DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Kepala Distrik Kamu, Markus Auwe, mengingatkan masyarakat agar tetap berkebun meski beras raskin dibagikan oleh pemerintah. Ajakan ini ia sampaikan saat penyaluran beras raskin ke delapan kampung di wilayah Distrik Kamu beberapa hari lalu, tepat pada Rabu (27/08).
Menurut Markus, beras raskin memang menjadi kebutuhan tambahan bagi masyarakat, namun tidak boleh membuat warga meninggalkan kebiasaan menanam dan mengelola hasil kebun mereka. Ia menegaskan, berkebun adalah kekuatan dan jati diri masyarakat yang harus terus dijaga.
“Banyak masalah yang saya hadapi di lapangan sebagai tantangan hidup. Tetapi saya juga mau bilang terima kasih kepada masyarakat yang sudah menerima kenyataan saat ini,” ujar Markus saat ditemui di sela kegiatan.
Markus menekankan, meskipun beras raskin disalurkan, masyarakat tidak boleh menggantungkan seluruh hidupnya pada bantuan beras tersebut.
“Jangan terpengaruh dengan situasi apapun. Kita harus tetap berkebun, kita harus tetap menanam, supaya hasil tanam kita tidak hilang dari kehidupan kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan, hasil kebun bukan hanya soal makanan, tetapi juga bagian dari identitas dan sumber kekuatan masyarakat. Ubi, keladi, pisang, dan sayur-sayuran yang tumbuh subur di tanah Kamuu disebutnya sebagai modal besar untuk menjamin kehidupan jangka panjang.
Markus menambahkan bahwa beras hanyalah alternatif sementara. Sumber kehidupan orang Mee sejak dulu adalah hasil kebun, dan hal itu menurutnya harus diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang oleh perubahan zaman.
Dalam kesempatan itu, Markus juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat delapan kampung yang telah sabar menerima pembagian raskin, meski masih ada keterbatasan dalam jumlah dan distribusi.
“Raskin tidak bisa memenuhi semua kebutuhan. Maka mari kita kembali ke kebun, kembali rawat hasil tanam kita sendiri, itu yang menjamin masa depan,” katanya.
Ia menilai ketahanan hidup hanya akan kuat bila masyarakat tidak melepaskan kebiasaan menanam dan mengembangkan hasil kebun. Dengan begitu, beras yang datang dari luar hanya menjadi pelengkap, bukan penopang utama kehidupan.
Suasana pembagian beras raskin di delapan kampung berlangsung tertib. Warga datang dengan penuh harapan, menerima bagian mereka, lalu kembali ke rumah masing-masing. Beberapa warga mengaku bantuan beras memang meringankan beban, tetapi mereka sepakat dengan ajakan Kepala Distrik untuk terus mengolah kebun.
“Kalau hanya beras, cepat habis. Tapi kalau kita tanam ubi, pisang, keladi, bisa makan kapan saja,” ujar salah seorang warga penerima raskin.
Ajakan Kepala Distrik Kamu untuk terus berkebun menjadi pesan penting di tengah dinamika sosial yang terus berubah. Ia percaya hanya dengan kembali ke kebun masyarakat bisa berdiri tegak tanpa terlalu bergantung pada bantuan luar.