NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM – Sejumlah umat Katolik yang berasal dari empat paroki di Kabupaten Nabire, ibu kota Provinsi Papua Tengah, mengikuti Parade Rohani dalam rangka memperingati 132 tahun masuknya Misi Katolik di Tanah Papua, pada Jumat (22/05).
Perhelatan ini menjadi momen istimewa karena perayaan khusus pertama kali yang diselenggarakan secara resmi di wilayah Provinsi Papua Tengah.
Kegiatan ini digagas dan dilaksanakan oleh sejumlah organisasi umat Katolik, yang dikoordinir langsung oleh Pemuda Katolik. Organisasi yang terlibat antara lain Pemuda Katolik, WKRI, PMKRI, ISKA, Foxpoint, OMK, serta THS dan THM. Kegiatan ini berpusat di Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire.
Berdasarkan pantauan awak media, Natan Naftali Tebai yang menjabat sebagai Sekretaris Pemuda Katolik Komda Papua Tengah, bertindak selaku Koordinator Umum kegiatan tersebut.

Suasana acara terasa semakin khidmat dan penuh makna dengan kehadiran Diakon Piet Waine. Beliau dikenal sebagai diakon pertama yang ditahbiskan dari kalangan orang asli Papua, yang selama ini melayani di wilayah Keuskupan Jayapura dan Timika. Dalam refleksi imannya, Diakon Piet mengaku sangat terharu dan bangga menyaksikan perjalanan panjang penyebaran iman Katolik yang kini telah berakar kuat di tanah ini.
“Saya merasa terharu dan bangga. Harapan saya, ke depan semakin banyak anak-anak Papua yang terpanggil menjadi pastor, diakon, maupun suster, untuk melayani sesama di tanah kelahirannya sendiri,” ujar Diakon Piet di hadapan sejumlah peserta parade.

Rangkaian acara ini dibuka oleh RD. Yohanes Adrianto, SJ, selaku Pastor Paroki Gereja Kristus Sahabat Kita. Selanjutnya, RD. Yohanes Supriyanto, SJ, memimpin doa berkat sekaligus melepas keberangkatan seluruh peserta yang telah mengelilingi kawasan Kota Nabire.
Pawai rohani tersebut mengambil rute mulai dari Gereja KSK, bergerak menuju tikungan Jalan Ahmad Yani, berbelok ke arah SMP Antonius, turun menuju Jalan Merdeka hingga ke Tugu Nabire Hebat, kemudian berbelok ke Jalan Pepera, melewati kawasan Bandara Lama, dan kembali lagi ke titik awal di Gereja KSK.

Puncak kegiatan ditandai dengan momen penandatanganan petisi. Di dalam dokumen tersebut, para umat secara resmi menyampaikan permohonan kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah agar menetapkan tanggal 22 Mei setiap tahunnya sebagai Hari Libur Lokal di seluruh wilayah Papua Tengah, guna memperingati masuknya Misi Katolik di Tanah Papua.
Penandatanganan petisi ini dilakukan sebagai wujud aspirasi bersama umat Katolik di wilayah tersebut. Melalui langkah ini, mereka berharap penetapan hari libur lokal pada tanggal 22 Mei dapat dikukuhkan, yang nantinya tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana memperkuat identitas iman serta nilai-nilai budaya masyarakat Papua.