DOGIYAI, JELARANEWSPAPUA.COM-Baru-baru ini ruang publik, baik di jagat digital maupun sosial, Kabupaten Dogiyai sempat diwarnai perbincangan hangat menyusul beredarnya sebuah postingan di media sosial Facebook (FB) oleh akun berinisial HD. Postingan tersebut mempertanyakan warna pagar baru Paroki St. Maria Imakulata Moanemani yang dicat bermotif merah-putih oleh aparat keamanan.
Dalam status yang diunggah pada Minggu, (14 /12) sekitar pukul 20.00 WIT itu, pemilik akun yang mengaku sebagai umat biasa usai mengikuti Misa Kudus, mempertanyakan dua hal yang ia nilai janggal, yakni pagar gereja yang dicat berwarna merah-putih serta kehadiran aparat TNI berseragam lengkap di dalam Gereja.
Ada dua poin utama yang disoroti akun HD, yaitu:
(1) aparat keamanan (POLRI–TNI) yang mewarnai pagar Paroki dengan cat merah-putih yang diasosiasikan sebagai simbol bendera nasional; dan
(2) kehadiran lima personel TNI berseragam lengkap yang mengikuti Misa Kudus.

Sebagai umat biasa sekaligus orang asli Papua yang memiliki memori kolektif terkait pengalaman militerisme di Papua, akun HD dalam postingannya menyertakan analisis menggunakan istilah “nasionalisme performatif” atau “nasionalisme bendawi”. Menurutnya, fenomena tersebut merupakan bentuk penguatan nasionalisme yang dipaksakan secara simbolik melalui kehadiran aparat keamanan negara, khususnya di wilayah Papua yang dinilainya masih berstatus daerah konflik.
Bagi HD, fenomena tersebut dipandang sebagai bentuk operasi halus yang berpotensi memengaruhi kesadaran umat, terutama dalam konteks kepapuaan. Dengan latar belakang keterlibatannya dalam gerakan sosial di Papua, HD menilai masuknya aparat bersenjata ke ruang-ruang sipil, termasuk Gereja, sebagai hal yang patut dikritisi. Pandangan tersebut disampaikannya dengan mempertimbangkan situasi sosial Kabupaten Dogiyai yang dinilai masih rentan dan sensitif.
Tanggapan Dewan Pastoral Paroki St. Maria Imakulata Moanemani
Menanggapi beragam reaksi yang muncul di tengah masyarakat, pada Senin, (15/12) sekitar pukul 14.00 WIT, digelar sebuah dialog antara pihak-pihak terkait.
Sejumlah pihak, khususnya dari Paroki, menyayangkan sikap HD yang dinilai menyampaikan kritik secara terbuka di media sosial tanpa terlebih dahulu melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Pastor Paroki maupun Dewan Pastoral Paroki. Menurut pihak Paroki, kritik yang langsung disampaikan ke ruang publik tersebut kemudian berkembang luas dan menjadi viral, sehingga memunculkan beragam interpretasi di tengah masyarakat.
Pihak Paroki menegaskan bahwa Gereja tidak bekerja sama atau berafiliasi dengan pihak mana pun, termasuk aparat keamanan negara. Dijelaskan pula bahwa keterlibatan beberapa aparat keamanan dalam proses pengecatan pagar terjadi karena mengingat keterbatasan sumber daya manusia di Paroki saat itu.
Paroki juga menegaskan bahwa Gereja bersifat terbuka bagi siapa saja. Terkait warna pagar, dijelaskan bahwa sejak awal warna pagar Paroki St. Maria Imakulata Moanemani adalah merah marun dan putih, bukan merah terang seperti warna bendera nasional. Namun karena baru dicat dan dilakukan oleh aparat, hal tersebut kemudian menimbulkan persepsi seolah pagar dicat dengan motif bendera Merah Putih.
Demi menjaga keamanan, kenyamanan, serta situasi kondusif di tengah kondisi sosial Kabupaten Dogiyai yang sensitif, pihak Paroki meminta dengan hormat kepada HD untuk menghapus postingan tersebut. Permintaan ini disampaikan bukan karena substansi kritik dianggap sepenuhnya keliru, melainkan sebagai langkah preventif untuk menghindari potensi respons yang tidak bertanggung jawab dari pihak-pihak tertentu.
Pihak Gereja menyatakan memahami maksud dan nilai kritis yang ingin disampaikan oleh HD. Sebagai tindak lanjut, Paroki menyatakan akan segera mengubah warna pagar menjadi kuning-putih sebagai simbol identitas Gereja Katolik Roma. Pihak Paroki juga meminta pengertian bahwa konteks sosial Dogiyai memiliki tantangan tersendiri dibandingkan daerah lain.
Seiring beredarnya postingan tersebut, diskusi pun meluas di berbagai grup media sosial, seperti Grup WhatsApp Paroki, Grup WhatsApp ASN Dogiyai, serta di Facebook.
Dialog dan Kesepakatan Bersama
Untuk menghindari kesalahpahaman yang lebih luas serta mencegah potensi terjadinya tindakan anarkis, Kepala Distrik Kamuu Induk, Markus Auwe, S.S., bersama Pastor Paroki Pastor Yonas Purnama, OFM, Pengurus Dewan Pastoral Paroki, umat, serta perwakilan tokoh masyarakat Dogiyai, menginisiasi pertemuan dialogis. Pertemuan tersebut berlangsung di Aula Koteka-Moge, Senin, 15 Desember 2025.
Dialog berlangsung secara terbuka dan dinamis, serta berakhir secara damai dengan sejumlah kesepakatan bersama, antara lain:
- Demi menjaga nama baik Gereja Katolik Paroki St. Maria Imakulata Moanemani serta mencegah berkembangnya narasi dan tindakan yang tidak bertanggung jawab, pemilik akun HD secara langsung menghapus postingan yang sempat viral, disaksikan oleh Pastor Paroki, Dewan Paroki, umat, Kepala Distrik Kamuu Induk, dan tokoh masyarakat.
- Pihak Paroki menegaskan bahwa Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki, dan seluruh umat tidak memiliki tujuan apa pun serta tidak berafiliasi dengan pihak manapun, termasuk aparat keamanan negara. Gereja Katolik, sebagai Gereja yang satu, kudus, dan apostolik, bersifat universal dan terbuka bagi semua pihak.
- Gereja Paroki St. Maria Imakulata Moanemani menegaskan sikap kritis-profetisnya dengan tidak berkompromi atau berafiliasi dengan pihak manapun. Gereja juga secara tegas melarang siapa pun membawa senjata, alat negara, senjata tajam, minuman keras, narkoba, serta benda lain yang dapat mengganggu kekhusyukan ibadah, karena Gereja adalah Rumah Tuhan dan Rumah Doa.
- Berdasarkan hasil dialog bersama, seluruh pihak sepakat untuk segera mengubah warna pagar Paroki menjadi kuning-putih sebagai warna bendera Negara Kota Vatikan dan simbol identitas Kekatolikan.
Kesepakatan ini dibuat dan disepakati bersama oleh Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki, pihak pemosting, Kepala Distrik Kamuu Induk, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak terkait. Dengan demikian, polemik yang sempat berkembang dinyatakan selesai.
Dialog diakhiri dengan prosesi ebamukai sebagai bentuk kebersamaan untuk menggalang dana pembelian cat pagar baru. Seluruh pihak saling berjabat tangan, bertegur sapa, dan berfoto bersama sebagai simbol persaudaraan dan semangat kebersamaan dalam Gereja yang satu, kudus, dan apostolik.
Fr. Siorus E. Degei (Frater TOPER di Paroki St. Petrus Mauwa)