DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Warga di Kabupaten Dogiyai kembali bersuara lantang soal buruknya pelayanan listrik dari PLTD Deiyai. Kondisi ini diperparah dengan terputusnya akses jalan Trans Nabire–Ilaga di sejumlah titik, terutama di kilometer 139 dan 141.
Dampak langsung dari kejadian tersebut dirasakan masyarakat di tiga kabupaten: Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Hal itu disampaikan Anggota DPR Papua Tengah, Elias Anou, dalam keterangannya kepada media, Minggu (24/08).
“Yang paling terasa adalah persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM), baik untuk penerangan PLTD di Deiyai maupun untuk kebutuhan kendaraan roda dua dan roda empat. Setelah jalan terputus, harga bensin di Dogiyai melonjak hingga Rp 50 ribu per liter,” ungkapnya.
Pemerintah Provinsi Papua Tengah disebut telah melakukan langkah darurat dengan mendrop BBM melalui jalur udara lewat Bandara Waghete. Namun, masyarakat masih menilai pelayanan listrik oleh PLTD Deiyai jauh dari normal.
“Biasanya lampu dinyalakan pukul 19.00 WIT, tetapi hanya bertahan sampai pukul 00.00 WIT sudah padam lagi. Ini menimbulkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat,” keluh sejumlah warga.
Pertanyaan besar pun mengemuka: bantuan BBM yang disalurkan pemerintah provinsi untuk PLTD sesungguhnya sampai ke mana? Apakah benar dipakai untuk kepentingan rakyat atau ada pihak yang bermain di balik layar?
Elias menegaskan, Komisi DPR Papua Tengah yang terkait harus segera memanggil PLN maupun dinas teknis untuk menjelaskan persoalan ini secara terbuka.
“Rakyat tidak boleh terus dikorbankan dengan alasan distribusi BBM yang tidak jelas. Harus ada transparansi penggunaan BBM bantuan pemerintah provinsi untuk PLTD,” tegasnya.
Sementara itu, warga Dogiyai dan sekitarnya berharap pemerintah provinsi, bisa duduk bersama mencari solusi permanen agar akses energi dan transportasi tidak selalu tergantung pada situasi jalan maupun distribusi udara yang penuh keterbatasan.