JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Kisah inspiratif datang dari Melkianus Pase, S.Pd, pria asal Distrik Pasema, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang resmi menyelesaikan studinya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Cenderawasih. Di balik keberhasilannya meraih gelar sarjana, tersimpan perjuangan panjang dan kerja keras, termasuk membiayai kuliahnya sendiri dengan berjualan roti bakar.
Melkianus memulai perjalanannya sejak tahun 2021 ketika pertama kali bertemu Nelson Wandikbo, pendiri Komunitas ROT-BAR KOMPAK, di Jalan Waena, Jayapura. Saat itu, Nelson sedang berjualan di depan Asrama Mimika Perumnas I Waena Jayapura, Papua. Pertemuan singkat tersebut menjadi titik balik dalam hidup Melkianus.
“Saya tertarik dengan perjuangan Kakak Nelson. Waktu itu saya dekati beliau dan disambut baik. Sejak saat itu, saya ikut belajar dan berjualan roti bakar bersama beliau,” kenang Melkianus.
Dari Pedagang Kaki Lima hingga Sarjana, Selama empat tahun kuliah di Jayapura, Melkianus bukan hanya fokus belajar, tetapi juga aktif berjualan roti bakar demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Hasil dari penjualan itu menjadi sumber utama biaya kuliah, makan, dan kebutuhan sehari-hari.
“Saya sangat berterima kasih kepada Kakak Nelson Wandikbo. Berkat bimbingan dan kesempatan yang beliau berikan, saya bisa mandiri sampai akhirnya lulus kuliah. Semua ini karena pertolongan Tuhan Yesus,” ucapnya penuh syukur.
Kini, Komunitas ROT-BAR KOMPAK yang didirikan Nelson dan dikembangkan bersama Melkianus telah memiliki dua gerobak roti bakar di Jayapura dan membuka **dua cabang di Wamena, serta satu gerobak ROTI BAKAR Yame di Kotaraja.
Nelson Wandikbo, sebagai pendiri, bangga melihat anak-anak Papua dapat berkembang dan mandiri melalui usaha kecil ini.
“Kami ingin membuka lapangan pekerjaan baru bagi anak-anak Papua. Ilmu yang saya pelajari dari pedagang kaki lima, saya turunkan lagi supaya generasi berikutnya bisa berdiri di atas kaki sendiri,” jelas Nelson.
Pesan untuk generasi muda Papua, Melkianus berharap kisahnya menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Papua, khususnya dari pegunungan, agar tidak menyerah meskipun kondisi ekonomi terbatas.
“Jangan kalah saing dengan teman-teman dari luar Papua. Walau ekonomi lemah, jangan putus asa. Tuhan punya rencana baik untuk kita. Kita harus berusaha mandiri dan berdiri di atas tanah sendiri,” tegasnya.
Melkianus juga menekankan pentingnya menguasai perekonomian di tanah sendiri. Menurutnya, anak-anak Papua harus berani memanfaatkan potensi lokal dan berdiri di atas kakinya sendiri.
“Kita punya tanah, tapi kita sering jadi penonton. Itu tidak baik. Kita harus merebut kembali perekonomian Papua dengan cara berusaha, berinovasi, dan bekerja keras,” tambahnya.
Setelah wisuda, Melkianus kembali ke tempat roti bakar di Jalan Warna, Jayapura. Dengan toga dan baju wisuda, ia melayani pembeli sambil membakar roti. Banyak warga yang singgah membeli sekaligus memberi ucapan selamat atas keberhasilannya.
Di sana, sambil memanggang roti dan melayani pembeli, banyak orang datang memberi ucapan selamat. Lapak kecil itu seketika berubah menjadi tempat perayaan sederhana atas kerja keras dan pencapaiannya.
“Saya sengaja datang ke tempat jualan setelah wisuda, karena di sinilah semua perjalanan ini dimulai. Dari tempat ini Tuhan memproses saya sampai bisa berhasil,” tutur Melkianus dengan mata berkaca-kaca.
Melkianus Pase telah membuktikan bahwa mimpi bisa diraih dengan kerja keras, iman, dan kemandirian. Kisahnya adalah simbol harapan bagi generasi muda Papua bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah hambatan untuk sukses. Ia ingin membuktikan bahwa dengan kerja keras, doa, dan semangat pantang menyerah, anak Papua bisa sukses di tanah sendiri
“Kita punya tanah, jangan hanya jadi penonton. Mari kita rebut kembali perekonomian di Papua, anak mudah bangsa Papua harus menjadi tuan di tanah sendiri,” tutup Melkianus.