Oleh: Marius Goo S. S., M.Fil
Pengantar
Kasus-kasus rasial ditemukan di mana-mana dalam kehidupan manusia. Rasis berkaitan dengan dominasi dan diskriminasi atau prasangka buruk terhadap ras atau etnis tertentu yang berbeda. Sementara rasisme merupakan paham atau ideologi yang menganggap kelompok tertentu punya kuasa dan dapat menentukan nasib atau kehidupan kelompok yang lemah, atau kelompok budaya yang berbeda ras atau etnis dianggap primitif untuk menguasai. Tindakan rasis bisa muncul dalam berbagai bentuk, baik individual maupun publik secara tersistem dan selalu mempunyai dampak buruk dalam kehidupan manusia sebagai makluk sosial. Sebab tindakan rasial sulit terobati secara mental dan selalu dihantui dalam kehidupan. Tindakan rasial memandang sesama yang lain lebih rendah dan bukan manusia, karena itu dibenci oleh Allah dan manusia, karena semua manusia diciptakan segambar dengan-Nya, (bdk., Kej 1:27).
Rasisme Masih Tumbuh Subur
Tindakan dan kasus-kasus rasial tidak akan pernah hilang dalam kehidupan. Sebab rasisme telah berurat akar dan terjadi secara tersistem baik secara verbal maupun juga non verbal, secara langsung tetapi juga secara tidak langsung. Selagi sikap ego, dominasi dan ingin berkuasa ada dalam individu juga kelompok yang lebih berkuasa pasti selalu tumbuh kebiasaan mengintimidasi, meneror dan praktek-praktek sejenis lainnya agar kelompok atau individu-individu yang lemah tidak berkembang dan tetap selalu ada dalam genggaman.
Rasisme selalu tumbuh subur di daerah-daerah jajahan. Di hadapan yang dominan, kaum lemah tidak memiliki kemampuan dan kelebihan. Ketika kaum lemah mempunyai kemampuan distigma, sekaligus disandangkan aneka label, misalnya teroris, kriminal, separatis, dll. Kemampuan kaum lemah dianggap sebagai pengacau, kedamaian ketertiban dan pengganggu keamanan. Kaum berkuasa tidak ingin yang lemah berkembang dalam segala sisi karena tidak ingin setara dan bahkan melebihi.
Kaum lemah yang selalu menjadi korban rasis tumbuh dalam phobia, rasa takut secara mental yang tak tersembuhkan. Mereka merasa minder dan sering menyerah dan pasrah, merasa tidak bisa menghadapi tantangan, akhirnya putus asa dan frustrasi. Merasa kaumnya memang tidak bisa buat apa-apa, kelas atau kastanya rendah dan digariskan demikian dari sononya. Karena itu menerima pelabelan dalam ketidakberdayaan dan menghidupinya turun-temurun dalam sikap pesimis.
Kebiasaan rasis membuat orang lain terbunuh masa depan, sekaligus menghilangkan jejak masa lalunya. Kebiasaan ini menjadikan sesama yang lain sebagai objek, mereka hadir untuk melengkapi dan menyempurnakan kehidupan kaum kuat atau kaum dominan dan tidak lebih dari itu. Martabat sebagai manusia yang secitra dihilangkan. Kaum lemah tidak berbeda dengan alat atau sarana-sarana untuk memperlancar bisnis atau usaha kaum pemodal dan penguasa.
Rasisme tumbuh di hampir semua tempat dan zaman, baik secara pribadi maupun publik. Sikap yang merasa orang lain tidak sehebat saya, orang lain tidak harus melebihi saya dan orang lain harus ada di bawah saya merupakan tindakan rasial, dominasi dan diksrimanasi yang tumbuh secara tidak sadar dan secara masif hingga saat ini dalam egoisme, keangkuhan dan hegemonitas.
Harapan Utopis Kaum Lemah: Hilangnya Akar Rasisme
Doa dan harapan kaum lemah yang selalu mendapatkan bully atau diakrimasi adalah kebiasaan juga sikap rasis lenyap dari muka bumi. Kaum kecil dan kelompok minor yang mendapatkan tekanan dan penindasan mengharapkan pengakuan kesamaan hak hidup sebagai manusia. Mereka mengimpikan, bahkan dengan penuh hati-hati berjuang untuk mendapatkan kesamaan hak dan derajat.
Mereka yang menyadari perlakuan rasis dan dominasi dari kaum dominan dan berkuasa merangkul dan mengorganisir untuk keluar atau mengeluarkan diri dari genggaman penguasa. Kaum lemah menyatukan mimpi-mimpi pembebasan untuk mengeluarkan diri dari sikap-sikap diskriminasi.
Harapan-harapan utopis ditariknya dalam pergerakan-pergerakan hidup sehari-hari, sering juga dengan memobilisasi masa dan membuat aksi-aksi protes. Setiap individu mulai mengatur langkah dan strategi, menentukan arah dan misi perjuangan menempu pengakuan kesetaraan hak hidup. Kaum lemah mengubah harapan-harapan yang sifatnya utopis, menjadi gerakan-gerakan mesianik, mulai menunjukkan gigih, menunjukkan kemampuan serta kehebatan untuk meyakinkan kepada dunia dan merebut kembali hak yang dihilangkan, bahwa semua manusia sama-sama dari Allah dan harus mendapatkan hak yang sama.
Semua Manusia Sama Di Hadapan Allah
Semua manusia di dunia adalah gambar Allah sendiri (Kej 1:27), atau bahasa Latinnya adalah imago Dei. Setiap kehadiran manusia menunjukkan wajah Allah siapa pun dan di mana pun, apa pun warna kulit dan golongan atau status sosialnya. Di hadapan Allah tidak ada perbedaan. Semua manusia diciptakan oleh dan karena itu hanya Allah yang berkuasa menghakimi dan mengadili manusia.
Karena semua manusia adalah gambar Allah sendiri maka manusia tidak punya kuasa untuk menjatuhkan atau mendiskriminasi. Tuhan tidak ingin, bahkan membenci manusia yang saling membelenggu dengan aturan yang dibuat oleh manusia untuk saling memperangkap. Tuhan tidak ingin manusia saling membunuh, bahkan sekalipun saling mendustai dan mengatakan jahil kepada orang lain. Siapa yang mengatakan jahil harus dihukum, (Bdk., Mat. 5:22), apalagi yang mengintimidasi, mendiskriminasi dan membunuh harus. Tuhan pasti akan menghukum setiap orang yang memperlakukan sesama manusia setara binatang.
Penutup
Manusia adalah manusia dan karena itu setiap manusia harus diperlakukan sebagai manusia. Allah yang menciptakan manusia pun mempunyai tujuan, tujuan utamanya adalah setiap manusia menjaga dirinya juga sesama manusia yang lain sebagai gambar Allah: dengan perintah imperatif, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.” (Kej 9:1). Karena itu Allah melarang membunuh (Bdk., Kel 20:13). Semoga setiap manusia mendapatkan penghormatan dan penghargaan setinggi-tingginya dan tidak saling menjatuhkan satu terhadap yang lain. Semoga setiap dan semua manusia hidup saling berdampingan, tercipta damai dan kebebasan hakiki demi memenuhi bumi, sesuai perintah Pencipta, karena dengan tujuan itulah Allah menciptakan manusia.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika