PANIAI, JELATANEWSPAPUA.COM – Hujan deras dan banjir kali Aga kembali mengguyur Distrik Ekadide, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, dan bencana banjir pun tak terhindarkan. Namun, bagi masyarakat setempat, ini bukanlah peristiwa baru. Selama empat tahun berturut-turut, banjir telah menjadi musibah tahunan yang meninggalkan jejak kerusakan parah dan trauma berkepanjangan.
Laporan di terima Jelatanewspapua.com (28/9). Sejak banjir besar pada 25 September 2025 hingga kini, air terus meluap tanpa bisa dikendalikan. Genangan bukan hanya menutupi jalan kampung, tetapi juga merendam rumah warga, sekolah, gereja, hingga lahan pertanian. Bahkan, beberapa kampung nyaris tenggelam sepenuhnya, seperti Kampung Geida, Makidimi, Ogeida, Widimeida, Gakokotu, dan Debamaida.
Rumah, Lahan, dan Harapan yang Hilang
Di Kampung Makidimi, rumah-rumah panggung yang biasanya menjadi tempat berlindung, kini rusak dihantam arus. Lahan ubi jalar dan sayur-mayur yang menjadi tumpuan hidup masyarakat pun gagal panen. Ternak babi, ayam, hingga anjing banyak yang hanyut.
“Setiap kali banjir datang, kami kehilangan semua. Rumah rusak, kebun hilang, ternak mati. Kami hanya bisa selamatkan diri,” ungkap salah satu warga yang kini mengungsi ke dataran lebih tinggi.
Bagi masyarakat Papua di Ekadide, kehilangan lahan pertanian bukan sekadar kerugian ekonomi, tetapi juga menyentuh inti kehidupan sehari-hari. Kebun adalah sumber pangan, sumber adat, dan sumber kebanggaan.
Sekolah dan Gereja Tak Luput dari Bencana
Tidak hanya pemukiman, fasilitas publik seperti sekolah dan gereja juga ikut terendam. Anak-anak terpaksa menghentikan proses belajar, sementara kegiatan ibadah tak lagi bisa dilakukan di rumah Tuhan yang biasanya menjadi pusat penguatan iman di tengah bencana.
“Sekolah rusak, anak-anak tidak belajar. Gereja juga terendam. Kami kehilangan tempat pegangan batin,” ujar seorang tokoh masyarakat di Kampung Widimeida.
Kepala Distrik: Kami Butuh Pemerintah Hadir
Kepala Distrik Ekadide, Yunus Nawipa, menyampaikan harapannya agar pemerintah segera bertindak. Menurutnya, masyarakat sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi keterbatasan membuat bencana ini sulit ditangani sendiri.
“Banjir ini sudah empat tahun berturut-turut. Sekarang lebih parah karena kampung-kampung sampai tenggelam. Kami berharap pemerintah Kabupaten Paniai dan pemerintah Provinsi Papua Tengah segera turun tangan. Kami butuh bantuan perbaikan rumah, fasilitas umum, dan juga dukungan ekonomi selama musibah ini,” tegas Yunus Nawipa, kepada Wartawan (28/9).
Mengungsi ke Tempat Lebih Tinggi
Sebagian besar warga kini memilih mengungsi ke daerah yang lebih tinggi di Pasir Putih dan sekitarnya, meninggalkan kampung halaman mereka yang terendam. Meski selamat dari bahaya air, mereka menghadapi persoalan baru kekurangan pangan, tempat tinggal, dan kebutuhan dasar lainnya.
Harapan Akan Perhatian Serius
Musibah banjir di Ekadide bukan lagi kejadian sesaat, melainkan krisis yang terus berulang. Masyarakat berharap pemerintah tidak sekadar memberi bantuan darurat, tetapi juga memikirkan solusi jangka panjang, seperti pembangunan tanggul, relokasi pemukiman, atau sistem drainase yang lebih baik.
Selama banjir terus berulang tanpa penanganan serius, warga Distrik Ekadide akan terus hidup dalam ketidakpastian, kehilangan, dan ancaman bencana berikutnya. (*)