita, binaan Tani Merdeka Papua Tengah gelar panen raya Padi di Nabire

    Kelompok Tani Anak Muda Maju, DPW Tani Merdeka Papua Tengah tanam padi di Wanggar

    Asrama Mahasiswa/i Kabupaten Paniai kota studi Nabire gelar pelantikan Badan Formatur 

  • Pendidikan

    TK Negeri Bogodide Gelar Wisuda Angkatan III, 9 Siswa Resmi Diwisudakan 

    BEM FISIP UNCEN Soroti Penutupan Jalur Mandiri Kedokteran Tahun 2026

    SMK Karel Gobai umumkan kelulusan 100 persen, Kepala Sekolah: hasil perjuangan tiga tahun

    SMK Karel Gobai gelar ibadah pelepasan 95 siswa, tekankan peran tiga pilar penentu masa depan

    Melkias Yeimo gelar ibadah syukur atas raih Sarjana Teknik di Nabire

    Atas nama Bupati, Kadinsos Paniai resmikan TK-PAUD YPK Betlehem Madi, Pemerintah tekankan pentingnya pendidikan usia dini

    IPM-IDAKI Nabire Resmi Terbentuk, Paulus Deba Pimpin Organisasi Pelajar Idadagi Kigamani

    STK Touye Paapaa Deiyai Lepas Mahasiswa PKL, Diharapkan Jadi Guru Profesional

    Pamkab Dogiyai Buka Pendaftaran Beasiswa Afirmasi dan Program Baru Beasiswa Aimin

  • Religi

    Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

    Anggota MRP PPT Gelar RDP, Tokoh Agama Soroti Dana Otsus hingga Isu Keamanan

    Kerawam Keuskupan Timika Konsolidasi di Nabire, Dukung Agenda Keuskupan Timika di Paniai

    Klasis Agadide rayakan HUT ke-64 KINGMI, Jemaat didorong hidup dalam damai Kristus

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

by Redaksi
23 Mei 2026
in Artikel Opini
0
SHARES
39
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Enatomapega Gobai

OPINI | Setiap kali sebuah peta wilayah baru digambar di atas meja-meja birokrasi yang jauh dari riuh angin gunung, selalu ada mantra yang dirapalkan dengan nada yang sama: kesejahteraan, pemendekan rentang kendali, dan percepatan pembangunan. Narasi ini seperti naskah kuno yang terus dibacakan berulang kali, dari satu wilayah ke wilayah lain, tanpa pernah direvisi isinya. Hari ini, naskah itu sedang dibacakan untuk wilayah yang hendak dinamai Kabupaten Moni. Di bawah panji pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB), masyarakat disodori sebuah janji tentang masa depan yang gemerlap, tentang kantor-kantor pemerintahan yang megah, tentang akses jalan yang mulus, dan tentang pundi-pundi rupiah yang seolah-olah akan mengalir ke kantong-kantong rakyat kecil.

Namun, mari kita duduk sejenak di bawah bayang-bayang pohon, menjauh dari kepulan asap knalpot mobil dinas dan retorika para politisi lokal, untuk merenungkan satu hal yang mendasar: sejak kapan pemekaran wilayah benar-benar menjadi obat penawar bagi luka-luka ketimpangan? Sejarah modern, terutama di tanah Papua, telah berulang kali mempertontonkan drama yang sama, di mana otonomi baru tidak lebih dari taktik pengalihan isu yang canggih. Ia adalah taktik penjinakan massa. Ketika rakyat mulai kritis mempertanyakan hak-hak dasarnya yang dirampas, mereka disuapi dengan struktur kekuasaan baru. Mereka dialihkan perhatiannya untuk memperebutkan kursi jabatan, anggaran daerah, dan proyek-proyek penunjukan langsung.

Dalam konteks Kabupaten Moni, tawaran DOB ini bukan urusan administratif. Ia adalah gejala dari penyakit yang lebih besar, keinginan kekuasaan yang berkelindan dengan kepentingan kapitalisme global yang lapar. Kita dipaksa untuk percaya bahwa tanpa menjadi kabupaten sendiri, kita akan selamanya tertinggal. Kita dikondisikan untuk merasa miskin dan tidak berdaya, sehingga ketika tawaran otonomi itu datang, kita akan menerimanya dengan tangan terbuka tanpa sempat memeriksa apa yang tersembunyi di balik jas rapi para pengusulnya. Ini adalah nalar jinak yang sengaja diproduksi untuk memastikan bahwa ketika operasi besar-besaran itu dimulai, tidak ada lagi suara sumbang yang mengganggu jalannya mesin-mesin pengeruk bumi.

