Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Dilantik Secara Sah, PASI Dogiyai Siap Cetak Atlet Berprestasi Hingga Tingkat Internasional

    Rumah Dinas Pemkab Dogiyai Terbakar, Dua Anak dan Lansia Berhasil Diselamatkan

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    KPK Tahan Tersangka Dugaan Korupsi Terkait Kepabeanan di Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu

    Tiga Kampung di Distrik Kamuu Raih Penghargaan dalam Lomba Antar‑Kampung Kabupaten Dogiyai

    KNPB Sentani Serukan Konsolidasi dan Aksi Nasional 15 Agustus 2026 di Tanah Tabi Papua

    Bupati Dogiyai Buka Monev Dana Otsus dan DAK 2026

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    Abni Auwe Terima SK DPC PBB Dogiyai, Siap Penuhi Syarat Verifikasi Pemilu 2029

    KNPB Nabire Serahkan Surat Pemberitahuan Aksi Nasional kepada Polres Nabire dan MRP Papua Tengah

    Panitia Mubes II Fajar Timur Resmi Dibentuk, Siap Satukan Seluruh Elemen Masyarakat Adat

    DPW dan DPD Tani Merdeka Papua Tengah Dukung Don Muzakir Jadi Wakil Menteri Pertanian

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

    OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

    Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

    Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

    Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Maybrat Berdarah Jelang 17 Agustus: YKKMP Negara Buka Fakta Minta Tiga Warga Sipil Terluka

    Juru Parkir Diduga Curi Noken Penjual di Depan Supermarket Hadi Biak

    IPMI-J Jayapura Dukung Aksi GPMI di Nabire, Desak DPR Papua Tengah Segera Tindaklanjuti Aspirasi Mahasiswa

    Mahasiswa Papua di Makassar Desak Investigasi Dugaan Pelanggaran HAM dan Dorong Dialog untuk Intan Jaya

    Dua Anggota TPNPB dan Seorang Warga Sipil Tewas dalam Operasi Militer di Yahukimo 

    IPMADO Dogiyai Tuntut Hentikan Militerisasi Pasca 5 Warga Tewas

    IPMADO: Kehadiran Militer Picu Ketakutan dan Lumpuhkan Aktivitas Warga Dogiyai

    Forum Solidaritas Mahasiswa di Gorontalo Serukan Perlindungan Warga Sipil dan Dialog Damai untuk Papua

    YKKMP: Penembakan Pilot dan Pembakaran Pesawat di Yahukimo Bertentangan dengan Prinsip Hukum Humaniter Internasional

  • Kesehatan

    Selamatkan Anak Negeri Paniai! KPA Gelar Sosialisasi Kepada Sahabat 06 Meepago Korwil Panai Diajak Cegah HIV/AIDS

    KPA Paniai Edukasi Ratusan Siswa SMP Negeri 1 Aradide tentang Pencegahan HIV/AIDS

    Adinkes Papua Tengah Perkuat Kemitraan PP-ATM di Paniai, Dorong Sinergi Lintas Sektor hingga Tingkat Kampung

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Ratusan Siswa Baru SMA Negeri 1 Paniai

    KPA Paniai Gelar Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS bagi Mudika Paroki Kristus Jaya Komopa, Tekankan Edukasi dan Hapus Stigma

    KPA Paniai Kembali Gencarkan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS di Jemaat Maranatha Klasis Agadide

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Training Tutor, Membangun Generasi Berkarakter dan Berdaya Saing

    PAR Koordinator Aweepaida Paniai Gelar Seminar dan Pelatihan, KPA Paniai Gencarkan Sosialisasi HIV-AIDS 

    Pengurus dan anggota KPA Paniai laksanakan pemeriksaan massal tes darah lengkap untuk deteksi HIV-AIDS

  • Lingkungan

    Masyarakat Paniai Himbau Hentikan Pembakaran Hutan, Siap Serahkan Pelanggar ke Jalur Hukum

    Porter Yonii Paniai Apresiasi Kepedulian Bupati Yampit Nawipa, Minta Sekretariat Resmi untuk Tingkatkan Pelayanan

    Intelektual dan Mahasiswa Distrik Fajar Timur Gelar Konsolidasi Perdana, Bahas Persiapan MUBES Ke-II

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Pemkab Nabire atas Bantuan Bibit Jagung bagi Petani

