PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Sekolah Tinggi Katolik (STK) Tiuye Paapaa m ditegaskan pendidikan sebagai kebutuhan paling mendasar dan strategis bagi masa depan generasi muda Papua dalam pelaksanaan hari ke-III Musyawarah Pastoral Mee (MUSPASMEE) ke-VIII yang berlangsung di Paroki Kristus Jaya Komopa, Distrik Agadide, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, Rabu (3/2/2026).
Melalui materi khusus yang disampaikan Sekolah Tinggi Katolik (STK) Touye Paapaa Deiyai, Gereja kembali mengingatkan umat bahwa pendidikan bukan pilihan, melainkan hak hidup dan jalan pembebasan bagi orang Papua, khususnya generasi muda Mee Woo di wilayah Keuskupan Timika.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari empat dekenat dan satu simpatisan dekenat, serta tiga koordinator wilayah, yakni Korwil Timika, Korwil Nabire, dan Korwil Jayapura, yang hadir sebagai representasi umat Mee dari berbagai wilayah pelayanan Gereja.
Salah satu pemateri, Marius You, S.S., M.Fil, dosen STK Touye Paapaa Deiyai, menegaskan bahwa tanpa pendidikan, generasi muda Papua akan terus tertinggal dan kehilangan peran strategis di atas tanahnya sendiri.
“Pendidikan adalah jalan kesadaran dan kepekaan. Generasi muda Mee Woo di Keuskupan Timika harus sadar bahwa hanya dengan pendidikan mereka bisa berdiri sejajar, mandiri, dan menentukan masa depannya sendiri,” tegas Marius You.
Ia menambahkan, pendidikan memberi kekuatan bagi anak-anak Papua untuk menjadi pelayan Gereja, pemimpin masyarakat, serta tuan di atas negerinya sendiri, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
“Jika anak-anak Papua tidak sekolah, mereka akan terus hidup dalam kegelapan. Tetapi dengan pendidikan, mereka bisa berguna bagi Gereja, bangsa, dan umat manusia,” ujarnya.
Pendidikan sebagai Jawaban Krisis Guru Agama Katolik
Di tempat yang sama, Oktovianus Pekei, dosen STK Touye Paapaa sekaligus mantan Ketua STK dan kini Kepala Lembaga Penelitian STK Touye Papa, menjelaskan bahwa kehadiran STK Touye Paapaa merupakan jawaban konkret Gereja terhadap krisis guru agama Katolik di Papua.
Menurutnya, krisis tersebut mulai dirasakan kuat sejak terjadinya pemekaran daerah otonomi baru, yang menyebabkan banyak guru direkrut menjadi aparatur pemerintahan, sementara pembina-pembina paroki berpindah ke kota-kota besar.
“Sekolah-sekolah dan paroki mengalami kekosongan guru agama Katolik. Dari keprihatinan inilah umat dalam MUSPASMEE ke-IV di Paroki Diyai tahun 2014 mendorong pendirian perguruan tinggi Katolik,” jelas Pekei.
Rekomendasi MUSPASMEE ke-IV tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pendirian Yayasan Meuwo dan Yayasan You, yang bekerja menyiapkan seluruh persyaratan administratif hingga memperoleh izin operasional dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
Bukti Keseriusan Gereja Membangun Pendidikan
Pekei mengungkapkan, STK Touye Paapaa mulai menerima mahasiswa pada tahun 2015, dan hingga tahun 2026 telah memasuki angkatan ke-11. Meski diawali dengan keterbatasan sarana dan prasarana, komitmen Gereja dan umat tidak pernah surut.
Pada tahap awal, perkuliahan dilaksanakan dengan memanfaatkan gedung SMP YPPK Waghete. Berkat dukungan Pemerintah Kabupaten Deiyai, khususnya pada masa kepemimpinan Bupati Dance Takimai, kini STK Touye Paapaa memiliki kampus sendiri di Damabagata dengan lima ruang kuliah permanen dan mulai beroperasi penuh sejak tahun 2020.
Saat ini, STK Touye Paapaa didukung oleh sekitar 20 dosen aktif dan dua tenaga sekretariat, dengan sejumlah dosen sedang melanjutkan studi ke jenjang S2 untuk meningkatkan kualitas akademik.
Ajakan Moral bagi Generasi Muda Mee
Di akhir pemaparannya, Pekei mengajak seluruh pelajar dan generasi muda dari Dekenat Moni Puncak, Paniai, Deiyai, Kamuu, dan Mapia untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan tinggi, khususnya di program studi Guru Agama Katolik STK Touye Paapaa Deiyai.
“Pendidikan adalah investasi iman dan masa depan. Gereja telah membuka jalan, sekarang saatnya generasi muda Papua melangkah,” pungkasnya.