Anatomi Udang di Balik Batu: DOB sebagai Karpet Merah Kapitalisme

Jika kita membedah anatomi politik-ekonomi di balik rencana pembentukan Kabupaten Moni, kita akan segera menyadari bahwa garis-garis batas wilayah yang baru itu tidak digambar berdasarkan kebutuhan sosiologis atau kultural masyarakat adat. Garis-garis itu digambar mengikuti koordinat-koordinat kandungan mineral yang mendekam di perut bumi. Otonomi baru dalam hal ini berfungsi tidak lebih dari “karpet merah” yang sengaja digelar untuk mempermudah, mempercepat, dan melegitimasi masuknya investasi skala besar yang selama ini tertahan oleh rumitnya koordinasi birokrasi di tingkat kabupaten induk.

Selama wilayah masih berada di bawah kendali kabupaten yang luas, korporasi sering kali menghadapi jalan berliku. Mereka harus menghadapi resistensi berlapis dari berbagai komunitas adat yang tersebar, serta birokrasi yang dianggap tidak efisien oleh nalar pasar. Dengan memecah wilayah tersebut menjadi sebuah kabupaten baru, Kabupaten Moni, maka pusat pengambilan keputusan didekatkan. Namun, penjelasannya dibalik: keputusan didekatkan bukan agar rakyat mudah mengadu, melainkan agar korporasi mudah mengetuk pintu ruang kerja bupati baru untuk mendapatkan tanda tangan perizinan. Pemerintah daerah yang baru lahir, dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang masih tertatih-tatih dan ketergantungan yang tinggi pada dana perimbangan pusat, akan dengan sangat mudah didikte oleh para pemodal. Atas nama peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), investasi akan diposisikan sebagai tuhan baru yang tidak boleh ditolak.

Inilah jebakan struktural dari DOB yang sedang ditawarkan. Kita diajak merayakan lahirnya sebuah identitas politik baru, tanpa sadar bahwa di saat yang sama, kita sedang menyerahkan kunci gerbang rumah kita kepada pihak asing. Birokrasi baru yang dibentuk akan menjadi tameng bagi korporasi. Ketika konflik agraria terjadi di kemudian hari, yang akan berhadapan di lapangan bukan lagi masyarakat melawan korporasi langsung, melainkan masyarakat melawan aparat pemerintah daerahnya sendiri, saudara mereka sendiri yang kini mengenakan seragam dinas. Pemekaran wilayah, dengan demikian, adalah strategi pecah belah gaya baru yang sangat rapi, meminjam tangan anak daerah untuk menggusur tanah kelahirannya sendiri demi kenyamanan modal asing.

Pengorbanan Kosmologis: Nestapa Gunung Egeida dan Blok Wabu

Mari kita sebutkan nama-nama korban yang sudah masuk dalam daftar antrean pengorbanan ini dengan lantang: Gunung Egeida di Paniai dan Blok Wabu di Intan Jaya. Bagi mata seorang kapitalis atau birokrat yang bernalar teknokratis, Egeida dan Wabu hanyalah tumpukan angka-angka produk domestik regional bruto (PDRB) yang belum digali. Mereka melihat gunung-gunung itu sebagai kalkulasi tonase emas, tembaga, atau komoditas tambang lainnya yang siap dikonversi menjadi angka di lantai bursa saham. Mereka melihat bentang alam tersebut sebagai ruang kosong yang pasif, yang baru dianggap “bernilai” jika di atasnya telah berdiri menara-menara pengeruk, lubang-lubang raksasa, dan pabrik pengolahan limbah.

Namun, bagi masyarakat adat yang telah mendiami wilayah tersebut selama berabad-abad, sebelum negara ini mengenal batas-batas modern, Gunung Egeida dan Blok Wabu adalah ruang kosmologis yang sakral. Gunung bukan tumpukan batu dan tanah; ia adalah tiang penyangga langit, tempat bersemayamnya roh-roh leluhur, dan penjaga keseimbangan alam. Hutan yang menyelimutinya adalah pasar tradisional gratis yang menyediakan pangan, obat-obatan, dan bahan bangunan tanpa pernah menuntut bayaran. Sungai-sungai yang mengalir dari puncaknya adalah urat nadi kehidupan yang menyusui seluruh makhluk hidup.

Ketika Kabupaten Moni resmi berdiri dan operasi penambangan dimulai dengan mudah karena regulasi yang telah dijinakkan, apa yang akan terjadi pada Egeida dan Wabu? Jawabannya jelas dan mengerikan: mereka akan digusur habis-habisan. Puncak-puncak gunung yang megah itu akan dipangkas, diratakan, dan diubah menjadi kawah-kawah raksasa yang menganga. Penggusuran ini hanya pemindahan fisik tanah dan batu, tapi sebuah pembunuhan kultural dan spiritual. Ketika gunung suci diratakan, maka runtuh pula seluruh sistem nilai, memori kolektif, dan identitas masyarakat adat yang melekat padanya. Mereka kehilangan jangkar spiritualnya. Manusia-manusia yang tercerabut dari tanahnya akan menjadi pengungsi di atas tanah ulayatnya sendiri, kehilangan harga diri, dan terpaksa mengemis pekerjaan kasar sebagai buruh rendahan dengan upah minimum di perusahaan yang sedang menguras kekayaan leluhur mereka.

Kerusakan Lingkungan dan Ilusi Kenikmatan Sesaat

Sering kali, para promotor otonomi baru dan investasi tambang ini datang dengan membawa tas koper penuh dengan janji kompensasi. Mereka berbicara tentang dana bagi hasil, program Corporate Social Responsibility (CSR), pembangunan sekolah, klinik kesehatan, dan lapangan kerja bagi pemuda lokal. Ini adalah bentuk penyuapan kesadaran yang sangat nyata. Mereka menawarkan kenikmatan dan keuntungan sesaat untuk menukar sesuatu yang nilainya tidak terbatas dan tidak akan pernah bisa dibeli kembali dengan uang: kelestarian lingkungan hidup.

Keuntungan ekonomi yang didapat dari eksploitasi Blok Wabu dan Gunung Egeida, jika memang ada yang menetes ke masyarakat bawah, sifatnya sangat sementara. Uang tunai yang diterima akan habis dalam hitungan bulan atau tahun karena gaya hidup konsumtif yang dibawa oleh arus modernisasi tambang. Jabatan-jabatan politik di kabupaten baru akan berganti setiap lima tahun sekali, hanya dinikmati oleh segelintir elite lokal yang pandai bersilat lidah. Namun, kerusakan lingkungan yang ditinggalkan oleh industri ekstraktif tersebut akan menetap selama-lamanya, melintasi generasi demi generasi.

Baca Juga:

Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

Mahasiswa Paniai Se-Indonesia di Yogyakarta dan Solo Kembali Suarakan Penolakan DOB dan Tambang di Tanah Adat

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

Serangan Udara di Gereja Katolik Intan Jaya Picu Korban Sipil dan Gelombang Pengungsian

Mari kita bayangkan masa depan ketika mesin-mesin itu telah pergi setelah menguras habis isi bumi Moni/Migani-Mee. Mereka akan meninggalkan warisan berupa air sungai yang pekat oleh logam berat, tanah-tanah yang kehilangan kesuburannya akibat pencemaran kimia, udara yang berdebu, dan bencana ekologis seperti longsor dan banjir yang mengintai setiap kali hujan turun. Anak-cucu kita tidak akan bisa meminum air dari lembaran-lembaran uang kertas kompensasi. Mereka tidak bisa memakan aspal jalan raya atau dinding beton kantor bupati ketika kelaparan melanda akibat hutan buruan mereka telah berubah menjadi wilayah terlarang korporasi. Kenikmatan sesaat yang dirasakan oleh generasi hari ini dengan menerima DOB dan investasi adalah tindakan pengkhianatan bawah sadar terhadap masa depan anak cucu. Kita sedang memakan modal masa depan mereka demi kenyamanan egois kita hari ini.

Menolak Tunduk pada Logika DOB: Panggilan untuk Berpikir Panjang

Oleh karena itu, ketika tawaran DOB Kabupaten Moni ini digulirkan dengan segala kemasannya yang memikat, sikap kita tidak boleh mendua: kita harus menolaknya secara tegas melalui sebuah refleksi kritis yang mendalam. Kita harus berani membongkar kedok dari setiap regulasi dan janji manis yang disodorkan. Menolak DOB Kabupaten Moni bukan berarti kita menolak kemajuan atau anti-pembangunan. Menolak DOB ini adalah tindakan pembelaan diri yang paling radikal untuk melindungi eksistensi kemanusiaan, budaya, dan lingkungan hidup kita dari kepunahan struktural.

Kita harus melatih diri kita untuk berpikir panjang, sebuah konsep berpikir yang melampaui batas-batas kalender politik lima tahunan atau masa jabatan seorang pejabat. Berpikir panjang berarti kita menimbang setiap kebijakan hari ini dengan ukuran: Apakah tindakan ini akan membuat anak cucu kita tujuh generasi ke depan masih bisa menyebut tanah ini sebagai tanah air mereka? Jika jawabannya adalah tidak, jika jawabannya adalah tanah ini akan berubah menjadi milik korporasi dan gunung-gunungnya rata dengan tanah, maka tidak ada alasan lain selain melawan dan menolak.

Jangan kaget, jangan silau, dan jangan terpukau dengan tawaran DOB. Kita harus melihat DOB bukan sebagai hadiah dari kebaikan hati pemerintah pusat, tetapi sebagai umpan yang di dalamnya terdapat mata kail yang siap merobek kedaulatan kita atas tanah ulayat. Kita harus memperkuat konsolidasi di akar rumput, menyatukan suara antara masyarakat adat di Paniai, Intan Jaya (Bibida), dan seluruh wilayah yang terdampak. Kita harus menegaskan kembali bahwa kesejahteraan yang sejati tidak lahir dari pembagian wilayah administratif yang baru, tetapi dari pengakuan yang tulus dan perlindungan yang kokoh atas hak-hak masyarakat adat atas tanah, hutan, dan gunung mereka.

 

Memilih Warisan, Bukan Sisa-Sisa Eksploitasi

Pada akhirnya, peristiwa ini akan mencatat posisi kita di hari ini. Apakah kita akan tercatat sebagai generasi yang lemah, yang dengan mudah menukarkan gunung suci dan ruang hidupnya demi selembar surat keputusan pemekaran daerah dan janji kemakmuran semu? Ataukah kita akan dikenang sebagai generasi yang kokoh, yang berani berdiri tegak menghadapi badai kapitalisme, memilih untuk hidup bersahaja namun berdaulat penuh atas tanah kelahirannya?

Gunung Egeida dan Blok Wabu adalah ujian kesadaran bagi kita semua. Mereka adalah saksi isu yang sedang memperhatikan apakah kita memiliki keberanian untuk berkata tidak pada keinginan keserakahan. Kesejahteraan tidak bisa dibangun di atas fondasi kehancuran alam. Pembangunan tidak boleh mengorbankan manusia dan identitas budayanya.

Mari kita sudahi kenaifan ini. Mari kita tutup buku naskah lama tentang keindahan DOB yang semu, dan mulai menulis narasi kita sendiri, narasi tentang perlawanan yang berbasis pada cinta yang mendalam terhadap tanah air, hutan, gunung, dan masa depan generasi yang akan lahir. Berpikirlah yang panjang, karena tanah ini adalah satu-satunya rumah kita, dan sekali ia hancur, tidak ada kabupaten baru mana pun di dunia ini yang mampu membelinya kembali. Salam perlawanan, jagalah ruang hidup kita sebelum semuanya terlambat.

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT FT) Abepura-Jayapura.[*]

Post Views: 148
Tags: Blok WabuDOB Kabupaten MoniEgeidaIntan JayaPaniaiPapua TengahTolak DOB
Previous Post

Peringati 132 Tahun Misi Katolik: Parade Rohani dan Aspirasi Libur Lokal

Next Post

Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

3 hari ago
Artikel Opini

Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

2 bulan ago
Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

2 bulan ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

2 bulan ago
Artikel Opini

Manusia Mee Bukan Binatang

3 bulan ago
Artikel Opini

Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

3 bulan ago
Next Post

Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved