NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM – Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah mendesak Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) untuk mengganti Kapolda Papua Tengah. Mereka menilai kepemimpinan Kapolda saat ini gagal menangani berbagai kasus kriminal dan konflik di Papua Tengah.
Desakan ini disampaikan melalui siaran pers yang diterima Jelatanewspapua.com, Selasa (12/08). Dalam pernyataan tersebut, Pemuda Katolik Papua Tengah menyoroti sejumlah kasus yang belum terungkap hingga saat ini, mulai dari begal, pencurian, hingga pembunuhan yang terjadi di Nabire.
Mereka juga menyoroti peristiwa penembakan di Kabupaten Dogiyai yang pada tiga remaja, yakni Yuventus Degei (14), peluru mengenai bahu hingga tembus ke belakang, Edion Tebai (14), peluru mengenai bahu hingga tembus, dan Martinus Tebai (14), tewas ditembak bagian paha dan mengenai alat kelaminnya, semuanya hingga kini belum menemukan titik terang pelaku maupun aktor di baliknya.
“Berbagai kasus ini menunjukkan lemahnya penegakan hukum dan kinerja kepolisian di Papua Tengah. Keamanan warga tidak terjamin, dan masyarakat hidup dalam rasa takut,” tulis Pemuda Katolik Papua Tengah dalam siaran pers.
Selain di Nabire dan Dogiyai, Pemuda Katolik juga menyoroti kondisi di wilayah Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Papua yang hingga kini masih dilanda konflik. Pendropan aparat keamanan disebut tidak menghentikan kekerasan, bahkan membuat warga sipil harus mengungsi demi keselamatan.
Atas situasi ini, Pemuda Katolik Komda Papua Tengah meminta Kapolri segera melakukan langkah-langkah berikut:
Pertama; Mengevaluasi kepemimpinan Kapolda Papua Tengah di bawah pimpinan Irjen Pol Alfred Papare, termasuk Kapolres Nabire dan Kapolres Dogiyai.
Kedua; Memberikan jaminan keamanan sosial bagi seluruh masyarakat Papua Tengah, khususnya di wilayah rawan konflik.
Ketiga; Mengungkap aktor yang berada di balik rangkaian kerusuhan dan konflik sosial yang terus berulang.
Keempat; Memperkuat sistem keamanan agar aktivitas masyarakat dan pembangunan dapat berjalan tanpa gangguan.
Pemuda Katolik menegaskan bahwa lima wilayah, yakni Nabire, Dogiyai, Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya dan Papua Tengah secara umum, kini telah menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tinggi yang mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi.
“Kami berharap Kapolri tidak menutup mata. Rakyat butuh kepemimpinan yang mampu memberikan rasa aman, mengungkap pelaku kejahatan, dan menghentikan konflik yang sudah terlalu lama membayangi Papua Tengah,” tutup pernyataan tersebut.