NABIRE, JELATAPAPUANEWS.COM — Suara mesin motor dan dentingan alat bengkel bersahutan di sudut Jalan Poros Karadiri 2, Wanggar Makmur, Distrik Wanggar, Nabire.
Di tengah hiruk-pikuk itu, berdiri seorang pemuda Papua yang sedang membangun mimpinya lewat dunia otomotif. Abed Madai, 18 tahun, pemuda asal Suku Mee, Papua Tengah, kini dikenal sebagai pemilik Bengkel Ardy. Usaha kecilnya itu sudah berdiri dan berjalan selama tiga tahun terakhir.
Abed lahir 10 April 2006 di Kampung Adauwo Wadoukotu, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, yang dikelilingi gunung hijau menjulang. Dari kampung itu, ia datang ke Nabire membawa harapan besar.
Meski berusia muda, ia sudah mencicipi pahit-manis dunia usaha.
Abed mengaku, bengkel yang ia rintis dimulai dari nol. Setiap hari, Bengkelnya menerima satu hingga dua unit motor untuk diperbaiki. Mulai dari kerusakan ringan hingga perbaikan mesin besar.
“Bebek, matic, sampai motor sport, saya tangani sendiri,” kata Abed saat ditemui di bengkelnya, Kamis, (24/07).
Tangannya tampak cekatan mengutak-atik mesin. Tak hanya sebagai montir, ia juga masih berstatus mahasiswa aktif. Abed kuliah di Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire.
Ia duduk di semester IV Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas FISIP. Aktivitas kuliah tak menghalanginya untuk terus melayani pelanggan.
“Saya sadar jadi wirausahawan itu tidak mudah,” ucapnya.
Ia lahir dari keluarga sederhana dan bermodal minim.
Tantangan datang bertubi sejak awal merintis usaha. Mulai dari keterbatasan peralatan, keterbatasan lokasi, hingga mencari pelanggan pertama.
Namun semua itu tak membuatnya menyerah.
“Saya jadikan setiap tantangan sebagai pelajaran,” katanya.
Bengkel Ardy kini telah memiliki pelanggan tetap. Beberapa di antaranya bahkan datang dari distrik tetangga. Meski usaha masih berskala kecil, semangatnya besar. Ia bermimpi memindahkan bengkelnya ke lokasi yang lebih strategis.
“Saya ingin pindah ke poros utama agar menjangkau lebih banyak pelanggan,” kata Abed.
Ia terus mencari lokasi yang lebih ramai. Lebih dari sekadar keuntungan, ia punya tujuan mulia. Abed ingin membanggakan orang tuanya dan membawa nama baik keluarga.
“Kalau orang tua kita tak punya nama besar, banggakan mereka dengan nama baikmu,” katanya.
Kalimat itu ia jadikan prinsip hidup.
Abed berharap ada perhatian dari pemerintah. Khususnya untuk anak-anak muda Papua yang sedang memulai usaha.
Ia menyebut peran pemerintah penting untuk mendukung pengusaha muda asli Papua.
“Kami butuh dorongan, pelatihan, juga bantuan alat dari pemerintah,” ujarnya.
Kini, setiap pagi Abed membuka pintu bengkelnya dengan harapan baru. Ia percaya keringat dan kerja keras akan membuahkan hasil.
Di sela kuliah dan kerja, ia terus belajar mengembangkan diri. Abed menjadi contoh nyata bahwa usia muda bukan halangan untuk maju.