DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM— Terminal Moanemani pada Selasa (10/25) berubah menjadi ruang publik penuh seruan politik ketika Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Dogiyai menggelar aksi mimbar bebas memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Massa hadir dari berbagai kampung untuk menyampaikan tuntutan dan harapan mereka terhadap situasi hak asasi manusia di Papua.
Sejak pagi, para peserta aksi mulai memenuhi area terminal dengan membawa spanduk, poster, dan simbol perlawanan yang mencerminkan pengalaman panjang masyarakat Papua dalam menghadapi berbagai peristiwa kekerasan. Lagu-lagu perjuangan dinyanyikan bersama untuk menguatkan semangat massa.
Aksi itu digelar untuk menolak pelanggaran HAM yang menurut para peserta masih terus terjadi sejak 1 Desember 1961 hingga saat ini. Mereka menilai bahwa sejarah panjang kekerasan tersebut belum pernah diusut secara menyeluruh oleh negara.
Orator pertama yang naik ke panggung mengingatkan massa bahwa peringatan Hari HAM Sedunia harus menjadi ruang untuk mengevaluasi kembali kondisi Papua. Ia menyebut bahwa masyarakat Papua masih hidup dalam bayang-bayang trauma sejarah.
Sorotan utama muncul ketika Yusni Iyouwau, seorang perempuan Papua, maju dan menyampaikan orasinya dengan suara yang menggema di seluruh terminal. Ia menegaskan bahwa perempuan juga memiliki peran besar dalam menjaga sejarah dan memperjuangkan keadilan.
Dalam orasinya, Yusni mengatakan bahwa dirinya berdiri di panggung bukan demi kepentingan pribadi, tetapi karena panggilan sejarah yang tidak boleh dilupakan. Ia menyebut bahwa sejarah Papua tidak bisa dimanipulasi oleh siapa pun.
Ia menegaskan bahwa ribuan orang Papua diduga menjadi korban pembunuhan, penembakan, dan kekerasan lain oleh aparat militer Indonesia selama puluhan tahun. Menurutnya, seluruh peristiwa itu harus ditinjau kembali secara adil dan transparan.
Yusni menambahkan bahwa pelanggaran HAM bukan isu masa lalu, tetapi kenyataan yang masih dirasakan masyarakat hingga hari ini. Karena itu, ia mengajak warga Papua untuk terus bersuara tanpa rasa takut.
Suara tegas Yusni disambut pekikan dukungan dari massa. Banyak di antara mereka yang merasa suara perempuan jarang mendapat ruang, sehingga kehadiran Yusni membawa makna khusus bagi peserta aksi.
Setelah Yusni turun, tokoh adat Saul Edowai maju ke panggung menyampaikan pandangannya mengenai kondisi sosial dan keamanan di Papua. Ia menolak tindakan militer yang menurutnya membuat masyarakat adat hidup dalam tekanan.
Saul menegaskan bahwa TNI dan Polri seharusnya memperlakukan masyarakat Papua sebagai sesama manusia. Ia menyerukan pentingnya saling menghargai dan menghentikan pendekatan militer dalam menangani masalah di Papua.
Dalam orasinya, ia menyatakan bahwa kehadiran negara di Papua dianggap tidak sah oleh sebagian besar masyarakat adat. Ia menyebut bahwa hal itu membuat generasi muda mengalami kebingungan arah dan terjerumus pada masalah sosial seperti pemabukan.
Saul juga menekankan bahwa perbaikan Papua harus dimulai dari pendekatan yang manusiawi dan menghargai kehidupan masyarakat adat. Ia menilai bahwa kekerasan hanya memperpanjang penderitaan.
Aksi berlanjut dengan orasi dari pemuda dan mahasiswa yang hadir. Mereka menyampaikan bahwa persatuan rakyat Dogiyai adalah hal yang paling penting untuk menghadapi berbagai tekanan yang mereka alami.
Menjelang siang, juru bicara KNPB Dogiyai, Yames Pigai, naik ke panggung dan memberikan orasi terakhir. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya solidaritas dan kesatuan rakyat Papua dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Yames menyerukan agar rakyat Dogiyai tidak pernah berhenti menyuarakan aspirasi politik yang mereka yakini benar. Ia mengatakan bahwa perjuangan mereka bukan sekadar perlawanan fisik, tetapi perjuangan moral untuk menghapus penderitaan rakyat.
Dalam pidatonya, Yames menekankan bahwa dunia internasional harus mengetahui bahwa masyarakat Papua sedang menuntut keadilan. Ia menyebut bahwa tuntutan Papua Merdeka adalah ekspresi dari pengalaman panjang ketidakadilan.
Aksi itu ditutup dengan doa bersama sebagai penghormatan kepada para korban kekerasan di seluruh wilayah Papua. Massa kemudian membubarkan diri dengan tertib meskipun pengawasan aparat terlihat jelas di sekitar lokasi.
Bagi masyarakat yang hadir, aksi tersebut menjadi pengingat bahwa suara rakyat Papua tidak boleh dibungkam. Mereka berharap momentum Hari HAM Sedunia membuka ruang dialog dan penyelesaian yang lebih adil.
Aksi mimbar bebas itu meninggalkan pesan mendalam bahwa sejarah Papua harus dijaga dan tidak boleh dimanipulasi. Pesan itu menjadi seruan moral bagi generasi muda untuk terus memperjuangkan kebenaran dan keadilan.