PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Pemerintah Kabupaten Paniai melalui Dinas Kesehatan, khususnya Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), mengungkapkan hasil pemeriksaan kesehatan terhadap masyarakat di wilayah Baya Biru, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. Dari hasil pemeriksaan lanjutan, sebanyak 4 (empat) orang wanita pekerja seks (WPS) dinyatakan positif HIV/AIDS.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, Beny Degei, SKM., M.KM, menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan skrining kesehatan yang dilakukan secara intensif selama dua hari, Senin–Selasa, 8–9 Desember 2025, yang dipusatkan di Puskesman Baya Biru dan sekitarnya.
“Kami telah melakukan pemeriksaan pertana terhadap sekitar 80 orang Wanita Pekerja Seks (WPS), di Baya Biru, untuk penyakit menular (HIV-AIDS),” kata Beny Degei saat ditemui di ruang kerjanya di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai, Rabu (14/1/2026).
Menurut Beny, dari pemeriksaan awal ditemukan 7 (Tujuh) orang Wanita Pekerja Seks selanjutnya di sebut (WPS) dengan hasil positif HIV AIDS, namun setelah dilakukan pemeriksaan kedua atau lanjutan di laboratorium, 4 (empat) orang Wanita Pekerja Seks (WPS) dinyatakan positif HIV/AIDS, sementara tiga orang WPS lainnya masih akan menjalani pemeriksaan ulang setelah tiga bulan ke depan untuk memastikan status kesehatannya.
Lebih lanjut, Beny Degei menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut difokuskan pada populasi khusus, yakni wanita pekerja seks (WPS) yang beraktivitas di sekitar 9 (sembilan) tempat karaoke di wilayah Baya Biru. Dari sekitar 80 orang lebih pekerja seks yang diperiksa, awalnya ditemukan 7 (tujuh) orang positif HIV, namun setelah pemeriksaan lanjutan, hanya 4 (empat) orang WPS yang benar-benar dinyatakan positif HIV/AIDS, untuk 3 orang WPS negatif HIV AIDS lainnya atah belum menemukan HIV AIDS, nanti 3 bulan kedepan akan dilakukan pemeriksaan ketiga bagi 3 orang WPS.
“4 orang WPS yang telah dinyatakan positif tersebut saat ini sudah mendapatkan pengobatan Antiretroviral (ARV). Mereka menjalani perawatan di Puskesmas Wonorejo, Kabupaten Nabire, sesuai permintaan pasien, dan kami telah menjalin kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire untuk penanganan pasien kami,” jelasnya.
Sementara itu, tiga orang lainnya yang masih dalam tahap pemantauan akan kembali diperiksa pada bulan Maret 2026 mendatang, dan apabila hasilnya positif, akan langsung diberikan pengobatan ARV.
Beny Degei mengaku sangat khawatir dengan kondisi tersebut. Pasalnya, meskipun baru satu kali pemeriksaan, sudah ditemukan empat kasus positif HIV/AIDS. Ia menilai potensi penularan di wilayah Baya Biru sangat tinggi, mengingat praktik prostitusi telah berlangsung puluhan tahun dan sebagian besar hubungan seksual dilakukan tanpa penggunaan kondom secara teratur.
“Dari hasil wawancara kami dengan para pekerja seks, mereka mengaku tidak selalu menggunakan kondom karena alasan bayaran, tempat tinggal, dan faktor lainnya,” ungkap Beny.
Ia juga menyoroti tingginya mobilitas penduduk di kawasan penambangan emas Baya Biru, yang menjadi tempat keluar-masuknya para pendatang dari berbagai daerah di Nusantara. Kondisi ini, menurutnya, semakin meningkatkan risiko penyebaran HIV/AIDS.
“Setelah dari lokasi penambangan, mereka pulang ke daerah masing-masing dan berhubungan dengan istri atau pasangannya. Ini tentu sangat berpotensi memperluas penyebaran HIV/AIDS,” katanya.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh kesaksian salah satu warga setempat, Selpianus Makipa, yang menyebutkan bahwa banyak masyarakat asli Baya Biru telah meninggal dunia dalam beberapa tahun terakhir, diduga akibat HIV/AIDS.
“Sejak penambangan emas dibuka, masyarakat asli Baya Biru banyak yang meninggal. Kami menduga kuat akibat penyakit AIDS,” ujarnya dengan nada sedih.
Menanggapi kondisi tersebut, Beny Degei menegaskan bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Paniai akan berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Paniai, serta melibatkan pemerintah distrik, kepala kampung, dan para tokoh masyarakat untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS.
“Kami akan melakukan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS, pemeriksaan darah secara berkala, dan memastikan pasien yang positif mendapatkan pengobatan ARV di fasilitas kesehatan seperti RSUD Paniai dan Puskesmas Enarotali,” tegasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat Paniai untuk tidak mengonsumsi obat-obatan herbal atau tradisional yang belum teruji secara ilmiah.
“Konsumsi obat herbal yang tidak teruji bisa berbahaya bagi kesehatan, berpotensi merusak ginjal, pankreas, dan organ tubuh lainnya. Pengobatan HIV/AIDS harus melalui layanan kesehatan resmi,” ujarnya.
Dukung Program Bupati Paniai, Dinas Kesehatan Tingkatkan Pelayanan Kesehatan
Untuk mendukung program Bupati Paniai, Kabid P2P, Dinas Kesehatan, Beny Degei terus berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan layanan di puskesmas dan rumah sakit, peningkatan kualitas tenaga kesehatan, serta penyediaan obat dan layanan kesehatan yang mudah diakses masyarakat.
“Kami komitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang merata dan berkualitas demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Paniai,” pungkas Beny Degei. (*)