TIMIKA, JELATANEWSPAPUA.COM – Manajemen Markas Pusat Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (KOMNAS TPNPB-OPM) membantah keras klaim penyanderaan 18 karyawan PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sebagaimana disampaikan oleh Satgas TNI Komando Operasi (Koops) Habema.
Dalam siaran pers resmi yang diterbitkan Jumat, (16/01), Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi dari pasukan TPNPB di wilayah Mimika terkait adanya penyanderaan terhadap karyawan PT Freeport Indonesia.
“Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB belum menerima laporan resmi dari pasukan TPNPB yang berbasis di Mimika terkait penyanderaan 18 karyawan PT Freeport Indonesia,” ungkap Sebby.
Sebby Sambom Juru Bicara TPNPB menilai klaim yang disampaikan Satgas Habema merupakan bentuk propaganda yang sengaja dibangun untuk kepentingan tertentu. Mereka menuding isu tersebut digunakan untuk kepentingan finansial dan jabatan di lingkungan militer.
“Kami menilai Satgas Habema hanya melakukan propaganda terhadap Manajemen PT Freeport Indonesia serta Pemerintah Indonesia, Amerika Serikat, dan negara-negara investor di Tembagapura Papua untuk meminta uang keamanan serta jabatan dan pangkat dari Kementerian Pertahanan RI dan Kapolri,” tulis Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB.
Lebih lanjut, Sebby Sambom, menyebut bahwa isu penyanderaan 18 karyawan Freeport tersebut merupakan skenario internal aparat keamanan.
“Penyanderaan 18 karyawan PT Freeport Indonesia adalah skenario Koops Habema atau bentuk persaingan dengan Satgas Damai Cartenz yang saat ini mendapatkan fasilitas dan jaminan negara untuk melakukan operasi di Tanah Papua,” ujar Sebby Sambom dalam pernyataan tertulisnya.
TPNPB juga secara terbuka meminta Koops Habema untuk mengungkap siapa pelaku sebenarnya di balik peristiwa yang disebut sebagai penyanderaan tersebut agar diketahui publik secara transparan.
“Kami meminta Koops Habema mengungkapkan pelaku penyanderaan 18 karyawan PT Freeport Indonesia di Mimika agar diketahui oleh publik,” tegas Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB.
Selain itu, TPNPB mengimbau aparat militer Indonesia untuk menghentikan penyebaran propaganda yang dinilai menyesatkan.
“Kami mengimbau aparat militer Indonesia untuk menghentikan propaganda di Tanah Papua kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan, dan jajaran aparat militer Indonesia demi uang makan,” lanjut Sebby Sambom.
Dalam siaran pers yang sama, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB turut melampirkan pernyataan resmi dari Satgas TNI Koops Habema. Dalam rilis tersebut, Koops Habema mengklaim telah berhasil mengevakuasi dan menyelamatkan 18 karyawan PT Freeport Indonesia yang disebut terisolasi selama tiga hari di Pos Tower 270, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.
“Satgas TNI Komando Operasi (Koops) Habema berhasil mengevakuasi dan menyelamatkan 18 karyawan PT Freeport Indonesia yang terisolasi selama tiga hari di Pos Tower 270, Distrik Tembagapura, tanpa kontak senjata,” demikian isi rilis Koops Habema.
Koops Habema juga menyebut operasi dilakukan di medan ekstrem pegunungan Papua pada ketinggian lebih dari 2.500 meter di atas permukaan laut (MDPL) dan menegaskan komitmen negara dalam melindungi objek vital nasional strategis serta menjaga stabilitas keamanan di wilayah konflik Papua.
Menanggapi rilis tersebut, Sabby Sambom menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak terlibat dalam peristiwa yang dimaksud dan menyebut klaim penyanderaan tersebut sebagai informasi menyesatkan. (*)