Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua Iklan ini sepenuhnya milik redaksi jelata news papua
ADVERTISEMENT
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
JELATA NEWS PAPUA
JELATA NEWS PAPUA
  • Home
  • Ragam

    Anak Muda Papua dan Trend Zaman: Merenungkan “Banalitas Kejahatan” Menurut Hannah Arendt

    DPD KNPI Paniai Gelar Rakerda, Dorong Kolaborasi dan Sinkronisasi Program Pemuda

    MRP Provinsi Papua Tengah Gelar KKR Seruan Damai di Kabupaten Paniai, Papua Tengah

    Tim Pencaker Kode R Papua Tengah Desak Pemerintah Prioritaskan CASN OAP

    KORMI Mimika Sukses Gelar Gar Free Day, Warga Antusias Nikmati Olahraga & Hiburan 

    Ikuti HAN 2025 di Nabire, Ini Pesan Ny. Tri Tito Karnavian

    Tutup Raker dan Musorprov KONI Papua Tengah, Gubernur: Kami Siap Bekap Ketua Terpilih

    Pemda Kabupaten Paniai Resmi Launching Festival Danau Paniai

    Segera Hentikan Operasi Tambang Emas Ilegal di Kampung Mogodagi

  • Berita
    • All
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    IPPM-NTD se-Jayapura gelar pelatihan dan simulasi mekanisme persidangan

    Bupati Dogiyai Keluarkan Intruksi, Larangan Miras Hukuman 10 Tahun Penjara

    Pemaksaan penurunan bendera KNPB di Sentani picu ketegangan

    DPT, Uang Permisi, Hak Ulayat Hambat Pembangunan Dogiyai

    Ketua DPW Tani Merdeka Papua Tengah Apresiasi Kinerja Kelompok Tani Paniai Sejahtera di Nabire

    Ketua PERTINA Papua Tengah Ucapkan Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947

    Kantor KNPB Pusat Dijatuhkan Bom, Sebelumnya Pernah Diincar Upaya Pembakaran

    Pamkab Dogiyai Buka Pendaftaran Beasiswa Afirmasi dan Program Baru Beasiswa Aimin

  • Artikel Opini
    • All
    • Startup

    Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

    Uang Bukan Segalanya

    Manusia Mee Bukan Binatang

    Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

    Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

    Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

    Banjir  di Aceh dan Sumatera adalah Bencana Kemanusiaan

    Menantikan Kristus di Tanah Papua

    Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan”

  • Hukum HAM
    • All
    • Kriminal

    Koalisi HAM Papua desak Presiden perintahkan Aparat hentikan dugaan penangkapan sewenang-wenang di Tambrauw

    Bupati Dogiyai Keluarkan Intruksi, Larangan Miras Hukuman 10 Tahun Penjara

    Koalisi HAM Papua desak Presiden perintahkan Aparat tangkap pelaku teror terhadap Andrie Yunus

    Forkopimda dan Masyarakat Dogiyai Sepakati Atasi Miras dan Penyakit Sosial, Instruksi Resmi Keluar Besok

    Biro HAM Klasis Debei Sesalkan Penghadangan Tim Harmonisasi di Kapiraya, Polisi Dinilai Lalai

    DPR Papua Tengah Minta Semua Pihak Dukung Upaya Penyelesaian Konflik Horizontal di Kapiraya

    KNPB Yahukimo Nyatakan Sikap atas Situasi “Darurat Penangkapan Liar” di Dekai

    Polemik Pernyataan Uskup Agung Merauke, Suara Kaum Awam Katolik Papua Desak Dialog Terbuka

    Mahasiswa Papua Tengah Suarakan 18 Tuntutan untuk Keadilan dan HAM di Tanah Papua

  • Kesehatan

    KPA Kabupaten Paniai bahas progres program penanggulangan HIV/AIDS tahun 2026

    Mahasiswi Uncen diduga diabaikan di RS Yowari, meninggal di area parkiran

    RSUD Paniai buka rekrutmen Fisikawan Medis, Bank Papua juga buka penerimaan pegawai

    KPA Paniai gelar pemeriksaan HIV dan distribusi pengamanan bagi 27 Personal Kopasgas TNI di Enarotali

    HIV/AIDS di Papua Tengah Masih Serius dan Endemi, Kesenjangan Pengobatan Jadi Tantangan Utama

    Kepala Puskesmas Aradide berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Paniai, siap layani peserta MUSPASME ke VIII  Komopa

    Kabupaten Dogiyai Raih Penghargaan UHC Kategori Utama untuk Ketiga Kalinya

    33 Tenaga Medis dari Kemenkes Tiba di Dogiyai, Siap Layani Masyarakat di 15 Puskesmas

    Kawal Fesmed 2026, Dinkes Papua Tengah Siagakan Tim Medis dan Ambulans

  • Lingkungan

    Asrama Mahasiswa/i Kabupaten Paniai kota studi Nabire gelar pelantikan Badan Formatur 

    Komunitas Porter Paniai gelar evaluasi efektivitas layanan transportasi publik

    Panen Raya Jagung Kelompok Paniai Tani Merdeka Papua Tengah, bukti kemandirian petani lokal

    Penyuluh Papua Tengah bagikan bibit bawang merah unggul ke Kabupaten Deiyai

    Forkopimda dan Masyarakat Dogiyai Sepakati Atasi Miras dan Penyakit Sosial, Instruksi Resmi Keluar Besok

    Bupati Dogiyai Ajak Masyarakat Tangani Penyakit Sosial

    Deiyai dan Dogiyai Desak Mimika Berkolaborasi Tangani Konflik Horizontal di Kapiraya

    Pemda Paniai gelar kerja bakti bersihkan wajah kota Enarotali

    DLH Paniai aktifkan Bak sampah di Enarotali dan Madi, dukung program “Paniai bebas sampah 2026”

  • Pendidikan

    Pamkab Dogiyai Buka Pendaftaran Beasiswa Afirmasi dan Program Baru Beasiswa Aimin

    SMK Karel Gobai Bagikan Seragam Sekolah, Tanamkan Semangat Disiplin dan Motivasi Belajar

    Kisah Inspiratif: Ev. Dr. Yefri Edowai Raih S3 Lewat Perjuangan Mandiri

    Sekolah Dasar di Paniai Gelar MBG untuk Siswa

    BEM STAK Nabire Gelar Seminar Nasional dan Pelatihan Jurnalistik, Wakil Ketua III Resmi Membuka Kegiatan

    SD YPPK Santo Yohanes Terima Fasilitas Pembelajaran, Target Hentikan Nyontek dan Tingkatkan Kreativitas

    Komunitas Literasi Dogiyai Dorong Literasi Siswa SD, Sebut Orang Papua Bukan Bodoh

    MUSPASMEE VIII : STK Touye Paapaa tegaskan Pendidikan penentu masa depan generasi muda Papua

    IPPMMA WUBWE Nabire Gelar Musyawarah Besar Ke-VII, Anastasia Agapa Jadi Ketua Baru

  • Religi

    Pos PI Kanaan Ugabado di Enarotali Gereja Kingmi gelar pelepasan 7 anak kepada Tuhan 

    Panitia MUSPASMEE VIII Sampaikan Terima Kasih, 10.573 Peserta Hadiri Pesta Iman di Komopa

    Gereja GKI Tanah Papua Diminta Hadir Bersama Umat yang Ditindas dan Tanahnya Dirampas

    Uskup Timika Resmi Buka MUSPASME VIII Paroki Kristus Jaya Komopa

    Kordinator Paniai Awepaida Rayakan HUT Masuk Injil KINGMI ke-87, Panitia Sampaikan Apresiasi

    Tim Penegak Daa dan Diyodou Rayakan Ulang Tahun ke-12

    Ketua Panitia MUSPASME VIII Tegaskan Kesiapan Sukseskan Musyawarah Pastoral Mee ke-VIII di Komopa

    Natal Penuh Damai di Pos PI Maranatha: Jemaat Rayakan Kelahiran Yesus Raja Damai

    Kadinsos Paniai, Bantu Semen dan Cat untuk Dukung MUSPAS Mee ke-VIII, di Paroki Kristus Jaya Komopa

  • Video
No Result
View All Result
JELATA NEWS PAPUA
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Artikel Opini
  • Internasional
  • Nasional
  • Papua
  • Pelosok
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara
Home Artikel Opini

Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan”

by Redaksi
19 Desember 2025
in Artikel Opini
0
SHARES
68
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh:  Marius Goo, S.s., M.Fil

Pengantar

Trend  atau tren adalah suatu gaya, mode atau juga  kecenderungan yang sedang populer atau banyak diminati pada waktu tertentu, bisa mencakup fashion, topik pembicaraan, perilaku, atau pergerakan data (seperti harga saham), yang seringkali dipengaruhi oleh media sosial atau teknologi modern. Beberapa jenis trend yang berkembang hingga saat ini: Pertama, Fashion & Gaya Hidup: Gaya pakaian, rambut, atau pola hias yang sedang naik daun. Kedua, Media Sosial: Topik atau tagar yang sedang viral dan banyak dibicarakan. Ketiga, Keuangan & Investasi: Pergerakan harga aset seperti saham (uptrend, downtrend, sideways). Keempat, Pencarian (Google Trends): Topik atau kata kunci yang sering dicari orang, menunjukkan minat publik. Dari beberapa jenis trend ini, kami  sedikit membahas jenis trend pertama, kedua dan keempat, walaupun tidak mendetail. Hal ini perlu dibicarakan karena, terlihat orang Papua tercabut dari akar-alar kebudayaan dengan jatuh dalam pragmatisme dalam pandangan Filsuf Hannah Arendt “Banalitas Kejahatan.”

A. Realitas Hidup Orang Muda Papua Kini

Cara hidup orang Papua yang lebih ingin mengikuti trend zaman fashion, gaya hidup, gaya pakaian, rambut, atau pola hias yang sedang naik daun; pengaruh media sosial: mengikuti terpengaruh dengan topik yang sedang viral atau banyak dibicarakan; sering hanya bergantung penuh pada google trend: topik atau kata kunci yang sering dicari orang, yang menunjukkan minat publik tidak satu orang muda Papua yang terjun ke dunia ini.

Orang muda Papua kini telah menjadi konsumen aktif media sosial. Hampir semua anak muda Papua mengakses semua fitur, semua aplikasi dan membangun jaringan termasuk hingga barat dan ikut terpengaruh pula gaya hidup kebarat-baratan. Orang Papua merasa kurang dan tidak lengkap ketika menonton atau menyaksikan aksi-aksi, pertunjukan-pertunjukan atau kebiasaan-kebiasaan luar negri yang dianggap lebih mapan, lebih sempurna dan lebih maju.

Melalui konsumsi kebiasaan dan gaya kebarat-baratan atau cara negara lain, orang (muda) Papua merasa minder, merasa tidak ada arti dan harga, karena itu berjuang dan berlomba mengikuti trend: ingin mau seperti orang luar (orang lain). Misalnya, terwujud melalui cara berpakaian, cara menata rambut (sambung atau anyam, pirang, dll) dan juga soal menyajikan makan dan minum di rumah: makanan dan minuman asli menjadi tidak enak, dirasa ketinggalan zaman dan jijik.

Orang (muda) Papua kehilangan daya-daya untuk berjuang, bekerja keras dan banting tulang. Mereka tertipu dan terhasut oleh hiburan-hiburan palsu, oleh harapan-harapan palsu melalui media sosial, melalui iklan juga promosi-promosi yang memberikan sensasi namun tidak terwujud atau memberikan kedamaian dan kenyamanan sesungguhnya. Orang (muda) Papua merasa telah mencapai puncak klimaks dari kehidupan: merasa tidak ada hal yang harus diperjuangkan lagi, cukup hanya pegang gadget dan segala kebutuhan dengan sendirinya akan terpenuhi dan hal ini dianggap sebagai hal yang normal, wajar dan lumrah.

B. Pandangan Hannah Arendt Tentang “Banalitas Kejahatan”

Hannah Arendt adalah seorang filsuf politik bernegara Jerman. Lahir 14 Oktober 1906 dan meninggal 04 Desember 1975 di New York, Amerika Serikat. Pandangan Hannah Arendt tentang “banalitas kejahatan” (banality of evil) menyatakan bahwa kejahatan ekstrem, misalnya  seperti Holocaust, tidak selalu dilakukan oleh monster jahat, tetapi oleh orang biasa yang enggan berpikir, tidak kritis, patuh pada sistem, dan kehilangan empati, sehingga mereka tidak sadar akan dampak mengerikan dari tindakan mereka, menganggapnya sekadar tugas atau normal. Konsep ini muncul dari pengamatan terhadap Adolf Eichmann, seorang birokrat Nazi, yang tampak normal namun terlibat dalam genosida. Arendt menekankan bahwa “ketidakberpikiran” adalah akar masalahnya, di mana individu kehilangan kemampuan untuk menilai benar dan salah secara independen, membuat mereka menjadi mesin pembunuh yang efisien dalam sistem totaliter tanpa motif jahat intrinsik.

C.  Mencari Dan Menemukan Jalan Balik: Jalan Pembebasan

Ketika memahami secara benar pandangan filsuf Hannah Arendt ini, yakni banality of evil (banalitas kejahatan) jika diperhadapkan pada konteks real orang (muda) Papua kini, sebagaimana disampaikan oleh Hannah Arendt kepada Adolf Eichmann: Orang Papua sedang dalam “mesin pembunuh yang efisien”, bahwa orang Papua sedang menuju “genosida”, bukan dengan kejahatan yang langsung dan terlihat namun oleh gaya hidup orang Papua yang tidak sadar dan tidak mau berjuang keras, tidak mau bekerja keras dan hanya “terpenjara dalam trend zaman”, yang tidak lain adalah hanya menghabiskan waktu, uang dan merusak masa depan.

Seperti Adolf Eichmann yang jatuh dalam cara hidup “ketidak berpilin” sebagai mana yang dilihat Hannah Arendt seperti itulah sebagian besar orang (muda) Papua hidup hidup di masa ini. Padahal orang Papua menjunjung tinggi pikiran manusia memiliki kekuatan besar untuk merombak dunia, namun otak itu tidak difungsikan hanya karena mau terlihat manusia modern dan manusia maju, sementara sikap dan gaya hidup menunjukkan amoralitas dan kebiadaban.

Cara hidup yang lebih mementingkan trend, mode atau gaya hidup yang lebih elit dan megah telah menjajah individu orang Papua untuk jadi mesin yang harus terus berputar dalam sistem yang tertata dan tidak hidup sebagai manusia sejati: mesin yang tersistem adalah dari pagi hingga pagi main hand phone, apalagi memiliki akun Facebook profesional demi mencari duit di meta.

Jalan pulang atau jalan balik harus dibangun segera demi pembebasan dan penyelamatan orang Papua yang tersisa. Pertama, orang Papua wajib mencintai yang asli dan alami: tidak sambung rambut terlihat cantik, tidak pirang terlihat cantik dan ganteng dan bahkan lebih asli dan terlihat indah. Kedua, orang Papua tidak secara langsung mengkonsumsi dan sekaligus memperaktekan gaya kebarat-baratan di Papua. Ketiga, Orang Papua tidak terhasut oleh trend zaman yang membunuh segala daya untuk berjuang, banting tulang, berpikir lebih kritis dan bekerja pantang menyerah.

Baca Juga:

No Content Available

Penutup

Pandangan Hannah Arendt memukul orang (muda) Papua untuk memikirkan ulang tentang nasib hidup bangsa juga pribadi sebagai orang Papua. Orang Papua kini sedang menuju kepunahan (genosida) secara halus, tidak langsung dan tidak terlihat melalui tindakan dan praktek hidup sendiri yang lebih percaya dan tertarik pada trend zaman. Pertanyaan refleksi bagi orang Papua, dapatkah orang Papua akan menjadi tuan di tanah sendiri tanpa patuh dan hormat pada media sosial, pada siapa pun manusia di luar Papua? Dapatkah orang Papua akan menyelamatkan diri dengan hidup lebih kritis, hidup lebih kerja keras dan tidak saling membodohi dan membohongi? Marilah kitah kembali ke rumah kita, ke keluarga kita dan ke diri kita.

Post Views: 600
Tags: Anak Muda Papua Dapat Bantai Dalam Trend Zaman: Menurut Hannah Arendt "Banalitas Kejahatan"
Previous Post

Papera Papua Tengah dan Dinas Perindagkop Resmi Jalin Program Kerja Bersama

Next Post

Rapat Tutup Tahun Inspektorat Dogiyai: Evaluasi Kinerja dan Pesan Natal

Redaksi

Redaksi

BERITA TERKAIT

Artikel Opini

Stop Jual Tanah: Tanah Tidak Dapat Bertambah Seperti Populasi Manusia

2 minggu ago
Artikel Opini

Uang Bukan Segalanya

3 minggu ago
Artikel Opini

Manusia Mee Bukan Binatang

4 minggu ago
Artikel Opini

Konflik Kapiraya: Siapa Dalang di Balik Saudara Bunuh Saudara?

4 minggu ago
Artikel Opini

Selesaikan Konflik Kapiraya dengan Kembalikan Hak Kesuluhan kepada Suku Mee dan Kamoro

1 bulan ago
Artikel Opini

Konflik Di Kapiraya: Suku Kamoro Dan Suku Mee Diadudomba

1 bulan ago
Next Post

Rapat Tutup Tahun Inspektorat Dogiyai: Evaluasi Kinerja dan Pesan Natal

Papua

Alamat Redaksi

Jl. Trans Nabire-Ilaga KM 200, Kampung Mauwa, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah.

Browse by Category

  • Artikel Opini
  • Berita
  • Hukum HAM
  • Internasional
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Papua
  • Pelosok
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Politik
  • Puisi
  • Ragam
  • Religi
  • Sastra
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Sosok/Tokoh
  • Startup
  • Surat Terbuka
  • Video
  • Wawancara
  • Redaksi
  • Tentang JNP
  • Hubung Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Internasional
    • Nasional
    • Papua
    • Pelosok
  • Artikel Opini
  • Hukum HAM
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Pers RIlis
  • Ragam
  • Religi
  • Seni Budaya
  • Sosial Ekonomi
  • Wawancara

Hak Cipta Jelata News Papua © 2026 All rights reserved