NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM – Era digital adalah pedang bermata dua. Di satu sisi menawarkan peluang, namun di sisi lain menyimpan ancaman privasi yang nyata. Menyadari hal tersebut, Ketua Relawan TIK Papua, Aldo Mooy, membekali ratusan pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Nabire dengan “senjata” keamanan digital dan semangat jurnalisme damai.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam Festival Media Se-Tanah Papua yang berlangsung di Nabire, Rabu (14/1/2026).
Di hadapan peserta yang antusias, Aldo menegaskan bahwa menjaga data pribadi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban individu.
Investasi Masa Depan: Jaga Data Sejak Dini
Dalam sesi yang dimoderatori oleh Robert Yewen tersebut, Aldo menekankan bahwa rekam jejak digital sangat berpengaruh pada masa depan profesional seseorang.
“Sejak dini kita didik mereka untuk fokus menjaga data pribadi. Hal ini akan berdampak signifikan saat mereka memasuki dunia kerja nanti,” ujar Aldo.
Ia memperingatkan bahwa kelalaian dalam menjaga akun bisa berujung pada kebocoran data yang dapat dimanipulasi oleh pihak tak bertanggung jawab.
Aldo merinci dua kategori data krusial yang wajib dilindungi:
1. Email & Nomor Handphone: Merupakan kunci utama akses layanan digital dan identitas perangkat.
2. Identitas Resmi (KTP/Kartu Pelajar): Kebocoran nomor identitas dapat disalahgunakan dalam urusan administrasi negara hingga akses beasiswa.
Lawan Intimidasi dengan Mitigasi
Tak hanya teori, Aldo juga memaparkan tiga ancaman nyata di dunia maya: pencemaran nama baik, intimidasi, dan cyberbullying. Sebagai langkah proteksi, ia merekomendasikan penggunaan situs “Periksa Data” sebuah platform kolaborasi media nasional untuk mengecek apakah data pengguna telah bocor atau masih aman.
“Jika terdeteksi bocor, segera lakukan langkah mitigasi seperti mengganti kata sandi secara berkala,” imbaunya.
Mewujudkan Papua Damai dari Ruang Digital
Lebih dari sekadar teknis keamanan, workshop ini mengusung misi besar: Jurnalisme Damai. Pelajar dan mahasiswa didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen konten yang menyejukkan.
“Kita ingin adik-adik berkontribusi membangun harmoni di ruang digital. Mereka harus menjadi pelaku yang mengabarkan kedamaian dari tempat mereka berada,” ungkap Aldo. Harapannya, semangat ini menjadi sumbangan perdamaian dari Timur untuk Indonesia.
Rangkaian Festival Media 2026
Workshop yang diinisiasi oleh Asosiasi Wartawan Papua (AWP) ini merupakan bagian dari rangkaian besar Festival Media Se-Tanah Papua yang digelar pada 13-15 Januari 2026. Selain literasi digital, festival ini juga dimeriahkan dengan pelatihan jurnalistik investigasi, pameran foto, hingga malam penganugerahan bergengsi, Papua Jurnalistik Award 2026.