YAHUKIMO, JELATANEWSPAPUA.COM – Kontak tembak dilaporkan terjadi antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNPB – OPM) dan aparat militer Indonesia di wilayah Kali Bonto dan Kali Noya, Jalan Gunung, Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Dalam Siaran Pers ke-III yang diterima media ini, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyatakan bahwa baku tembak berlangsung sejak Jumat (12/12/2025) pukul 04.20 WIT hingga Sabtu (13/12/2025) pukul 06.45 WIT.
“Kami terlibat baku tembak dengan aparat militer Indonesia di Kali Bonto dan Kali Noya sejak kemarin pagi hingga pagi ini,” ujar Sebby Sambom, Juru Bicara TPNPB, dalam pernyataan tertulisnya.
TPNPB mengklaim aparat militer Indonesia melakukan lebih dari 98 kali serangan bom dan bazoka melalui operasi darat dan udara.
“Militer Indonesia melakukan 98 kali serangan bom melalui darat dan udara yang terus dilancarkan melawan pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo, bahkan menyasar pemukiman warga sipil,” kata Sebby.
Menurut TPNPB, hingga saat ini belum diketahui adanya korban jiwa dari kedua belah pihak. Namun, intensitas serangan tersebut diklaim telah memicu pengungsian massal warga sipil.
“Kontak senjata dan 98 kali serangan bom tersebut mengakibatkan warga sipil terpaksa mengungsi ke hutan untuk mencari perlindungan,” ujarnya.
TPNPB juga menyebut akses jalan utama menuju Kota Dekai telah dikuasai aparat keamanan.
“Warga tidak berani mengungsi ke Kota Dekai karena takut menjadi sasaran interogasi aparat, sehingga memilih mengungsi ke hutan,” lanjut Sebby.
Dalam pernyataan itu, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyampaikan seruan kepada pemerintah pusat agar menghentikan operasi militer di wilayah tersebut.
“Kami mengimbau Presiden Prabowo Subianto, Panglima TNI, dan Menteri Pertahanan RI agar menghentikan seluruh serangan bom karena telah menyebabkan pengungsian massal warga sipil,” kata Sebby.
TPNPB juga mengecam keras penggunaan kekuatan militer berskala besar dalam operasi tersebut.
“Kami mengutuk keras serangan bom lebih dari 98 kali. Jika aparat militer Indonesia laki-laki, silakan lawan senjata dengan senjata dalam perang gerilya, jangan menggunakan kekuatan penuh dan teknologi terhadap TPNPB,” tegasnya. (*)