NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM — Di momen peringatan Hari HAM Sedunia, Dewan Gereja Papua (DGP) mengeluarkan seruan pastoral yang menyoroti kondisi kemanusiaan di Tanah Papua serta mengajak gereja-gereja merayakan Natal 2025 secara lebih sederhana dan berpihak pada mereka yang menderita. Seruan ini disampaikan oleh Pendeta Dr. Benny Giay, Moderator Dewan Gereja Papua, melalui surat terbuka yang ditujukan kepada seluruh umat Kristen di Papua.
Dalam pernyataannya, Pdt. Dr. Benny Giay menegaskan bahwa Natal tahun ini harus menjadi momentum refleksi atas penderitaan masyarakat, terutama lebih dari 103 ribu pengungsi internal yang hidup tanpa kepastian akibat konflik dan operasi militer yang terus berlangsung di wilayah Pegunungan Tengah. “Kita mesti keluar dari zona nyaman dan mengarahkan solidaritas kita kepada saudara-saudara yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan rasa aman, dan kehilangan masa depan,” ungkapnya.
Solidaritas Nasional yang Tidak Merata
Pdt. Dr. Benny Giay menyoroti situasi nasional yang menunjukkan paradoks. Di satu sisi, masyarakat Indonesia menunjukkan solidaritas besar kepada rakyat Palestina. Namun di sisi lain, kelompok minoritas agama di Indonesia baik Katolik maupun Protestan masih menghadapi hambatan dalam pembangunan rumah ibadah dan kebebasan beribadah.
Ia juga menyinggung tragedi banjir bandang di Aceh dan Sumatera Utara yang menewaskan ratusan orang dan belum ditetapkan sebagai bencana nasional. “Ini menunjukkan ada standar ganda dalam melihat penderitaan sesama warga bangsa,” kata Benny.
Papua Masih Menjadi Kawasan Konflik Berat
Dalam suratnya, Pdt. Dr. Benny Giay mengingatkan bahwa Papua telah lama menjadi wilayah operasi militer sejak 1960-an dan hingga kini masih menjadi zona konflik. Ia menilai berbagai kebijakan pemerintah justru memperdalam luka orang Papua, termasuk:
- pengiriman ribuan pasukan non-organik ke Papua sepanjang 2024 dan 2025,
- meningkatnya operasi militer di wilayah pegunungan,
- serta tidak adanya dialog damai yang melibatkan masyarakat sipil Papua.
“Pengiriman pasukan dalam jumlah besar hanya menambah rasa takut masyarakat. Anak-anak, perempuan, dan lansia menjadi kelompok paling rentan,” ujar Benny. Ia menyebut bahwa banyak warga mengungsi ke hutan, membangun bivak darurat, dan hidup tanpa pelayanan kesehatan serta makanan memadai.
103.218 Pengungsi Internal: Luka Kemanusiaan yang Terus Melebar
Dewan Gereja Papua mencatat 103.218 pengungsi internal yang tersebar di berbagai wilayah konflik, sebagian besar di Kabupaten Intan Jaya, Puncak, Puncak Jaya, Lanny Jaya, Nduga, Yahukimo, dan Pegunungan Bintang.
Menurut Benny, angka tersebut merupakan hasil pemantauan berbagai lembaga gereja dan komunitas kemanusiaan.
“Kita tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan ini. Di balik perayaan Natal yang meriah, ada puluhan ribu keluarga Papua yang merayakan Natal di tenda darurat,” ucapnya.
Tragedi meninggalnya seorang ibu Papua, Ny. Sokoy, bersama bayinya usai ditolak empat rumah sakit di Jayapura menjadi simbol ketidaksetaraan dalam layanan kesehatan. “Peristiwa ini mencerminkan jurang ketidakadilan yang masih dalam,” tambah Benny.
Seruan Natal: Sederhana, Murah Hati, dan Berpihak pada Korban
Dalam seruannya, Pdt. Dr. Benny Giay mengeluarkan enam imbauan utama kepada seluruh gereja, klasis, dan jemaat di Tanah Papua:
- Merayakan Natal secara sederhana, baik di gereja maupun keluarga.
- Mengalihkan penghematan Natal untuk membantu para pengungsi internal.
- Mengurangi dekorasi, hadiah, dan pesta, dan bila perlu membatasi perayaan hanya pada malam 24 Desember.
Mendorong pemerintah daerah agar menghentikan perayaan Natal besar-besaran di ruang publik dan mengalihkannya untuk pengungsi.
Mengadakan ebai mukai atau aksi dana di tingkat jemaat dan klasis untuk mendukung kebutuhan pengungsi.
Menerima bantuan pemerintah dengan ucapan terima kasih, namun memastikan dana diarahkan untuk perayaan Natal para pengungsi.
“Kasih Kristus menggerakkan kita untuk berbagi dan berjalan bersama mereka yang terluka,” tegas Benny.
Dewan Gereja Papua berharap seruan ini menjadi ajakan moral bagi seluruh umat Kristen untuk menjadikan Natal 2025 sebagai perayaan solidaritas, bukan sekadar ritual seremonial.
Melalui pesan yang kuat dan menyentuh, Pdt. Dr. Benny Giay menekankan bahwa gereja memiliki tanggung jawab profetis untuk berdiri bersama yang lemah dan tersisih. (*)