Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

    Segera Hentikan Operasi Tambang Emas Ilegal di Kampung Mogodagi

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Bupati Paniai launching Kopdes Merah Putih, dorong ekonomi rakyat berbasis Desa

    Polisi Ditikam OTK di Dogiyai, Tiga Warga Sipil Dikabarkan Menjadi Korban Penembakan

    Dogiyai Gelar Musrenbang Otsus, Rancang Pembangunan 2027 Berpihak pada OAP

    IPPMMA-WUBWE Nabire rayakan HUT ke-31, Pengurus tegaskan persatuan dalam kasih Kristus

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    IPPM-NTD se-Jayapura gelar pelatihan dan simulasi mekanisme persidangan

    Bupati Dogiyai Keluarkan Intruksi, Larangan Miras Hukuman 10 Tahun Penjara

    Pemaksaan penurunan bendera KNPB di Sentani picu ketegangan

    DPT, Uang Permisi, Hak Ulayat Hambat Pembangunan Dogiyai

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

    Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

    Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan”

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Polisi Ditikam OTK di Dogiyai, Tiga Warga Sipil Dikabarkan Menjadi Korban Penembakan

    Koalisi HAM Papua desak Presiden perintahkan Aparat hentikan dugaan penangkapan sewenang-wenang di Tambrauw

    Bupati Dogiyai Keluarkan Intruksi, Larangan Miras Hukuman 10 Tahun Penjara

    Koalisi HAM Papua desak Presiden perintahkan Aparat tangkap pelaku teror terhadap Andrie Yunus

    Forkopimda dan Masyarakat Dogiyai Sepakati Atasi Miras dan Penyakit Sosial, Instruksi Resmi Keluar Besok

    Biro HAM Klasis Debei Sesalkan Penghadangan Tim Harmonisasi di Kapiraya, Polisi Dinilai Lalai

    DPR Papua Tengah Minta Semua Pihak Dukung Upaya Penyelesaian Konflik Horizontal di Kapiraya

    KNPB Yahukimo Nyatakan Sikap atas Situasi “Darurat Penangkapan Liar” di Dekai

    Polemik Pernyataan Uskup Agung Merauke, Suara Kaum Awam Katolik Papua Desak Dialog Terbuka

  • Kesehatan

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

    Kabupaten Dogiyai Raih Penghargaan UHC Kategori Utama untuk Ketiga Kalinya

    33 Tenaga Medis dari Kemenkes Tiba di Dogiyai, Siap Layani Masyarakat di 15 Puskesmas

    Kawal Fesmed 2026, Dinkes Papua Tengah Siagakan Tim Medis dan Ambulans

  • Lingkungan

    Asrama Mahasiswa/i Kabupaten Paniai kota studi Nabire gelar pelantikan Badan Formatur 

    Komunitas Porter Paniai gelar evaluasi efektivitas layanan transportasi publik

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    Penyuluh Papua Tengah bagikan bibit bawang merah unggul ke Kabupaten Deiyai

    Forkopimda dan Masyarakat Dogiyai Sepakati Atasi Miras dan Penyakit Sosial, Instruksi Resmi Keluar Besok

    Bupati Dogiyai Ajak Masyarakat Tangani Penyakit Sosial

    Deiyai dan Dogiyai Desak Mimika Berkolaborasi Tangani Konflik Horizontal di Kapiraya

    Pemda Paniai gelar kerja bakti bersihkan wajah kota Enarotali

    DLH Paniai aktifkan Bak sampah di Enarotali dan Madi, dukung program “Paniai bebas sampah 2026”

  • Pendidikan

    Pamkab Dogiyai Buka Pendaftaran Beasiswa Afirmasi dan Program Baru Beasiswa Aimin

    SMK Karel Gobai Bagikan Seragam Sekolah, Tanamkan Semangat Disiplin dan Motivasi Belajar

    Kisah Inspiratif: Ev. Dr. Yefri Edowai Raih S3 Lewat Perjuangan Mandiri

    Sekolah Dasar di Paniai Gelar MBG untuk Siswa

    BEM STAK Nabire Gelar Seminar Nasional dan Pelatihan Jurnalistik, Wakil Ketua III Resmi Membuka Kegiatan

    SD YPPK Santo Yohanes Terima Fasilitas Pembelajaran, Target Hentikan Nyontek dan Tingkatkan Kreativitas

    Komunitas Literasi Dogiyai Dorong Literasi Siswa SD, Sebut Orang Papua Bukan Bodoh

    MUSPASMEE VIII : STK Touye Paapaa tegaskan Pendidikan penentu masa depan generasi muda Papua

    IPPMMA WUBWE Nabire Gelar Musyawarah Besar Ke-VII, Anastasia Agapa Jadi Ketua Baru

  • Religi

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

    Tim Penegak Daa dan Diyodou Rayakan Ulang Tahun ke-12

    Ketua Panitia MUSPASME VIII Tegaskan Kesiapan Sukseskan Musyawarah Pastoral Mee ke-VIII di Komopa

    Natal Penuh Damai di Pos PI Maranatha: Jemaat Rayakan Kelahiran Yesus Raja Damai

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Alam Papua: Paru-Paru  Dunia Yang Segara Diselamatkan

by Redaksi
12 September 2025
in Artikel Opini
0
SHARES
62
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Marius Goo, S.S., M.Fil

Pengantar

Ketika alam Papua dikatakan “paru-paru dunia” berarti setiap dan semua orang dipangggil untuk melestarikan atau menyelamatkan alam ciptaan, (Lukas Awi: Kanisius, 2018). Upaya-upaya penyelamatan alam tentu harus melibatkan Pencipta yang tidak menginginkan kehancuran, karena baik lingkungan alam maupun manusia berasal dari Allah seperti disampaikan Frederich Hegel, kalaupun Ludwig Feuerbach (1804-18730) menolak pandangan Hegel ini, (Johanis H., Seminari Pineleng, 2021).  sebab yang terlihat dan nyata dilihat dan dijalani adalah manusia sendiri dan alam itu sendiri.

Pemerintah baik darah maupun pusat memiliki tanggung jawab penuh dalam mengamankan hutan Papua. Pemerintah tidak bisa secara sewenang-wenang mempergunakan kekuasaan untuk mengizinkan aneka perusahan masuk merusak alam Papua. Orang-orang beriman yang percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus yang menciptakan alam Papua melakukan kajian-kajian teologis dan spiritual dalam upaya penghargaan alam sebagai kediaman segala makluk. Dalam usaha ini, Ensiklik dari Paus Fransiskus 1 tentang Laudato Si’ dan Fratelli Tutti ikut andil memperkaya wawasan Teoekologis dalam menjaga keutuhan ciptaan Tuhan. Gereja tidak tinggal diam, tapi bekerja dalam diam, bekerja dalam keheningan, tidak ikut ramai dalam keramaian untuk menggali dan masuk lebih dalam, (lih., Biru Kira: Kanisius, 2020) dan menemukan akar-akar persoalan. Di samping itu, para akademisi harus melakukan kajian-kajian ilmiah dalam menyelamatkan bumi Papua. Selanjutnya, orang Papua sebagai pemilik pulau Papua tidak berpangku tangan dan sekaligus tidak memberikan izin kepada investor (pemodal) yang masuk merusak alam Papua.

Alam Papua

Kata Papua mengandung makna alam (tanah) dan juga manusia (lih., Marius: Bintang Sejahtera, 2018). Kesatuan antara manusia dan tanah tidak terlepas dari dasar biblis, bahwa manusia diciptakan dari tanah liat (bdk., Sir 33:10), selanjutnya manusia tubuhnya akan kembali menjadi tanah sepeperti semula dan roh akan kembali kepada Allah yang mengaruniakan (bdk., Pkh 12:7).

Secara kultural manusia Papua memiliki korelasi yang harmonis. Orang Papua meyakini alam sebagai manifestasi tubuh manusia: rumput sebagai rambut, kayu sebagai tulang, kali sebagai air mata atau susu, tanah sebagai daging, dll., (lih., Marius Goo, Skripsi di STFT, 2014). Alam adalah tubuh manusia sendiri dan sebaliknya tubuh manusia adalah alam.

Allah Menciptakan Alam Papua dengan Kasih demi Kasih

Alam Papua yang kaya akan sumber daya alam dari Sorong sampai Merauke bukan kebetulan ada. Alam Papua adalah paru-paru dunia yang memberika oksigen alami bagi keberlangsungan hidup segala makhluk.  Kekayaan alam yang melimpah tidak mungkin diadakan secara mendadak, asal-asalan dan tanpa Tujuan. Dalam Kisah Penciptaan (Kej 1:1-31; 2:1-7), Allah menciptakan dunia secara teratur, terencana dan rapi. Dasar biblis Allah ini, ketika direnungkan tentu memiliki relevansi untuk alam Papua. Artinya bahwa alam Papua diciptakan oleh Allah sendiri dari ketiadaan (creatio ex nihilo) dengan tujuan mulia. Dengan demikian, alam Papua tidak dapat dipandang dan sekaligus dihancurkan hanya demi bisnis dan ekonomi semata dengan dalil pembangunan, pemberdayaan atau kesejahteraan Nasional.

Kristianitas menurut Soren Kierkegaard, hidup  dan berkerja bagi sesama dengan ajakan “mari kita saling menjaga” (Yenny Yeski: Kanisius, 2020), dengan menempatkan cinta pada tempatnya. Mencintai alam adalah mencintai manusia sendiri. Pada dasarnya, Allah menciptakan segalanya dengan cintai, karena cinta dan untuk mencinta. Segala sesuatu ada dalam kerahiman kasihNya. Allah adalah kasih (Deus Caritas Est), dan barangsiapa tetap berada dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah ada di dalam dia (1Yoh 4:16); “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yan tunggal,” (Yoh1:16). Karena kasih itu pula, “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib,” (Flp 2:8).

Upaya Penyelamatan Alam Papua

Menyelamatkan lingkungan alam Papua bersifat mendesak dan segera. Urgensi penyelamatan bukan saja demi keselamatan manusia Papua dan Indonesia, namun sebaliknya melingkupi seluruh dunia. Papua merupakan jantung atau paru-paru dunia. Untuk menyelamatkan paru-paru paru dunia, setiap dan semua orang berkontribusi merawatnya dari kerusakan dan pengrusakan. Kebijakan apa pun dan oleh siapa pun untuk merusak alam, tidak dapat dibenarkan. Pemerintah juga masyarakat harus menaru kepeduluan dan keprihatinan mendalam atas alam sebagai rekan hidup, tidak dipandang sebatas objek semata sebagai lahan bisnis atau pengembangan ekonomi. Segela sesuatu tidak harus diuangkan atau tidak bisa dapat dipandang dari nilai ekonomis: untung dan rugi. Dalam usaha penyelamatan alam Papua, semua stakeholder harus bergabung jurus demi bonum commune dunia.

Memperjuangkan alam Papua tetap lestari dan utuh tidak bisa dilakukan hanya oleh orang Papua, sebab alam Papua adalah paru-paru dunia. Akibat kehancuran alam Papua tidak hanya akan dialami orang Papua, namun sebaliknya akan dirasakan oleh semua manusia di dunia. Dalam usaha penyelamatan alam Papua, dibutuhkan pendekatan ekologis dengan lebih menghargai segala ekosistemnya.

  1. Pemerintah Melalui Dinas Terkait

Alam Papua yang merupakan paru-paru dunia diundang semua stakeholder (pihak-pihak yang berwenang) menyatukan opsi dan persepsi untuk mencari upaya-upaya penyelamatan, terutama dinas lingkungan hidup, kehutanan dan pariwisata. Pemerintah pusat tidak dapat dibenarkan untuk memberikan izin tambang atau investasi di tanah Papua. Perusahaan-perusahaan yang dimasukan di Papua baik kecil maupun yang besar, baik nasional maupun berskala internasional selama ini telah merusak alam Papua. Melalui aneka macam perusahaan yang masu di Papua membuat  alam Papua menjadi rusak dan paru-paru dunia tidak dapat bernafas normal. Akibat yang dirasakan adalah meningkatnya sakit-penyakit dan bahkan korban nyawa dengan perubahan cuaca dan iklim yang tidak bersahat pada kehidupan manusia. Sense of forest sebagai oknum pemerintah dan masyarakat yang rendah membuat hutan hancur-hancuran, (Lukas Awi, Op. Cit., hlm. 87).

  1. Agama: Memaknai Ensiklik Laudato Si’ dan Fratelli Tutti

Santo Fransiskus dari Asisi menekankan bahwa alam ciptaan adalah saudara, bahkan rekan dalam memuji Allah (Ibid., Hlm. 93). Hal ini mau mengatakan bahwa manusia dan alam hanyalah sekedar sesame ciptaan, tidak ada yang lebih dan kurang.

Baca Juga:

Kantor KNPB Pusat Dijatuhkan Bom, Sebelumnya Pernah Diincar Upaya Pembakaran

Wakil Bupati Dogiyai Tegaskan Komitmen Perkuat Ekonomi Masyarakat Asli Papua

DPR Papua Tengah Minta Semua Pihak Dukung Upaya Penyelesaian Konflik Horizontal di Kapiraya

Kapolda Papua Tengah Minta Perusahaan Penambang Emas Ilegal di Kapiraya Segera Keluar

  1. Ensiklik Lautato Si’

“Laudaro Si’, signore”, yang artinya, “Terpujilah Engkau, Tuhanku” (Paus Fransiskus: 2015) merupakan Esiklik Paus Fransiskus. Paus Fransiskus berguru pada Santo Fransiskus dari Asisi dalam mengulas ensiklik ini. Paus memandang bumi sebagai sesama ciptaan, oase atau tempat tinggal segala makhluk. Oleh arena pendekatan terhadap alam harus lebih mengutamakan sipritulitas dan moralitas, bahwa segala sesuatu adalah rekan, sesama ciptaan yang harus saling membutuhkan. Paus menekankan para pemodal, perusahaan-perusahan yang merusak alam dengan pendekatan teknokrasi telah membuat bumi sebagai rumah bersama hancur, karena itu perlu melakukan pertobatan ekologis, perlu adanya keadilan antar generasi, bahwa bumi dirusakan hari ini, anak cucu akan menuai derita dan kematian. Dengan demikian orang saman sekarang, tidak meninggalkan malapetaka dengan merusak alam bagi generasi selanjutnya.

  1. Ensiklik Fratelli Tutti

Ensiklik “Fratelli Tutti”, artinya “saudara sekalian”, (Paus Fransiskus: 2020)  dari Paus Fransiskus. Ensiklik ini juga berguru pada Santo Fransiskus dari Asisi. Santo Fransiskus dari Asisi menyapa semua saudara dan sudarinya dan mewartakan kepada mereka cara hidup yang memiliki cita rasa Injil. Santo Fransiskus menyetakan berbahagialah mereka yang mengasihi saudaranya “ketika ia berada jauh darinya, sama seperti kalau saudara itu ada di sampingnya” (Leo Laba Ladjar:  Kanisius, 2001). Paus Fransiskus mengajak semua orang mendengati atau mempergunakan alam sebagai subjek, pribadi yang memiliki eksistensi dan maksudnya seperti manusia sendiri yang hidup memiliki makna. Memandang alam dari persaudaraan sesama ciptaan, bukan memandangnya sebagai objek dari untung atau rugi dengan pandangan meluluh ekonomi semata.

Penutup

Nyatanya alam Papua adalah paru-paru dunia. Ketika paru-paru ini terganggu dunia tidak akan bernafas lega dan normal. Tidak mengalami musibah sakit dan penyakit. Melalui pesan-pesan Injil (Kitab Suci), juka melalui ajaran Gereja, selalu diserukan untuk pentingnya penghargaan pada alam sebagai oase bagi kehidupan segala makhluk. Pada akhirnya, merusak lingkungan alam tidak laing adalah merusak tubuh sendiri. Bersama Pencipta sendiri yang mencintai semua ciptaaan, pasti bisa mempertahankan kedamaian dan keutuhan ciptaan Tuhan.

Kepustakaan

Tristarto, Lukas Awi, Panggilan Melestarikan Alam Ciptaan, 2018, Kanisius, Yogyakarta.

Raharusun, Johanis H.,  Makna Kerja Menurut Karl Marx, Jurnal Filsafat dan Teologi, 2021, Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Flores.

Kira, Biru, Bergerak Menjadi Papua, 2020, Kanisius, Yogyakarta

Goo, Marius, Pengantar Ke-dalam Manusia Mee, 2018, Bintang Sejahtera, Malang.

Goo, Marius, Nilai-nilai Kristiani Dibalik Perjuangan Mama Yosepha Alomang Bagi Hak Hidup Kaum Tertindas di Papua, Timika, 2014, Jayapura.

Mokorowu, Yenny Yeski, Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat, 2020,  Kanisius, Yogyakarta.

Ensiklik Laudaro Si’, Terpujilah Engkau dari Paus Fransiskus 2015, Cetakan Tahun 2018, Seri  Dokumen Gereja, KWI Jakarta.

Ensiklik “Fratelli Tutti”, Saudara Sekalian dari Paus Fransiskus, tahun 2020, Seri Dukumen Gerejawi No. 124, KWI Jakarta.

Ladjar, Leo Laba, Karya-karya Fransiskus dari Asisi, 2001, Kanisius, Yogyakarta.

Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika

Post Views: 1,331
Tags: Alam PapuaLingkunganOpiniPapua
Previous Post

ULMWP Kecam Penembakan dan Penyiksaan Beruntun oleh TNI/Polri di Papua

Next Post

Kepala Distrik Kamu Konsisten Belanja Jualan Mama-Mama Papua, Selaras dengan Visi dan Misi Bupati Dogiyai

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

2 minggu ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

3 minggu ago
Artikel Opini

Manusia Mee Bukan Binatang

4 minggu ago
Artikel Opini

Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

1 bulan ago
Artikel Opini

Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

1 bulan ago
Artikel Opini

Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

1 bulan ago
Next Post

Kepala Distrik Kamu Konsisten Belanja Jualan Mama-Mama Papua, Selaras dengan Visi dan Misi Bupati Dogiyai

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved