Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Orang tertindas sering disebut dengan orang yang teraniaya atau mereka yang mengalami kesengsaraan. Orang tertindas senantiasa mengharapkan bantuan dari sesama, terutama Tuhan. Mereka senantiasa meminta perlindungan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka senantiasa menuntut keadilan dan senantiasa merindukan hidup yang aman, damai dan bebas. Orang beriman yang tertindas senantiasa berlindung di dalam Tuhan yang diimani sebagai Penguasa, Hakim, Pembebas, Pelindung dan Penjaga. Mereka merasa dalam perlindungan-Nya tetap aman dan bebas.
Tuhan
Tuhan bagi umat Kristiani merujuk pada pribadi ilahi dan adikodrati, atau konsep tentang keilahian dan entitas tertinggi, yakni yang menciptakan dan sekaligus mengatur alam semesta. Tuhan adalah yang abadi dan supranatural yang menciptakan langit, bumi beserta isinya dan menciptakan makhluk-makhluk yang ada di bumi. Tuhan dikonsepkan sesuai dengan pengalaman hidup, sekaligus berdasarkan pengetahuan yang diperolehnya. Memahami tentang Tuhan pun, seperti dikatakan Santo Agustinus dari Hippo ibarat, “memasukan air laut ke dalam kolam kecil”. Artinya, Tuhan tidak dapat dipahami atau diketahui secara jernih dan murni, hanya dicari dengan diikuti dengan iman.
Tuhan Kaum Tertindas
Pertama, Tuhan sebagai Penjaga. Bagi orang beriman yang mengalami kesengsaraan, pengniayaan dan ketertindasan, mereka melihat Allah sebagai penjaga, yang memberi perlindungan dan keamanan. “Siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedasyarakatan malapetaka.” (Ams 1:33). Teks ini mau mengatakan orang tertindas selalu berpegang teguh pada “kebijaksanaan dan hikmat” dari Allah. Jadi, ketika kaum tertindas merasa tidak berdaya dan tidak ada harapan, mereka berlindung dan menyerahkan diri pada keagungan, belaskasihan dan perlindangan Tuhan. “Biarlah kami jatuh ke tangan Tuhan, tatapi jangan ke dalam tangan manusia! Sebab sama seperti keagungan-Nya demikian pun belas kasihan-Nya!” (Sir 2:18).
Umat Israel yang percaya pada Pencipta melihat Tuhan sebagai Penjaga. “Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” (Mzm 121:4). Penjaga Israel tidak pergi jauh meninggalkan umat-Nya. Iman inilah yang dibangun turun-temurun, dari generasi ke generasi, hingga mereka memperoleh atau mendapatkan tanah terjanji. Umat Israel Percaya pada penjagaan Allah yang perkasa yang menjaga dan menuntun mereka dalam perjalanan menuju tanah Kanaan dari perbudakan Firaum di Mesir. (Bdk., Ul 26:5-10).
Kedua, Tuhan sebagai Hakim. Orang tertindas atau orang yang ditindas senantiasa mengharapkan belasan. “Barang siapa membalas dendam akan dibalas oleh Tuhan.” (Sir 28:1). Menurut Taurat Tuhan ia menghakimi himpunan rakyat, dan dengan rela Tuhan memandang Yakub.”(Sir 46:14).
Ketiga, Tuhan sebagai Harapan. “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpa dalam pengharapan.” (Rm 15:13). Pengharapan kaum tertindas tidak sebatas utopis melulu, melaikan mesti pengharapan propetis dan mensianis, berharap sambil berjuang. “… dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Rm.5:4).
Setiap orang yang ada dalam suasana tertindas, atau ditindas harus memiliki harapan dan harapan harus kuat. Kehilangan harapan bagi kaum miskin dan tertindas, sama arti dengan membunuh diri dan kehilangan masa depan. Kekuatan berpengharapan menunjukkan daya tahan dan daya dorong untuk terus melangkah. Pengharapan bagi orang Kristen yang menderita, tertindas harus pada Tuhan. Hanya pada Tuhanlah tumpuan harapan hidup.
Keempat, Tuhan sebagai Pembebas. Orang tertindas mengimani Tuhan dengan Pembebas yang akan mengeluarkan atau membebaskan mereka dari segala ketertindasan dan perbudayakan yang dialami. Tuhan menciptakan manusia dan segala suatu untuk dibebaskan atau diselamatkan. Kehendak utama Allah menciptakan segala sesuatu adalah untuk menjadi rekan kerja Allah, atau agar tetap menjadi gambar dan rupa Allah. Ketika, manusia sebagai gambar dan rupa Allah hilang karena kejatuhan dalam dosa (Kej 3:1-21; 1Tim 2:14), Allah berinisiatif membebaskan manusia dengan mengutus Pribadi kedua, yakni Yesus turun ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia.
Tujuan Allah menciptakan manusia jelas, yakni membebaskan atau menyelamatkan manusia dikalah manusia jatuh dalam pencobaan dan dosa. Kasih Allah melampaui perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia. Kalaupun manusia meninggalkan Allah, Allah tetap hadir dan menyertai manusia, terlebih di saat manusia rapuh dan tertindas.
Setiap manusia yang merasa diri tidak berdaya, tertindas dan sengsara wajar dan semestinya berharap dan percaya kepada Yesus sebagai Pembebas. Dalam setiap usaha dan perjuangan, Yesus harus menjadi satu-satunya spirit (kekuatan) untuk mencapai kemenangan. Tuhan pasti akan hadir bersama, berjalan bersama, tinggal bersama, berjuang bersama untuk melawan penindasan dan penganiayaan.
Realitas Ketertindasan di Papua
Realitas penderitaan atau ketertindasan yang dialami di Papua tidak sedikit, bahkan hingga korban nyawa. Realitas ketertindasan yang dialami secara pribadi maupun secara keseluruhan, baik secara langsung (tanpa terencana), maupun secara terencana dan terprogram atau tersistem. Sejarah ketertindasan yang dialami di Papua bukan dalam waktu yang singkat, melainkan lama dan massif.
Kenyataan ketertindasan di Papua hingga saat ini, “tidak baik-baik saja”. Dalam suasana ini berharap pada Tuhan sebagai Pembebas, Hakim yang Adil, sambil sambil melibatkan-Nya untuk merombak, memperbaharui atau mengubah situasi dibutuhkan. Bersama Tuhan mengubah situasi ketertindasan menjadi penuh berkat, damai, bahagia dan sejahtera.
Penutup
Tuhan bagi kaum tertindas adalah Pembebas, Hakim dan harapan. Orang tertindas mengharapkan dan selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup dan perjuangan. Bersama Tuhan berusaha agar realitas-realitas ketertindasan tidak berlama-lama menimpah hidup. Mereka senantiasa mengharapakan pembalasan yang adil dan sekaligus memohon pembebasan. Orang Israel yang tertindas mengandalkan Allah dalam pembelaan mencapai Tanah terjanji adalah contoh bagi orang-oran g yang ada dalam ketertindasan dan penjajahan untuk mengimpikan tanah terjanji, sekaligus mengharapkan bersama Tuhan mencapai tanah kemerdekaan. Yesus mengambil peran penting dan utama dalam membebaskan manusia yang tertindas oleh dosa untuk mencapai kepenuhan menjadi anak-anak Allah yang merdeka. Hanya bersama Tuhan dan mengantalkan-Nya, setiap orang yang mengalami situasi kekerasan, penganiayaan, penindasan dan perbudakan mencapai kehidupan yang pantas dan layak. Berbahagialah mereka yang tertindas mengandalkan Tuhan, karena mereka akan mendapatkan kebebasan.
Penulis adalah Dosen STK “Touyee Paapaa” Deiyai, Papua