Oleh Marius Goo, S.S., M.Fil
Dalam buku “Pengantar Ke-dalam Manusia Mee”, (Marius: 2025, vii) menyampaikan “Manusia Mee setara dengan manusia lain di dunia. Memiliki ma (tubuh), dimi (jiwa) dan Aya (rohani), Honaratu: 2010).[1] Kesehatan, kekuatan dan juga kemampuan dari ketiga dimensi ini harus di jaga. Untuk menjaga kestabilan dan keutuhan, para leluhur telah meletakan dan sekaligus mewariskan falsafah yang sarat makna. Misalnya, “dimi akauwai awi”, artinya, “jadikan pikiran sebagai kaka sulung”, “dimi muni”, artinya, “pelihara atau perbesar otak”, “kegepa muni”, “perluas hati atau olah hati”, “aya madagai”, artinya, “selamatkan atau lindungi kehidupan rohani”, dll. Selain itu, melalui buku Warisan Budaya Suku Mee: “Daa dan Piyo” mengulas hukum adat yang memagari manusia Mee dari serangan musuh dan lawan (Emanuel dan Vitalis, 2018). Manusia Mee memiliki yang sadar, akan menjadi manusia Mee sejati, sedangkan mereka yang tidak sadar akan menjadi binatang, boneka dan alat penindas yang dipergunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Tugas sekarang bagi orang Mee adalah pulang kembali ke akar yang satu dan sama, melalui Owaada-Emawa. Bagaimana kita pergi kembali? Apa yang harus kita perbuat? Mari kita pulang!
Gekoo Ka Maa (Tubuh Jasmani)
Kita adalah manusia, maka kita memiliki tubuh (ma). Tubuh butuh perawatan, butuh makan dan minum demi kesehatan, kebugaran dan daya tahan yang kuat. Tubuh harus dirawat dan dijaga agar tidak sakit, tidak lemah dan bahkan tidak mati. Istilah kita orang mee adalah “akii kida ma akii kida doutou,” artinya, “kita sendiri yang jaga tubuh kita.” Agar tubuh kita mendapat makan dan minum, kita harus kerja (keitai ekowai), harus berkeringat (kedi duwai, awata gou). Kita memelihara tubuh kita dengan makanan yang halal, minuman yang halal, bukan makanan atau minuman curian.
Seluruh anggota tubuh yang kita miliki, memiliki maksud dan tujuan dari Pencipta. Misalnya, tangan (benai) untuk bekerja (keitai), kaki untuk berjalan (ita nawi), mata untuk melihat (peka ko dou note), Pikiran untuk berpikir (dimi gouko gai note), dll. Tubuh diciptakan untuk membantu Pencipta untuk ikut menyempurnakan dunia, menjadi co-creator (menjadi pencipta lain bersama sang Pencipta utama). Terlebih tubuh-tubuh muda, yang memiliki potensi pencipta, pekerja karena memiliki daya (kekuatan, kebugaran dan tenaga). Darah-darah muda Mee tidak boleh habiskan, hancurkan dengan perbuatan-perbuatan melawan maksud awal diciptakan. Setiap manusia Mee membawa tubuh masing-masing kepada Pencipta sebagai persembahan hidup yang murni dan berkenan kepada-Nya. Kita perlu menjaga tubuh (ma) agar tidak sakit, tidak menderita, tidak berpenyakitan dan tidak mati.
Manusia Mee harus makan makanan yang benar dan yang diperbolehkan, harus hanya minum minuman yang benar dan diperbolehkan, juga menyehatkan. Makanan dan minuman yang merusak tubuh harus dihindari. Pada dasarnya, makanan yang menyehatkan tubuh bagi kita orang Mee adalah makanan dan minuman lokal (asli). Untuk tubuh menjadi sehat dan terhindar dari sakit dan penyakit, harus pulang kembali ke rumah, ke tempat asal, ke budaya Mee dan mengkonsumsi makanan-makanan yang asli, sambil membuat emawa-owaada (rumah adat) yang memiliki nilai-nilai budaya yang luhur dan membebaskan.
Dimi (Jiwa, Pikiran)
Dimi adalah pusat pengolahan jiwa setiap manusia. Manusai Mee dahulu “mengagungkan “dimi” sebagai pusat pengendalian hidup manusia Mee, karena itu manusia Mee dulu dapat dikategorikan sebagai “pemikir” atau “filsuf” pada zamannya. Orang Mee mendewakan “pikiran” dalam mempertanggung jawabkan kehidupan yang diterima sebagai “anugrah terindah”. Hasil refleksi panjang dari “pendewaan pikiran” oleh manusia Mee adalah merumuskan sebuah falsafah yang mulia, ialah “Dimi Akauwai Awii,” arti harafiah “jadikan pikiran sebagai kakakmu sendiri.”
Ketika kita refleksi makna “dimi awauwai awii”, secara mendalam, harus menjadikana jiwa atau pikiran harus menjadi pantutan, penuntun atau pengarah hidup. Pikiran atau jiwa harus menjadi Kompas hidup. Di mana dengan jiwa yang tertata, manusia dapat sampai kepada kebahagiaan sejati, tidak hanya di dunia lain, tetapi juga di sini, saat ini.
Kenyataan yang dihadapi saat ini, banyak manusia Mee yang terlihat semacam tidak punya jiwa, tidak punya “dimi” dan akhirnya tubuh jadi hancur-hancuran. Di mana makan secara sembarangan, hidup secara sembarang, seolah seperti binatang yang tidak punya “dimi”. Bahkan, makan yang dilarang makan, dan tidak makan yang diperbolehkan makan. Dunia sekarang semacam terbalik, seolah manusia menjadi binatang, binatang menjadi manusia. Realitas ini tidak boleh harus berlamaan dan tidak boleh kehilangan masa depan bagi manusia Mee.
Manusia Mee adalah “Dimi yago bage”, artinya “manusia yang memiliki jiwa”. Jiwa yang dimiliki jangan dibunuh, dihancurkan dan bahkan dihilangkan. Tanggung jawab setiap orang Mee untuk kembalikan jiwa-jiwa yang telah dihilangkan secara tahu, mau, sadar dan sengaja karena pembiaran dan tidak dikontrol. Pusat-pusat pembelajaran di Meuwo harus dibangun, baik pendidikan formal, non formal juga informal. Setiap kampung, setiap orang tua, setiap orang yang dituakan harus menjadi “tutor”, pendidik nilai-nilai budaya untuk membesarkan, menumbuhkan dan membesarkan “jiwa” yang sedang layu dan sedang dimatikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan diperdaya oleh minuman alkohol, uang dan barang-barang yang membunuh masa depan manusia Mee.
Hukumnya: manusia Mee jangan musnah! Manusia Mee yang memiliki “dimi”, jangan dipermainkan oleh siapa pun, jangan diperdaya oleh bangsa mana pun. “Dimi” kita adalah pagar yang membentengi: tubuh kita, keluarga kita, suku kita, bangsa kita, rumah kita dan kebun kita. Dimi itu pagar hidup dan tidak boleh dibunuh dengan cara apa pun dan alasan apa pun. “Dimi boko-boko tai”, (kuatkan jiwa, pikiran), “dimi ibo awii”, artinya “tumbuhkembangkan pikiran”, jangan selamanya dibodohi dan dipermainkan seperti binatang yang tidak berakal budi. Manusia Mee adalah filsuf, jangan manja otak dengan hidup sembrono, hidup sembarangan, “kii keega, kou keega to tetai, maa ka umii-umi, mee ka tou-tou tai”, artinya, “hiduplah sebagai manusia dan tunjukkan diri sebagai manusia di hadapan manusia lain di seluruh dunia. Kita ingat pesan tetua Mee, “ekina kina tiyake kigimotitai ka”, “kamu akan dijadikan babi dan terakhir akan dibunuh.” Pesan ni sedang terjadi karena banyak orang ingin mau jadi binatang, dapat diperalat menjadi perkakas-perkakas pembongkar bangungan Allah dan leluhur manusia Mee.
Ayii ka maa (tubuh Rohani)
Setelah berziarah di dunia, pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada asal hidup manusia, yakni yang memberikan hidup, ialah Allah sendiri, yang disapa manusia Mee dengan sebutan “Ugatame”. Setiap aya atau ayitai ma akan kembali bersatu dengan sumber kekudusan (Poya Mee).
Setiap manusia Mee harus sadar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Bahwa tubuh jasmani akan ditinggalkan di bumi dan akan menjadi tanah karena diciptakan dari tanah. Karena itu, selagi “jiwa” masih ada dalam tubuh jasmani, pergunakanlah waktu sebaik-baiknya, semata-mata untuk memuliakan Tuhan.
Roh Allah sedang ada dalam tubuh Manusia sebagai daya dorong dan daya dukung untuk melakukan kebaikan, pembangungan dan bahkan mendirikan Kerajaan Allah di Meuwo. Allah menciptakan manusia untuk bersama-Nya membangun Kerajaan Allah di bumi. Ketika tubuh salah digunakan dengan minum alkohol, perbuatan jahat, Roh yang ada dalam setiap tubuh manusia (Mee) menjadi sedih, berduka dan kecewa. Seperti Yesus mengatakan “Roh Tuhan ada pada-Ku”, demikian pula kepada setiap orang Mee (Papua) diberikan Roh yang satu dan sama. Pertanyaannya, di mana Roh Allah yang diberikan untuk setiap manusia Mee? Di mana dimi yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia Mee?
Hingga saat ini, sebagai manusia Mee ada dalam situasi “abu-abu”. Sedang ada antara mau menjadi manusia Mee sejati dan setengah manusia Mee. Kondisi-kondisi kemanusiaan dicabut, nilai-nilai kemanusiaan dihilangkan, manusia Mee diajarkan pendidikan-pendidikan tidak benar. Sebagian manusia Mee didogma oleh ajaran-ajaran sesat, mereka dibawa masuk dalam “lingkaran setan”, untuk belajar kejahatan dan melakukan praktek-praktek amoral, biadab dan jahat. Ada pihak-pihak tertentu yang tidak ingin menjadi manusia Mee sejati, manusia yang dapat mengendalikan hidup dengan kebijaksanaan, dengan akal budi yang murni, dengan logika yang mantap dan dengan kerohanian yang mendalam. Buktinya, banyak manusia Mee yang melihat pendidikan (sekolah) juga agama (Gereja) secara kasat mata, bahkan ada saja manusia Mee yang merusak falisitas umum seperti rumah sakit, gereja, sekolah, kantor-kantor dan lain-lain. Kapan manusia Mee akan menjadi manusia sejati di tanah sendiri? Bagaimana harus kembalikan kemanusiaan sejati manusia Mee?
Daftar Pustaka
Goo, Emanuel & Goo, Vitalis, Warisan Budaya Suku Mee:Daa dan Diyo Dou, Kanisius, Yokyakarta, 2018
Goo, Marius, “Pengantar Ke-Dalam Manusia Mee, Bintang Sejahtera, Malang, 2025
Pigai, Horaratus, “Tiga Kekuatan Manusia Mee: Dimi, Kegepa, Aya”, Skripsi, Jayapura, 2010
[1]Honaratus Pigai, Tiga Kekuatan Manusia Mee: Dimi, Kegepa, Aya”, (Skripsi STFT, Fajar Timur, 2010).