Oleh: Marius Goo, S.S., M.Fil
Pengantar
Ketika alam Papua dikatakan “paru-paru dunia” berarti setiap dan semua orang dipangggil untuk melestarikan atau menyelamatkan alam ciptaan, (Lukas Awi: Kanisius, 2018). Upaya-upaya penyelamatan alam tentu harus melibatkan Pencipta yang tidak menginginkan kehancuran, karena baik lingkungan alam maupun manusia berasal dari Allah seperti disampaikan Frederich Hegel, kalaupun Ludwig Feuerbach (1804-18730) menolak pandangan Hegel ini, (Johanis H., Seminari Pineleng, 2021). sebab yang terlihat dan nyata dilihat dan dijalani adalah manusia sendiri dan alam itu sendiri.
Pemerintah baik darah maupun pusat memiliki tanggung jawab penuh dalam mengamankan hutan Papua. Pemerintah tidak bisa secara sewenang-wenang mempergunakan kekuasaan untuk mengizinkan aneka perusahan masuk merusak alam Papua. Orang-orang beriman yang percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus yang menciptakan alam Papua melakukan kajian-kajian teologis dan spiritual dalam upaya penghargaan alam sebagai kediaman segala makluk. Dalam usaha ini, Ensiklik dari Paus Fransiskus 1 tentang Laudato Si’ dan Fratelli Tutti ikut andil memperkaya wawasan Teoekologis dalam menjaga keutuhan ciptaan Tuhan. Gereja tidak tinggal diam, tapi bekerja dalam diam, bekerja dalam keheningan, tidak ikut ramai dalam keramaian untuk menggali dan masuk lebih dalam, (lih., Biru Kira: Kanisius, 2020) dan menemukan akar-akar persoalan. Di samping itu, para akademisi harus melakukan kajian-kajian ilmiah dalam menyelamatkan bumi Papua. Selanjutnya, orang Papua sebagai pemilik pulau Papua tidak berpangku tangan dan sekaligus tidak memberikan izin kepada investor (pemodal) yang masuk merusak alam Papua.
Alam Papua
Kata Papua mengandung makna alam (tanah) dan juga manusia (lih., Marius: Bintang Sejahtera, 2018). Kesatuan antara manusia dan tanah tidak terlepas dari dasar biblis, bahwa manusia diciptakan dari tanah liat (bdk., Sir 33:10), selanjutnya manusia tubuhnya akan kembali menjadi tanah sepeperti semula dan roh akan kembali kepada Allah yang mengaruniakan (bdk., Pkh 12:7).
Secara kultural manusia Papua memiliki korelasi yang harmonis. Orang Papua meyakini alam sebagai manifestasi tubuh manusia: rumput sebagai rambut, kayu sebagai tulang, kali sebagai air mata atau susu, tanah sebagai daging, dll., (lih., Marius Goo, Skripsi di STFT, 2014). Alam adalah tubuh manusia sendiri dan sebaliknya tubuh manusia adalah alam.
Allah Menciptakan Alam Papua dengan Kasih demi Kasih
Alam Papua yang kaya akan sumber daya alam dari Sorong sampai Merauke bukan kebetulan ada. Alam Papua adalah paru-paru dunia yang memberika oksigen alami bagi keberlangsungan hidup segala makhluk. Kekayaan alam yang melimpah tidak mungkin diadakan secara mendadak, asal-asalan dan tanpa Tujuan. Dalam Kisah Penciptaan (Kej 1:1-31; 2:1-7), Allah menciptakan dunia secara teratur, terencana dan rapi. Dasar biblis Allah ini, ketika direnungkan tentu memiliki relevansi untuk alam Papua. Artinya bahwa alam Papua diciptakan oleh Allah sendiri dari ketiadaan (creatio ex nihilo) dengan tujuan mulia. Dengan demikian, alam Papua tidak dapat dipandang dan sekaligus dihancurkan hanya demi bisnis dan ekonomi semata dengan dalil pembangunan, pemberdayaan atau kesejahteraan Nasional.
Kristianitas menurut Soren Kierkegaard, hidup dan berkerja bagi sesama dengan ajakan “mari kita saling menjaga” (Yenny Yeski: Kanisius, 2020), dengan menempatkan cinta pada tempatnya. Mencintai alam adalah mencintai manusia sendiri. Pada dasarnya, Allah menciptakan segalanya dengan cintai, karena cinta dan untuk mencinta. Segala sesuatu ada dalam kerahiman kasihNya. Allah adalah kasih (Deus Caritas Est), dan barangsiapa tetap berada dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah ada di dalam dia (1Yoh 4:16); “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yan tunggal,” (Yoh1:16). Karena kasih itu pula, “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib,” (Flp 2:8).
Upaya Penyelamatan Alam Papua
Menyelamatkan lingkungan alam Papua bersifat mendesak dan segera. Urgensi penyelamatan bukan saja demi keselamatan manusia Papua dan Indonesia, namun sebaliknya melingkupi seluruh dunia. Papua merupakan jantung atau paru-paru dunia. Untuk menyelamatkan paru-paru paru dunia, setiap dan semua orang berkontribusi merawatnya dari kerusakan dan pengrusakan. Kebijakan apa pun dan oleh siapa pun untuk merusak alam, tidak dapat dibenarkan. Pemerintah juga masyarakat harus menaru kepeduluan dan keprihatinan mendalam atas alam sebagai rekan hidup, tidak dipandang sebatas objek semata sebagai lahan bisnis atau pengembangan ekonomi. Segela sesuatu tidak harus diuangkan atau tidak bisa dapat dipandang dari nilai ekonomis: untung dan rugi. Dalam usaha penyelamatan alam Papua, semua stakeholder harus bergabung jurus demi bonum commune dunia.
Memperjuangkan alam Papua tetap lestari dan utuh tidak bisa dilakukan hanya oleh orang Papua, sebab alam Papua adalah paru-paru dunia. Akibat kehancuran alam Papua tidak hanya akan dialami orang Papua, namun sebaliknya akan dirasakan oleh semua manusia di dunia. Dalam usaha penyelamatan alam Papua, dibutuhkan pendekatan ekologis dengan lebih menghargai segala ekosistemnya.
- Pemerintah Melalui Dinas Terkait
Alam Papua yang merupakan paru-paru dunia diundang semua stakeholder (pihak-pihak yang berwenang) menyatukan opsi dan persepsi untuk mencari upaya-upaya penyelamatan, terutama dinas lingkungan hidup, kehutanan dan pariwisata. Pemerintah pusat tidak dapat dibenarkan untuk memberikan izin tambang atau investasi di tanah Papua. Perusahaan-perusahaan yang dimasukan di Papua baik kecil maupun yang besar, baik nasional maupun berskala internasional selama ini telah merusak alam Papua. Melalui aneka macam perusahaan yang masu di Papua membuat alam Papua menjadi rusak dan paru-paru dunia tidak dapat bernafas normal. Akibat yang dirasakan adalah meningkatnya sakit-penyakit dan bahkan korban nyawa dengan perubahan cuaca dan iklim yang tidak bersahat pada kehidupan manusia. Sense of forest sebagai oknum pemerintah dan masyarakat yang rendah membuat hutan hancur-hancuran, (Lukas Awi, Op. Cit., hlm. 87).
- Agama: Memaknai Ensiklik Laudato Si’ dan Fratelli Tutti
Santo Fransiskus dari Asisi menekankan bahwa alam ciptaan adalah saudara, bahkan rekan dalam memuji Allah (Ibid., Hlm. 93). Hal ini mau mengatakan bahwa manusia dan alam hanyalah sekedar sesame ciptaan, tidak ada yang lebih dan kurang.
- Ensiklik Lautato Si’
“Laudaro Si’, signore”, yang artinya, “Terpujilah Engkau, Tuhanku” (Paus Fransiskus: 2015) merupakan Esiklik Paus Fransiskus. Paus Fransiskus berguru pada Santo Fransiskus dari Asisi dalam mengulas ensiklik ini. Paus memandang bumi sebagai sesama ciptaan, oase atau tempat tinggal segala makhluk. Oleh arena pendekatan terhadap alam harus lebih mengutamakan sipritulitas dan moralitas, bahwa segala sesuatu adalah rekan, sesama ciptaan yang harus saling membutuhkan. Paus menekankan para pemodal, perusahaan-perusahan yang merusak alam dengan pendekatan teknokrasi telah membuat bumi sebagai rumah bersama hancur, karena itu perlu melakukan pertobatan ekologis, perlu adanya keadilan antar generasi, bahwa bumi dirusakan hari ini, anak cucu akan menuai derita dan kematian. Dengan demikian orang saman sekarang, tidak meninggalkan malapetaka dengan merusak alam bagi generasi selanjutnya.
- Ensiklik Fratelli Tutti
Ensiklik “Fratelli Tutti”, artinya “saudara sekalian”, (Paus Fransiskus: 2020) dari Paus Fransiskus. Ensiklik ini juga berguru pada Santo Fransiskus dari Asisi. Santo Fransiskus dari Asisi menyapa semua saudara dan sudarinya dan mewartakan kepada mereka cara hidup yang memiliki cita rasa Injil. Santo Fransiskus menyetakan berbahagialah mereka yang mengasihi saudaranya “ketika ia berada jauh darinya, sama seperti kalau saudara itu ada di sampingnya” (Leo Laba Ladjar: Kanisius, 2001). Paus Fransiskus mengajak semua orang mendengati atau mempergunakan alam sebagai subjek, pribadi yang memiliki eksistensi dan maksudnya seperti manusia sendiri yang hidup memiliki makna. Memandang alam dari persaudaraan sesama ciptaan, bukan memandangnya sebagai objek dari untung atau rugi dengan pandangan meluluh ekonomi semata.
Penutup
Nyatanya alam Papua adalah paru-paru dunia. Ketika paru-paru ini terganggu dunia tidak akan bernafas lega dan normal. Tidak mengalami musibah sakit dan penyakit. Melalui pesan-pesan Injil (Kitab Suci), juka melalui ajaran Gereja, selalu diserukan untuk pentingnya penghargaan pada alam sebagai oase bagi kehidupan segala makhluk. Pada akhirnya, merusak lingkungan alam tidak laing adalah merusak tubuh sendiri. Bersama Pencipta sendiri yang mencintai semua ciptaaan, pasti bisa mempertahankan kedamaian dan keutuhan ciptaan Tuhan.
Kepustakaan
Tristarto, Lukas Awi, Panggilan Melestarikan Alam Ciptaan, 2018, Kanisius, Yogyakarta.
Raharusun, Johanis H., Makna Kerja Menurut Karl Marx, Jurnal Filsafat dan Teologi, 2021, Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Flores.
Kira, Biru, Bergerak Menjadi Papua, 2020, Kanisius, Yogyakarta
Goo, Marius, Pengantar Ke-dalam Manusia Mee, 2018, Bintang Sejahtera, Malang.
Goo, Marius, Nilai-nilai Kristiani Dibalik Perjuangan Mama Yosepha Alomang Bagi Hak Hidup Kaum Tertindas di Papua, Timika, 2014, Jayapura.
Mokorowu, Yenny Yeski, Makna Cinta: Menjadi Autentik dengan Mencintai Tanpa Syarat, 2020, Kanisius, Yogyakarta.
Ensiklik Laudaro Si’, Terpujilah Engkau dari Paus Fransiskus 2015, Cetakan Tahun 2018, Seri Dokumen Gereja, KWI Jakarta.
Ensiklik “Fratelli Tutti”, Saudara Sekalian dari Paus Fransiskus, tahun 2020, Seri Dukumen Gerejawi No. 124, KWI Jakarta.
Ladjar, Leo Laba, Karya-karya Fransiskus dari Asisi, 2001, Kanisius, Yogyakarta.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika