Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Orang muda adalah tulang punggung Gereja atau bangsa. Kehadiran, keberadaan sekaligus keaktifan orang muda memberikan semangat bagi kehidupan menggereja dan berbangsa. Tanpa pemuda, bangunan sebuah bangsa atau Gereja dapat bertahan lama. Orang-orang muda menjadi tiang-tiang penyangga bagi bangunan Gereja dan bangsa. Ketika orang muda mudur, tidak aktif, bahkan hilang dan mati, sangat mustahil bagi Gereja dan bangsa bertahan melewati badai kehidupan. Orang Papua memiliki Gereja dan bangsa, bagaimana peran orang tua hingga saat ini? Berkaitan dengan kenyataan banyak orang muda yang mati, gereja dan bangsa mau dibawa ke mana? Bahan lanjutan dari PYD II di Nabire, tahun 2025.
Orang Muda Papua
Orang Muda Papua adalah manusia yang memiliki tubuh fisik, tubuh jiwa dan tubuh roh. Orang muda Papua harus menghidupi dan sekaligus menghidupkan ketiga tubuh ini secara merata dan seimbang. Ketika salah satu dari tubuh tidak diperhatikan, tidak mendapatkan asupan, maka pasti akan mengalami ketimpangan-ketimpangan dalam hidup.
Orang muda Papua yang menghidupkan ketiga tubuh dalam diri ini secara tepat dan terus-menerus, akan tumbuh sebagai pribadi-pribadi yang berintegritas, berdikari dan mandiri. Mereka akan mampu melewatkan badai, kerikil dan tantangan dalam kehidupan. Kehidupannya penuh makna dan arti bagi Gereja dan bangsanya.
Tubuh fisik, jiwa dan roh harus diberikan makanan setiap hari agar dapat tumbuh menjadi pribadi-pribadi dewasa, bijaksana dan berwibawa yang tidak diragukan bagi diri juga bangunan Gereja dan bangsa. Makanan dan minuman bagi tubuh fisik misalnya: petatas, singkong, papeda, air, dll. Sedangkan makanan bagi jiwa adalah ilmu pengetahuan. Selanjutnya mananan bagi roh bagi orang kristiani adalah baca kita suci, baca buku-buku rohani, berdoa dan melakukan ziarah-ziarah rohani. Bisanya, makanan fisik diperolah di kebun melalui kerja; makanan jiwa diperolah di sekolah melalui studi; dan makanan rohani diperoleh di gereja melalui doa-doa dan peribadatan atau ret-ret.
Orang muda Papua yang menyadari tiga tubuh dalam dirinya, selanjutnya memberi makan tepat waktu terhadap mereka, sambil menjaga kesehatan dari ketiga tubuh yang dimaksud, orang muda Papua akan hidup dalam penuh kesigapan dan kesiapan. Mereka hidup penuh berwibawa dan dalam integritas yang tinggi: tidak mudah terprovokasi, terpengaruh dan terhasut oleh isu-isu murahan, oleh arus zaman yang membelenggu, bahkan mematikan.
Orang muda Papua yang tidak menyadari tiga tubuh, atau bahkan tidak menyadari sebagai manusia, selalu jatuh dalam cobaan-cobaan. Mereka terhempas oleh badai dan arus zaman yang negatif. Orang muda Papua yang tertarik pada pengaruh perkembangan zaman yang negatif telah tertelan bumi dengan tinggal nama (kenangan), padahal orang muda adalah harapan Gereja dan bangsa.
Kenyataan kematian orang muda Papua kini yang hidupnya tidak berdikari dalam nilai-nilai budaya, moralitas yang baik, dan iman yang benar adalah kenyataan yang tak terelahkan. Perkembangan digital atau perkembangan media sosial menjadi pintu manusia muda Papua terpengaruh dan sekaligus terjerumus. Konsumsi infomasi dari media sosial tidak selektif. Pengontrolan orangtua dalam menggunakan alat-alat digital pun masih minim, bahkan tidak ada.
Antara kealpaan orang tua dalam mengontrol orang muda Papua menggunakan media digital dan kenyataan bahwa orangtua belum menanamkan nilai-nilai kultural, moral dan religius yang menumbuhkan ketiga tubuh tadi, terbentuk manusia-manusia tidak selektif, manusia pling-plang, tidak memiliki pendirian dan akhirnya tumbang terhempas badai perubahan zaman. Harapan sebagai tonggal atau tiang-tiang bangunan Gereja dan bangsa runtuh dengan sendirinya.
Saat ini orang-orang muda Papua mati seperti jamur di musim hujan. Hampir setiap hari, orang muda Papua mati bekisar 3 atau 4 perkabupatan. Penyebab kematian pun berbeda-beda dan yang paling sadis adalah mati karena penyakit HIV/AIDS. Tidak bisa dielakkan bahwa banyak orang muda Papua sedang saling membagi-bagikan virus HIV/AIDS yang mematikan ini tanpa rasa bersalah dan berdosa. Virus HIV/AIDS ini sedang mencabut akar-akar kehidupan orang Papua, yang adalah Gereja paling dasar.
Gereja Papua
Gereja adalah kita manusia, demikian isi ringkas memahami Gereja pasca Konsili Vatikan II yang dilaksanakan tahun 1952. Sejak Konsili Vatikan II Gereja membuka diri terhadap dunia dan memahami Gereja sebagai “yang ada bersama dan berziarah bersama” sambil merasakan apa yang dunia rasakan dan berjuang bersama membaharui dunia menuju Gereja abadi di Surga (GS art.1).
Ketika tubuh manusia adalah Gereja, maka orang-orang muda Papua yang sedang mati adalah Gereja-Gereja Papua yang sedang mati tanpa disadari. Orang-orang muda Papua adalah Gereja-Gereja muda Papua yang sedang berziarah menuju Allah.
Orang-orang muda Papua adalah tulang punggung Gereja secara kelembagaan. Orang Muda Katolik Papua memiliki peran penting dan strategis sebagai tiang-tiang penyanggal bagi Gereja. Gereja dapat berdiri kokoh ketika orang-orang muda Papua menjadi tiang-tiang yang kuat dan dalam upaya mempertahankan Gerejanya dari terpaan badai dan gelombang.
Orang muda Papua adalah harapan Gereja dan bangsa. Mereka menjadi tiang-tiang yang sedang menyangga bangunan Gereja. Tiang-tiang penyangga ini, sebagian sedang dimakan oleh binatang-binatang kecil, kadang mengalami lapuk-lapuk dini karena cara berada yang tidak bertanggung jawab dan tidak menyadari bahwa setiap diri orang muda Papua adalah tiang bagi bangsa dan Gereja. Akibat ketidak sadaran dan tidak mampu mempertanggung jawabkan diri, sebagian tiang-tiang sudah lapuk dan bahwa sebagian sudah patah (rubuh).
Gereja Papua kini sedang ada dalam kebingungan, ada di perimpangan jalan: sedang menimbang antara harus maju atau bertahan, atau bahkan mundur dan menyerah. Gereja pasrah pada kenyataan bahwa orang muda yang adalah tulang punggung patah-patah dalam kebiasaan hidup dan pengaruh dunia yang tidak bersahabat dan beradab, bahkan tidak beriman. Orang-orang muda Papua kehilangan akar-akar iman dan budaya, dengan lebih mementingkan kehidupan modern yang lebih sekular dan terbatas pada kenikmatan duniawi.
Penutup
Gereja punya tumpuan harapan adalah orang muda. Gereja tanpa orang muda ibarat membangun gereja tanpa tiang. Orang muda adalah tiang, namun kini tidak itu sedang tergerus oleh arus zaman. Tiang-tiang Gereja mulai lapuk dan termakan binatang-binatang kecil. Daya-daya Gereja makin melemah bahkan hancur. Ketika orang-orang muda Papua tidak sadar dan kebiasan negatif masih digenggam erat, Gereja pasti akan hancur lebur dan tercatat sejarah hitam bagi gereja Papua.
Penulis adalah Dosen STK “Touyee Paapaa” Deiyai, Papua