    KPA Kabupaten Paniai Gelar Rapat Panitia Persiapan Training Tutor AIDS

    DPW Tani Merdeka Papua Tengah Sosialisasi dan Tinjau Sektor Perikanan di Paniai

    Pemuda Kingmi Klasis Bogobaida Rayon Nabire Bergerak Galang Dana untuk Ret-Treat Akbar

    Porter Yonii Paniai Ajak Sopir dan Petugas Terminal Jaga Kekompakan di Karel Gobai Enarotali

    Film Pesta Babi Resmi Tayang di YouTube

  • Pendidikan

    Mahasiswa Afirmasi ADIK-ADEM Asal Intan Jaya Desak Pemkab Segera Cairkan Beasiswa, Sampaikan Delapan Tuntutan

    Kabid TK-PAUD Paniai: Sebanyak 515 Siswa dari 31 TK dan PAUD Telah Menyelesaikan Pendidikan Tahun Ajaran 2026

    Ketua BEM STAK Nabire Ajak Ratusan MABA 2026 Pahami Aturan Akademik dan Budaya Disiplin

    Di MPLS SMAN 2 Dogiyai, Kepala Distrik Kamuu Ajarkan Pemimpin Melayani

    TK Negeri Waikato Paapaa Aikai Buka Pendaftaran Peserta Didik Baru, Pendidikan Berkualitas Tanpa Dipungut Biaya

    TK Negeri Kagama Resmi Tamatkan 8 Siswa, Begini Pesan Kabid TK-Paud

    TK Negeri Ekadide Resmi Tamatkan 19 Siswa, Siapkan Generasi Emas Paniai

    17 Siswa TK Efata Kugitadi Resmi Ditamatkan, Kepala Sekolah Tekankan Pentingnya Pendidikan Sejak Dini

    TK Negeri Bobamo Gelar Penamatan, Kabid TK-Paud Apresiasi Dewan Guru dan Orang Tua 

  • Religi

    Panitia HUT Merangkap Natal 2026 Pos PI Maranatha Resmi Dilantik, Begini Pesan Hamba Tuhan

    Ketua Klasis Debei Letakkan Batu Pertama Rumah Pastori Jemaat Anugrah Dadimani

    Orang Muda Katolik Tulang Punggung Gereja, KYD Jadi Sarana Pembinaan Berkelanjutan

    Tutup KYD ke-5: Orang Muda Katolik Diminta Miliki Iman Militan dan Optimis

    OMK Diajak Hidupkan Budaya dan Iman Atasi Penyakit Sosial di Dogiyai

    Bangun Karakter Kuat, KYD 2026 Tekankan Nilai Kedamaian dan Keutuhan

    Komisi Kepemudaan: Datang ke Kamapi Youth Day, Pulang Harus Bawa “Hasil”

    Uskup Timika Buka Kamapi Youth Day 2026

    Misa Pembukaan KAMAPI Youth Day, Uskup Bernardus: Orang Muda adalah Aset Berharga

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Merayakan Pesta Salib Suci Dalam Konteks Ketertindasan Rakyat Papua

by Redaksi
14 September 2025
in Artikel Opini
0
SHARES
89
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil

Pengatar

Pada hari ini, Minggu 14 September 2025 Gereja Katolik yang Satu, Kudus dan Apostolik merayakan pesta Salib Suci, sekaligus mengenangkan pengorbanan Yesus dalam perjalanan Salib menuju Pembebasan bangsa manusia. Kematian Yesus di kayu salib, di Golgota dilihat oleh penulis Yohanes sebagai peninggian atau pengembalian kepada Allah Bapa-Nya: yakni di mana tempat awal (semula) Yesus sendiri datang ke dunia. Perayaan peninggian Yesus melalui salib ini kini hendak direfleksikan dalam konteks keberadaan dan penindasan rakyat Papua. Merenungkan penderitaan rakyat Papua dalam paralelitas penderitaan Yesus dalam Jalan Salib demi kemerdekaan dan Pemebasan. Berusaha memahami penderitaan yang dialami rakyat Papua dalam perjuangan maupun dalam penderitaan karena ketidakmampuan (kepasrahan). Selanjutnya, memberikan motivasi untuk bangkit dan berjuang lagi seperti Yesus untuk sampai pada puncak kemenangan dan kejayaan; atau sebaliknya mengalahkan penderitaan, penjajahan, dosa dan kematian-kematian di Papua.

Penderitaan Umat Israel di Padang Gurun

Dalam perayaan penuh syukur di Pesta Salib Suci, atau Pemuliaan Salib Yesus Kristus ini, bacaan Pertama yang diambil dari teks (Bil 21:4-9). Bacaan ini mengambarkan perasaan-perasaan yang menjajah umat Isreal ketika mereka berada di padang gurun, terlebih karena didukung oleh rasa lapar dan haus. Mereka merada di padang gurun melambangkan kehampaan dan kelemahan iman umat Israel. Mereka mengalami kekosongan dan kekeringan rohani. Mereka merasa Tuhan tidak ada bersama mereka, karena itu mereka bersungut-sungut, mereka mengerutu, mengeluh bahkan melawan (menghujat) Allah. “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan makanan hambar ini kami telah muak” (Bil 21:5).

Kalaupun mereka telah melawan Allah dengan bersungut-sungut, datanglah bangsa itu (Israel) mendapati Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau; berdoalah kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami.” (Bil 21:7). Setelah Musa berdoa, Tuhan menyuruh buat ular tedung dan taruh di sebuah tiang. “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup” (Bil 21:8). Selanjutnya, Musa melakukannya seperti disampaikan Tuhan.

Menarik bahwa umat Israel kalaupun telah bersalah atau berbuat dosa, mereka sadar akan dosa dan mengingat relasi dengan Allah, yakni doa. Kalaupun mereka rasa hampa, kosong dan tidak punya harapan akan kehidupan dan kemerdekaan; mereka tetap percaya pada penyelenggaraan ilahi. Tuhan pun tetap memperhatikan keluhan dan harapan umat pilihan-Nya. Ketika Musa berdoa, Tuhan mendengarkan dan mengabulkan. Perintah Tuhan untuk membuat ular tedung dan menyuruh taruh di sebuah tiang sebagai tanda perjanjian, agar umat pilihan-Nya tidak kehilangan iman; sekaligus menunjukkan bahwa Tuhan tetap hadir menyertai dan membebaskan umat pilihan-Nya dari pengejaran, penindasan dan penjajahan bangsa Mesir di bawah Firaun.

Salib Suci Yesus Kristus: Salib kemenangan

Salib secara definisi berarti pinyilangan dari dua batang kayu. Salib menjadi tempat Yesus dihukum mati oleh orang-orang Yahudi. Di Salib tersingkap kasih Allah yang besar melalui Anak-Nya, yakni Yesus Kristus, yang rela mati demi menanggung dosa manusia. “… dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib,“ (Ef 2:16). Bahwa Salib adalah kekuatan Allah untuk menyelamatkan manusia, kelaupun oleh orang Yahudi dilihatnya sebagai palang penghinaan. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Flp 2:8).

Melalui bacaan II pada perayaan Pesta salib Suci (Flp 2:6-11) dan juga Injil yang dibacakan hari ini (Yoh 3:13-17) makin jelas memberikan arti Salib yang sebenarnya. Di mana kedua bacaan ini memberikan makna yang jelas tentang Salib Yesus yang oleh orang Yahudi suatu kebodohan dan penghinaan yang dihindari. “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita (orang Kristen) yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” (Bdk., 1Kor 1:18).

Bacaan II yang didengarkan bermaksud supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus. “… yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama seperti manusia” (Flp 2:6-7). Ketaatan-Nya pada misi perutusan, bahkan sampai mati dan mati-Nya di kayu Salib. “Dan dalam Keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan wafat di kayu salib.” (Fil 2:8).

Yesus yang merendahkan diri, bahkan hingga wafat dan mati di salib melambangkan solidaritas-Nya yang sangat radikal dan tak tertandingi oleh manusia-manusia di dunia. Di mana hanya kerena dosa orang lain dan demi menebus dosa umat manusia, Ia rela mati. Penderitaan, kesengsaan dan kematian mendatangkan penebusan, kebangkitan dan manusia memperoleh jalan kembali kepada Allah. Dengan dan memalui salib, Yesus dimuliakan dan menjadi Tuhan. “Karena salib Allah sangat meninggikan Dia, dan mengaruniakan-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam naam Yesus bertekuk lututlah segala yang ada di langit dan yang ada di atas serta di bawah bumi, dan bagi kemuliaan Allah Bapa segala lidah mengakui “Yesus Kristus adalah Tuhan.” (Bdk., Flp 2:9-10).

Pemuliaan Allah melalui Salib adalah khas pewartaan Penginjil Yohanes. Yesus mati di Salib merupakan peninggian atau pengembalian kepada Allah Bapa-Nya setelah melaksanakan tugas-Nya secara tuntas. “Bahwa tidak ada yang naik ke surga, selain dari pada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.” (Yoh 3:13). Peninggian atau pengembalian Yesus di salib, tidak terlepas dari peristiwa Umat Israel di padang gurun saat ke Kanaan, Musa meninggikan ular (bdk., Bil 21:7). Setiap orang yang percaya kepada Dia (Yesus) yang ditinggikan di kayu salib, akan beroleh hidup yang kekal, seperti disampaikan Tuhan kepada umat Israel di padan guru, yang dipagut ular, akan tetap hidup. (Yoh 3:15; Bil 21:7).

Kematian Yesus di kayu salib menuntut kepercayaan dari manusia. Hanya dengan percaya kepada Yesus yang mennderita, wafat dan bangkit, tidak akan binasa melainkan hidup yang kekal. Di mana Yesus adalah buah kasih yang turun dari Allah demi keselamatan manusia. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh 3:16).

Kematian Yesus sebagai bukti perwujudan kasih Allah bagi dunia. Yesus sendiri berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan buah yang banyak.” (Yoh 12:24). Kematian Yesus mengembalikan umat manusia menjadi warga Kerajaan Allah, bercabang dan berbuah hingga di seluruh dunia, dan seluruh dunia memperoleh jalan kehidupan dan keselamatan. Kematian Yesus menunjukkan kemahakuasaan dan Ketuhanan Yesus, bahwa Dialah Raja, seperti dituliskan Pilatus di atas kepapala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi” (Yoh 23:38) atau dalam bahasa Latin, “Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum”, artinya, “Yesus Orang Nazaret, Raja orang Yahudi”.

Baca Juga:

No Content Available

Kerelaan Yesus mati di kayu salib memberikan teladan untuk para pengikut-Nya untuk berani menaggun beban dan penderitaan dalam visi penyelamatan dan pembebasan. Artinya, menderita dengan penuh kesigapan dan kesadaran. Harus tahu dan harus jelas pula, menderita karena apa dan menderita untuk apa? Atau membebaskan dari apa dan membebaskan untuk apa? Penderitaan tanpa tahu konteks dan misi, atau perjuangan tanpa tahu konteks dan masa depan adalah kesia-siaan belaka.

Yesus tahu konteks penderitaan, atau alasan memikul salib dan sekaligus tahu tujuan juga konsekuensi logis dari salib yang dipikul. Artinya, salib yang dipikul bukan dalam takaran pemikiran manusia Yahudi saat itu, yakni sebagai palang penghinaan atau palang kebodohan, bahkan paradigma ini diubah-Nya 180%, dan hal ini membuat orang-orang yang menyaksikan peristiwa ini kebingungan dicampur aneka rasa, termasuk para algojo-algojo yang menyiksa-Nya. Ketika tirai bait Allah terbelah dua karena gempa, saat itulah mereka menyadari bahwa yang mereka siksa dan bunuh adalah orang benar, atau Anak Allah (Mat 23:45; 27:51; Mrk 15:38). Demikian pula, konteks perjuangan Yesus, bahwa semua usaha dan perjuangan-Nya adalah demi mengembalikan martabat manusia sebagai rupa Allah (Kej 5:1).

Yesus tahu konteks penderitaan: apa penderitaan yang dialami oleh manusia dan bagaimana harus membebaskannya, maka secara tuntas menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa dan maut. Kematian dan penderitaan Yesus melambangkan kepahlawanan orang pilihan Allah, orang utusan Allah untuk memperharui dunia yang dirusakan oleh nafsu dan kejahatan; di mana upahnya adalah dosa, maut dan kebinasaan, direbut-Nya dan menjadikan warga dunia sebagai penghuni surga: menjadi warga Kerajaan Allah.

Di bukit Zaitun dalam pergulatan batin yang sengit, ketika Bapa-Nya menghendaki untuk harus meminum cawan, (artinya harus memikul salib), Yesus dengan gagah perkasa berdiri tanpa rakut dan ragu untuk menghadapi tantangan terakhir, yakni memikul Salib demi pembebasan bangsa manusia. Yesus menjadi guru yang dapat mengalahkan derita, penjajahan, penindasan, kematian dan maut. Yesus sampai pada kubur, sehingga setiap orang yang mati dihidupkan oleh-Nya. Namun, untuk sampai pada kebangkitan dan kehidupan, Yesus sang guru pun menjunjukkan jalan satu-satunya adalah menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya. (Bdk., Mat 16:24; Luk 9:23).

Yesus mengajarkan menerima salib, menanggung beban dan penderitaan dalam kesadaran penuh dan utuh tanpa rasa takut dan ragu. Menanggung derita (salib) menolak takut dan menolak kebutaan dan kebodohan. Yesus menanggung salib dalam kesadan penuh dan utuh, sekaligus konsekuensi yang harus ditanggungnya. Salib yang hendak dipikul memang berat, namun Ia pun yakin bahwa Bapa-Nya tidak akan meninggalkan-Nya: bahwa Ia akan menyelesaikan tugas-Nya berkat kekuatan Roh Kudus. Berkat kehadiran Roh Kudus memberikan kekuatan sekaligus kebijaksaan dalam menyelesaikan tugas perutusan-Nya, bahkan hingga titik darah penghabisan. Salib yang Yesus pikul dari rumah Pilatus hingga di bukit Golgota melambangkan kepahlawanan dan kegagahan Yesus, sebagai Raja dan Tuhan atas segala makhluk dan segala ciptaan harus mengakui-Nya sebagai Tuhan, Juru Selamat dan Pembebas.

Konteks Ketertindasan Rakyat Papua: Salib Papua

Penderitaan, kesengsaraan atau ketertindasan rakyat Papua seperti umat Israel di padang guru, yang kehilagan harapan dan akal budi, bahkan hingga melawan Allah, karena merasa bahwa Tuhan meninggalkan mereka dan kelaparan juga kehausan melanda mereka. Di padang gurun umat Israel yang adalah umat pilihan Allah menderita sangat parah dengan bersungut-sungut kepada Musa. Salib yang dipikul umat Israel di padang gurun dalam keterbatasan: yakni padang gurun yang berarti kemunkinan besar mereka akan mati dan tidak akan hidup, karena itu pantas saja jika mereka marah dan bersungut-sungut kepada Musa. (bdk., Bil 21:5).

Penderitaan yang dialami rakyat Papua dan umat Israel sama, namun konteksnya berbeda. Di atas umat Israel menderita karena di padang gurun, atau padang pasir: tidak memiliki sumber-sumber hidup, berbeda dengan rakyat Papua. Rakyat Papua menjadi miskin, lapar dan bahkan menderita dalam kelimpahan sumber-sumber kehidupan, bahkan sangat kaya raya. Penderitaan atau salib yang sedang dipikul rakyat Papua, dapat dikategorikan dalam beberapa kelompok:

Pertama

, Rakyat Papua yang menderita dalam kesadaran penuh. Mereka yang menderita dalam kesadaran penuh adalah mereka yang mengerti secara persis penderitaan yang dialami orang Papua, namun tidak mampu karena tidak mendapatkan peluang atau kesempatan (panggung) untuk mengeksekusi; dapat saja kerena belum waktu. Kelompok ini selain memahami konteks penderitaan secara penuh, mereka memperjuangkan proses pembebasan pun penuh, sekaligus memahami makna kemerdekaan secara utuh pula: tentang dari mana harus dibebaskan, bagaimana harus dibebaskan, dan puncak kebebasan seperti apa yang hendak dicapai.

Kedua

, Rakyat Papua sadar setengah-setengah. Mereka adalah kelompok rakyat yang sadar dan mengerti namun hanya sepotong-sepotong, sehingga pemikian dan pergerakan pun hanya bersifat parsial. Berjuang membebaskan penderitaan namun hanya sebagian-sebagian, yakni hanya saat ingat (sadar), sekaligus strategi yang dibangun setengah-setengah pula. Sering kelompok ini mencari solusi-solusi namun kerena pengetahuan, kesadaran dan pemahaman pun setengah-setengah, maka tidak sepenuhnya memahami konteks penderitaan, setengah-setengah melakukan perjuangan atau perlawanan dan termasuk pemahaman tentang kemerdekaan pun bersifat parsial.

Ketiga

, Rakyat Papua yang tidak sadar dengan penderitaan. Mereka yang tidak sadar dengan peneritaan rakyat Papua adalah mereka yang tidak ingin rakyat Papua hidup bebas dan damai. Mereka adalah orang-orang terpelajar yang menggunakan ilmunya untuk merusak alam Papua. Mereka yang mengatasnamakan rakyat Papua dan tanah Papua untuk mencari keuntungan pribadi. Selain itu, mereka adalah rakyat yang tidak tahu kerja, rakyat yang hanya malas-malas, mabuk-mabuk, curi-curi orang punya barang, masuk ke lingkaran tidak baik: seperti begal-begal, penyamun, intel, isap-isap lem aibon, dll. Mereka ini menciptakan penderitaan ganda dan penuh dalam kompleksitas penderitaan yang komplit. Mereka yang menciptakan salib-salib baru, membuat rakyat Papua menderita berkepanjangan akan menanggung penderitaan lebih berat.

Memang penderitaan bukanlah satu keadaan yang kekal dan pasti akan berakhir dengan segera, namun itu pun harus melalui tahapan: yakni sadar secara utuh dan penuh bahwa secara ada dalam penderitaan, penderitaan yang dialami diidentifikasi dan diklasifikasi, selanjutnya mengambil langkah pembaharuan dan perbaikan, selanjutnya mengambil sikap untuk mengubah. Di samping memahami salib-salib yang tercipta maupun dicipta, sekaligus harus dipikul, harus tahu kemerdekaan atau puncak kebebasan yang hendak dicapai di mana: strategi apa yang tepat, siapa yang harus dilibatkan, kapan kebebasan itu akan diwujudkan. Cara-cara inilah yang diajarkan Yesus sang guru revolusi, yang memikul salib hingga di bukti Golgota.

Penutup

Salib harus dipikul dan Yesus telah memulai bahkan menyelesaikan-Nya hingga tuntas. Rakyat Papua yang mayoritas Kristen: baik Katolik maupun Protesten yang telah menerima Yesus melalui Pembaptisan, sekaligus mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Guru yang telah merevolusi dunia, diharapkan untuk berpartisipasi dalam upaya pembebasan dan penyelamatan bangsa manusia. Sistem-sistem yang menindas, yang mendatangkan penderitaan dan maut harus ditolak, bahkan harus dilawan tanpa takut dan gentar, sebaliknya Penderitaan (perjuangan) yang mendatangkan keselamatan dan kemerdekaan, seperti Yesus yang menanggung salib diterima dan bahkan wajib ditanggung (dipikul) bahkan hingga titik darah penghabisan, sebab jalan itulah jalan satu-satunya yang ditunjukkan oleh Yesus sendiri. Rakyat Papua sendang memikul salib, beban penderitaan yang tak terselesaikan dan tugas setiap pengikut Yesus menimbah kekuatan dalam diri Yesus untuk membawa ke puncak Golgota, ialah kemerdekaan sejati sebagai anak-anak Allah, baik untuk sekarang Papua, juga untuk kelak dalam Kerajaan Allah.

Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika

 

Post Views: 1,241
Tags: Merayakan Pesta Salib Suci Dalam Konteks Ketertindasan Rakyat Papua
Previous Post

TPNPB Minta Australia dan Selandia Baru Tidak Campur Aduk Kasus Penyelundupan Senjata dan Penyanderaan Pilot

Next Post

Ketua KNPI Papua Tengah Ajak Generasi Muda Bersatu dan Jadi Solusi

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Mama Yasinta Moiwend: di Antara Propaganda, Manipulasi, dan Pencarian Kebenaran

3 bulan ago
Artikel Opini

OPINI: Banyak Cara, Satu Merdeka

3 bulan ago
Artikel Opini

Sebuah Refleksi Kritis Terhadap DOB Moni dan Komodifikasi Gunung Egeida dan Blok Wabu

4 bulan ago
Artikel Opini

Polemik Pemekaran Kabupaten Moni: Antara Janji Pembangunan, Politik, Kekuasaan dan Ancaman Konflik Sosial di Papua Tengah

4 bulan ago
Artikel Opini

Pernyataan Sikap : Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Dogiyai

5 bulan ago
Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

6 bulan ago
Next Post

Ketua KNPI Papua Tengah Ajak Generasi Muda Bersatu dan Jadi Solusi

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved