Oleh: Marius Goo S.S., M.Fil
Pengantar
Gereja Katolik universal merayakan Perayaan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga setiap tanggal 15 Mei. Santa Perawan Maria ini diangkat ke Surga dengan jiwa dan raganya, sebab belum ada cerita tentang peristiwa kematian dan hingga kini tidak ada kuburan yang mengatakan Santa Perawan Maria dikuburkan. Kerahiman Santa Perawan Maria ini tak dapat samakan dengan kerahiman semua manusia (perempuan) di dunia. Kerahiman tanah Papua (walaupun bukan manusia) memberikan gambaran kerahiman Santa Perawan Maria. Bagaimana melihat kesamaan dan keperbedaan (kekhasan) dari dua kerahiman ini? Bagaimana perempuan-perempuan Papua berguru pada rahim Papua yang penuh cinta dan rahim Santa Perawan Maria yang penuh berbelas kasih? Selanjutnya, bagaimana manusia-manusia (anak-anak) Papua mempertanggungjawabkan kerahiman yang diperoleh dari rahim bumi Papua, juga rahim mama-mama Papua, sebagaimana Tuhan Yesus yang bertanggung jawab penuh pada tugas perutusan-Nya, yakni membebaskan manusia yang kemudian bunda Maria meneriman peran sebagai Pengantara kedua untuk menyelamatkan manusia?
Kerahiman Santa Perawan Maria
Rahim bunda Maria itu sangat subur, kesuburan rahimnya melebihi semua perempuan di seluruh dunia. Karena itu, Allah melihat bahwa rahim bunda Maria pantas menerima (mengandung) Yesus Sang Putera Tunggal-Nya. Bentuk rahim (kandungan) setiap perempuan tentu sama, namun yang membedakan rahin Santa Perawan Maria dengan semua perempuan lain seluruh dunia saat itu adalah sikap hidup. Bunda Maria memiliki sikap yang khas (istimewa) dalam menjaga kemurnian tubuhnya. Sikap-sikap yang pantas dipelajari dan sekaligus diteladani adalah:
Pertama, Sikap iman yang teguh. Sikap atau praktek iman bunda Maria pada Tuhan sangat jelas melalui perkataannya, “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu,” (Bdk., Luk 1:38). Iman yang dibangun bunda Maria adalah kerelaan dan kepasrahan diri secara utuh dan total pada kehendak Allah sendiri.
Kedua, Kesediaan dan kesiapan diri untuk digunakan oleh Allah. Kesiapsediaan bunda Maria bagi kehendak dan karya Allah terwujud ketika saat Allah mau menyatakan kehendak-Nya, bunda Maria secara tepat menerima (menanggapi), atau menyanggupi untuk dapat terwujud dalam dirinya. Allah melihat, kandungan yang siap digunakan hanya dalam rahim bunda Maria dari semua perempuan. Sikap siap sedia bunda Maria menunjukkan sikap hidup Kristiani yang penuh kebijaksanaan, yang mampu mengikuti tanda-tanda zaman, sekaligus didapati iman yang teguh pada waktunya.
Ketiga, Ketabahan melewatkan pencobaan. Bunda Maria adalah perempuan kuat, yang dengan penuh ketabahan melewatkan tantangan dan pencobaan. Bunda Maria tidak jatuh dalam pencobaan. Ia dengan tenang, tabah dan penuh permengungan mengantar Anaknya hingga puncak Golgota dan menyaksikan Anaknya kembali kepada Bapa-Nya. Penderitaan yang dialami bunda Maria hampir setimpal dengan Yesus yang memikul salib hingga puncak Golgota. Penderitaan bunda Maria tanpa darah dan luka. Penderitaan bunda Maria hancur dalam hati, dan luka bunda Maria tertusuk ketika menyaksikan Anak tunggalnya dianiaya para serdadu di depan mata-kepalanya sendiri.
Kerahiman Tanah Papua
Seperti rahim bunda Maria, kerahiman tanah Papua ini tak terbatas dan tak berujung. Dengan penuh kerahiman dan belas kasih, tanah Papua menjadi sumber kehidupan. Tanah Papua menyediakan segalanya bagi kehidupan dan pertumbuhan segala makhluk.
Tanah Papua yang subur dan kaya telah menumbuhkan segala macam tumbuhan dan dari sana setiap hewan dan manusia memperolah makanan dan minuman. Dari tanah Papua yang subur inilah manusia Papua diciptakan. Tanah Papua subur adanya, apalagi manusia Papua, pasti lebih subur, hanya saja manusaia Papua sendiri tidak menyadari, atau terbelenggu dalam sikap-sikap yang tidak pantas, menghancurkan atau merugikan diri sendiri.
Manusia Papua mendapatkan kemurahan dan kerahiman (belas kasih) yang berlimpah dari tanah Papua. Tanah Papua menjadi oase (sumber) penghidupan dan ketenangan. Manusia Papua dapat tumbuh subur, dapat hidup aman dan damai karena ada tanah, sebab tidak pernah ada manusia yang hidup tanpa tanah. Analoginya: walaupun burung bersayap dan dapat terbang tapi mereka membutuhkan pohon yang tumbuh dari tanah untuk membuat sarang dan dapat hinggap. Demikian juga pesawat terbang, sekalipun terbang tinggi, butuh lapangan untuk mendarat. Apalagi manusia yang tak memiliki sayap, manusia butuh tanah untuk melangsungkan hidup. Bahkan, tanah tanpa kata dan mengeluh menerima setiap insan, hingga menerima kembali ke dalam tanah tanpa menolak. Manusia takkan pernah hidup tanpa tanah, kalaupun tanah selalu ada tanpa manusia.
Ketulusan dan kerahiman tanah menerima setiap manusia tak disadarinya, karena itu penghormatan dan penghargaan pada tanah pun menjadi minim. Manusia menjadi durhaka, berpikir untuk merusakan tanah dengan ekspolitasi besar-besaran, dengan dibiarkan begitu saja, bahkan lebih parah ialah menjualnya demi uang dan kekayaan.
Rahim Mama-Mama Papua
Rahim mama-mama Papua seperti rahim bunda Maria dan rahim tanah Papua. Setiap rahim mama-mama Papua memiliki potensi melahirkan kehidupan. Mama-mama Papua memiliki harapan yang sama, agar anak-anak yang dikandung dan dilahirkan hidup aman, tetang dan damai. Mama-mama Papua yang melahirkan selalu berharap dan sering mendoakan anak-anaknya agar kelak menjadi orang-orang yang berguna untuk Gereja dan bangsanya.
Pencipta memberikan rahim-rahim mama-mama Papua yang subur. Kesuburan rahim mama-mama Papua ini adalah anugrah dari Allah, dengan tujuan utama adalah supaya bertambah banyak dan memenuhi bumi (Kej 1:22; 9:1). Tujuan Pencipta memberikan rahim yang subur bagi mama-mama (perempuan) Papua jelas, maka tidak ada alasan untuk melakukan pengguguran (atau aborsi), juga tindakan-tindakan sepadan yang bertujuan membunuh atau menghilangkan nyawa manusia.
Rahim mama-mama Papua yang subur diharapkan melahirkan anak-anak Papua yang berpotensi dan berdaya kreasi. Mama-mama Papua harus melahirkan anak-anak karena melahirkan anak adalah kodrat mutlak sebagai seorang perempuan. Anak-anak Papua yang dilahirkan dari rahim yang subur, akan terbentuk anak-anak Papua yang subur, kaya akan ilmu dan pengetahuan untuk merawat bumi Papua, untuk menyelamatkan alam Papua dan sekaligus mencari solusi-solusi bagi kehidupan yang sepantasnya bagi manusia Papua.
Penutup
Bunda Maria menjadi teladan iman kaum beriman Kristini. Bunda Maria meletakan dasar iman bagi pengikut Puteranya. Imannya yang tanpa pamrih, tanpa syarat dan tanpa beban, merima Yesus sang Pembebas dalam rahimnya sebagai sang Bayi, melahirkan-Nya dan menyusui, hingga membesarkan dan mengantarkan-Nya di Golgota tanpa beban, merupakan ajaran yang radikal dan total bagi perempuan Papua.
Tanah Papua dalam kerahimannya berkenan dijadikan sebagai alat terciptanya manusia, sekaligus menerimanya tanpa pamrih untuk tinggal di atas tanah, mendapatkan makan dan minum dari tanah, menjadi besar, bahkan menerima kembali ke dalam tanah dengan penuh kasih dan cinta saat mati dan dikuburkan, merupakan contoh bagaimana kaum perempuan Papua merawat dan membesarkan anak-anaknya.
Perempuan Papua sudah saatnya mengambil peran sentral seperti bunda Maria dan tanah, yang mampu melahirkan dan memberikan kehidupan. Peran perempuan tidak sebatas melahirkan, dan membesarkan anak secara fisik, namun lebih daripada itu mengantarkan (membina) anak-anak seperti bunda Maria mengatarkan Yesus sampai kepada membebaskan umat manusia. Semoga mama-mama Papua dapat belajar dan memahami peran bunda Maria lebih banyak dan lebih dalam di pesta Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, setiap tanggal 15 Agustus, sehingga anak-anak yang dilahirkan berpotensi menghancurkan maut dan kejahatan, sebaliknya bersama Yesus mendirikan Kerajaan Allah, membangun bangsa yang lebih bermartabat dan sesuai dengan maksud Allah sendiri.
Penulis adalah Dosen STK “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika