Oleh: Marius Goo, S.s., M.Fil
Pengantar
Trend atau tren adalah suatu gaya, mode atau juga kecenderungan yang sedang populer atau banyak diminati pada waktu tertentu, bisa mencakup fashion, topik pembicaraan, perilaku, atau pergerakan data (seperti harga saham), yang seringkali dipengaruhi oleh media sosial atau teknologi modern. Beberapa jenis trend yang berkembang hingga saat ini: Pertama, Fashion & Gaya Hidup: Gaya pakaian, rambut, atau pola hias yang sedang naik daun. Kedua, Media Sosial: Topik atau tagar yang sedang viral dan banyak dibicarakan. Ketiga, Keuangan & Investasi: Pergerakan harga aset seperti saham (uptrend, downtrend, sideways). Keempat, Pencarian (Google Trends): Topik atau kata kunci yang sering dicari orang, menunjukkan minat publik. Dari beberapa jenis trend ini, kami sedikit membahas jenis trend pertama, kedua dan keempat, walaupun tidak mendetail. Hal ini perlu dibicarakan karena, terlihat orang Papua tercabut dari akar-alar kebudayaan dengan jatuh dalam pragmatisme dalam pandangan Filsuf Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan.”
A. Realitas Hidup Orang Muda Papua Kini
Cara hidup orang Papua yang lebih ingin mengikuti trend zaman fashion, gaya hidup, gaya pakaian, rambut, atau pola hias yang sedang naik daun; pengaruh media sosial: mengikuti terpengaruh dengan topik yang sedang viral atau banyak dibicarakan; sering hanya bergantung penuh pada google trend: topik atau kata kunci yang sering dicari orang, yang menunjukkan minat publik tidak satu orang muda Papua yang terjun ke dunia ini.
Orang muda Papua kini telah menjadi konsumen aktif media sosial. Hampir semua anak muda Papua mengakses semua fitur, semua aplikasi dan membangun jaringan termasuk hingga barat dan ikut terpengaruh pula gaya hidup kebarat-baratan. Orang Papua merasa kurang dan tidak lengkap ketika menonton atau menyaksikan aksi-aksi, pertunjukan-pertunjukan atau kebiasaan-kebiasaan luar negri yang dianggap lebih mapan, lebih sempurna dan lebih maju.
Melalui konsumsi kebiasaan dan gaya kebarat-baratan atau cara negara lain, orang (muda) Papua merasa minder, merasa tidak ada arti dan harga, karena itu berjuang dan berlomba mengikuti trend: ingin mau seperti orang luar (orang lain). Misalnya, terwujud melalui cara berpakaian, cara menata rambut (sambung atau anyam, pirang, dll) dan juga soal menyajikan makan dan minum di rumah: makanan dan minuman asli menjadi tidak enak, dirasa ketinggalan zaman dan jijik.
Orang (muda) Papua kehilangan daya-daya untuk berjuang, bekerja keras dan banting tulang. Mereka tertipu dan terhasut oleh hiburan-hiburan palsu, oleh harapan-harapan palsu melalui media sosial, melalui iklan juga promosi-promosi yang memberikan sensasi namun tidak terwujud atau memberikan kedamaian dan kenyamanan sesungguhnya. Orang (muda) Papua merasa telah mencapai puncak klimaks dari kehidupan: merasa tidak ada hal yang harus diperjuangkan lagi, cukup hanya pegang gadget dan segala kebutuhan dengan sendirinya akan terpenuhi dan hal ini dianggap sebagai hal yang normal, wajar dan lumrah.
B. Pandangan Hannah Arendt Tentang “Banalitas Kejahatan”
Hannah Arendt adalah seorang filsuf politik bernegara Jerman. Lahir 14 Oktober 1906 dan meninggal 04 Desember 1975 di New York, Amerika Serikat. Pandangan Hannah Arendt tentang “banalitas kejahatan” (banality of evil) menyatakan bahwa kejahatan ekstrem, misalnya seperti Holocaust, tidak selalu dilakukan oleh monster jahat, tetapi oleh orang biasa yang enggan berpikir, tidak kritis, patuh pada sistem, dan kehilangan empati, sehingga mereka tidak sadar akan dampak mengerikan dari tindakan mereka, menganggapnya sekadar tugas atau normal. Konsep ini muncul dari pengamatan terhadap Adolf Eichmann, seorang birokrat Nazi, yang tampak normal namun terlibat dalam genosida. Arendt menekankan bahwa “ketidakberpikiran” adalah akar masalahnya, di mana individu kehilangan kemampuan untuk menilai benar dan salah secara independen, membuat mereka menjadi mesin pembunuh yang efisien dalam sistem totaliter tanpa motif jahat intrinsik.
C. Mencari Dan Menemukan Jalan Balik: Jalan Pembebasan
Ketika memahami secara benar pandangan filsuf Hannah Arendt ini, yakni banality of evil (banalitas kejahatan) jika diperhadapkan pada konteks real orang (muda) Papua kini, sebagaimana disampaikan oleh Hannah Arendt kepada Adolf Eichmann: Orang Papua sedang dalam “mesin pembunuh yang efisien”, bahwa orang Papua sedang menuju “genosida”, bukan dengan kejahatan yang langsung dan terlihat namun oleh gaya hidup orang Papua yang tidak sadar dan tidak mau berjuang keras, tidak mau bekerja keras dan hanya “terpenjara dalam trend zaman”, yang tidak lain adalah hanya menghabiskan waktu, uang dan merusak masa depan.
Seperti Adolf Eichmann yang jatuh dalam cara hidup “ketidak berpilin” sebagai mana yang dilihat Hannah Arendt seperti itulah sebagian besar orang (muda) Papua hidup hidup di masa ini. Padahal orang Papua menjunjung tinggi pikiran manusia memiliki kekuatan besar untuk merombak dunia, namun otak itu tidak difungsikan hanya karena mau terlihat manusia modern dan manusia maju, sementara sikap dan gaya hidup menunjukkan amoralitas dan kebiadaban.
Cara hidup yang lebih mementingkan trend, mode atau gaya hidup yang lebih elit dan megah telah menjajah individu orang Papua untuk jadi mesin yang harus terus berputar dalam sistem yang tertata dan tidak hidup sebagai manusia sejati: mesin yang tersistem adalah dari pagi hingga pagi main hand phone, apalagi memiliki akun Facebook profesional demi mencari duit di meta.
Jalan pulang atau jalan balik harus dibangun segera demi pembebasan dan penyelamatan orang Papua yang tersisa. Pertama, orang Papua wajib mencintai yang asli dan alami: tidak sambung rambut terlihat cantik, tidak pirang terlihat cantik dan ganteng dan bahkan lebih asli dan terlihat indah. Kedua, orang Papua tidak secara langsung mengkonsumsi dan sekaligus memperaktekan gaya kebarat-baratan di Papua. Ketiga, Orang Papua tidak terhasut oleh trend zaman yang membunuh segala daya untuk berjuang, banting tulang, berpikir lebih kritis dan bekerja pantang menyerah.
Penutup
Pandangan Hannah Arendt memukul orang (muda) Papua untuk memikirkan ulang tentang nasib hidup bangsa juga pribadi sebagai orang Papua. Orang Papua kini sedang menuju kepunahan (genosida) secara halus, tidak langsung dan tidak terlihat melalui tindakan dan praktek hidup sendiri yang lebih percaya dan tertarik pada trend zaman. Pertanyaan refleksi bagi orang Papua, dapatkah orang Papua akan menjadi tuan di tanah sendiri tanpa patuh dan hormat pada media sosial, pada siapa pun manusia di luar Papua? Dapatkah orang Papua akan menyelamatkan diri dengan hidup lebih kritis, hidup lebih kerja keras dan tidak saling membodohi dan membohongi? Marilah kitah kembali ke rumah kita, ke keluarga kita dan ke diri kita.