Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Kata Yesus, “Jangan membunuh, jangan berziah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayah dan ibumu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 19:18). Perkataan Yesus ini merupakan bagian dari 10 Perintah atau Hukum Allah. “Janganlah kamu menyangka, bahwa AKu datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menanggapinya.” (bdk., Mat 5:17). Dilanjutkan lagi oleh Rasul Yakobus, “Jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum.” (Yak 2:11). Perintah untuk tidak membunuh juga menjadi bagian dari ajaran luhur dari leluhur suku-suku bangsa di Papua.
Mencintai Sesama Yang Lain: Belajar Dari Yesus
Menjadi sempurna, atau menjadi anak-anak Allah tidak lain adalah mengasihi sesama manusia yang lain, terutama mereka yang kecil, miskin dan terpinggirkan. “Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta surga. Kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19:21).
Setiap orang lemah, miskin dan terpinggirkan adalah kehadiran gambar wajah Allah (imago Dei) yang memohon belas kasihan dari seasma manusia yang lain. Melayani sesama yang lain ikut berpartisipasi dalam misi kehadiran Allah yang menyelamatkan: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas. Untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk $:18-20).
Yesus telah menjadi teladan cinta kasih Allah, bahkan Yesus sendiri adalah cinta itu sendiri (Deus Caritas Est). “Karena begitu besar kasih Allah akan inim sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang peracaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Luk 9:24). Yesus mengajarkan mencintai sesama manusia tanpa syarat dan tanpa dan ukuran, yakni mencintai dengan sepenuh hati hingga berkorban.
Yesus mengajarkan menjadi sesama bagi yang lain, menjadi manusia bagi manusia yang lain.Tidak memandang bahkan memperlakukan sesama yang lain sebagai bukan manusia. Peritah keras disampaikan oleh Yesus, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; berkata: Kafir! Diserahkan kepada Mahkamah Agama; berkata Jahil! Dibuang ke dalam neraka yang menyala-nyala.”(bdk., Mat 5:21-22).
Yesus sahabat bagi kaum papa, miskin dan sengsara, menjadi sesama bagi orang-orang terbuang dan dipinggirkan, bahkan menjadi Tuhan (Penebus, Penyelamat) bagi yang berdosa, dan Pembebas bagi yang tertindas dan terjajah. Yesus menghadirkan kemanusiaan sejati di hadapan orang-orang yang memperlakukan sesama yang lain secara sewenang-wenang. Yesus menunjukkan betapa nilai manusia lebih tinggi dan luhur daripada segala sesuatu yang lain; maka tidak bisa hanya dengan kedudukan, jabatan, uang dan kemewahan duniawi semata martabat manusia diinjak-injak. Yesus menolak segala ketamakan, kekayaan dan kedudukan (jabatan dunia) (Bdk., Mat 4:1-11).
Misi kehadiran Yesus sangat jelas, yakni untuk menyelamatkan manusia sebab manusia adalah gambar dan rupa Allah sendiri (imago Dei), “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi.”(Kej 1:26). Selanjutnya Allah berpesan, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej 1:28).
Menolong Sesama Yang Lain: Perwujudan Cinta
Saling tolong-menolong sebagai sesama manusia sangat penting dan diharapkan dalam peziarahan di dunia. Sebab setiap manusia tidak hidup sendiri, di pulau sendiri. “Apabilah engkau melihat, bahwa lembuh atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau berpira-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya; Apabilah engkau melihat keledai saudaramu atau lebihnya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu.”(Lih., Ul 22:1,4). Memang saling membantu, atau tolong menolong adalah kata-kata yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Sikap Simon Dari Kirene, walaupun sibuk, lelah, namun membantu Yesus memikul Salib, merupakan contoh yang patut diikut dalam usaha menolong orang yang menderita, dan tengah penjalani perjuangan sengit.
Cinta mengajak manusia untuk tidak berbuat jahat kepada sesama manusia yang lain. Pesan saat Sodom dan Gomora dimusnahkan dan Lot diselamatkan menjadi penting untuk diingat dan dilaksanakan: “Saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat.” (Kej 9:13). Berbuat jahat mendatangkan amarah dan malapetaka. Upah dari kejahatan adalah dosa derita dan maut.
Mencintai sesama manusia adalah bagian dari mencintai Tuhan yang menciptakan. “Inilah perintah-Ku kepadamu: “Kasihilah Penciptamu dengan segala kekuatanmu, dan para pelayan-Nya jangan kauabaika,”(Sir 7:30); selanjutnya pesan kasih yang perlu diterapkan adalah “Kasihilah seorang akan yang lain.” (Yoh 15:17); “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk 10:27), bukan saling membunuh atau meniadakan kehidupan sesama yang lain.
Perwujudan Perintah “Jangan Membunuh” di Papua
Allah berpesan untuk beranakcucu dan bertambah banyak memenuhi bumi, termasuk di atas tanah Papua. Yesus melarang manusia untuk saling membunuh, bahkan marah dan mengatakan Kafir dan Jahil (lih., Mat 5:22). Manusia harus melanjutkan pesan cinta, sekaligus mempraktekannya dalam kehidupan nyata di dunia. Ajaran tentang “jangan mambunuh”, cintailah Tuhan dan sesama manusia, terasa hanya sebatas ucapan, ajaran (dogma) dan tulisan, terlihat hingga kini di Papua belum mendarat dan hidup. Alasannya:
Pertama, Banyak terjadi kasus-kasus pembunuhan. Antara militer Indonesia dan militer Papua saling tembak-menembak; banyak terjadi pengungsian di mana-mana, banyak terjadi kasus-kasus kejahatan dan pembunuhan di mana-mana, termasuk kasus begal yang hingga saat ini terjadi di mana-mana di atas tanah Papua, khususnya jantung ibu kota Propinsi Papua Tengah di Nabire.
Kedua, Banyak terjadi kasus-kasus pengrusakan terhadap alam Papua. Banyak perusahan legal maupun illegal, perusahan kecil maupun besar, asing maupun milik Negara secara menghancurkan kehidupan sesama ciptaan yang lain (lingkunga alam), yang pasti berakibat pada kehidupan manusia.
Akibat kasus kejahatan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang meningkat di tanah Papua, dengan segala kebencian dan kebengisan, membuat orang Papua dan orang-orang di Papua resah dan bingung: di tanah Papua tercipta tanah tanpa tuan dan Tuhan (Pencipta), saling diperlakukan seperti bukan manusia: saling teror, intimidasi, bully, dendam, iri, dusta dan bahkan sampai saling menghilangkan nyawa manusia. Pesan sekaligus ajaran Tuhan tentang “jangan membunuh” tidak mendapat tempat di hati dan pikiran manusia di Papua.
Penutup
Pertanyaan refleksi dengan melihat kasus ketidakadilan, pelanggaran HAM, kekerasan di Papua, apakah ajaran Tuhan “Jangan Membunuh” masih relevan di Papua? Apakah Allah masih ada di hati orang-orang di Papua? Apakah Allah masih berkuasa menyelamatkan manusia dan alam Papua? Ataukah Allah sudah pergi jauh? Atau Allah ada tapi tidak berkuasa? Ataukah Allah sengaja membiarkan? Atau Allah mau menolong tapi karena manusia keras kepala, manusia tidak mau mendengarkan dan menuruti perintah atau kehendak Allah? Pertanyaan-petanyaan ini menjadi penting dan perlu direnungkan bersama seluruh orang Papua, sehingga cinta manusia dan cinta Allah dipadukan untuk menyelamatkan alam Papua dan manusia Papua yang tersisa.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika