JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Di tengah pesatnya pembangunan Kota Jayapura, masih ada kisah pilu tentang perjuangan hidup warga kecil. Salah satunya adalah Eduward Numberi, seorang ayah yang tinggal bersama istri dan dua anaknya yang masih balita, masing-masing berusia 2 dan 3 tahun. Keluarga kecil ini menetap di sebuah rumah kayu sederhana di Hamadi Tanjung, RT 003 RW 006, Kelurahan Argapura, Distrik Jayapura Selatan. Rabu (10/09).
Kondisi rumah yang mereka tempati sangat memprihatinkan. Berdiri di tepi jurang, rumah kayu itu sudah lapuk dimakan usia. Atap seng bocor, dinding papan bolong-bolong, dan sebagian hanya ditutupi tripleks bekas. Ketika hujan turun, air masuk ke dalam kamar dan ruang tengah, membuat suasana semakin tidak nyaman, terutama bagi anak-anak yang masih kecil.
“Kami tinggal di sini lebih dari satu tahun. Pemilik rumah baik, izinkan kami menempati sementara. Tapi tahun depan kalau rumah ini mau dibangun kembali, kami harus keluar,” ujar Eduward dengan suara lirih, Rabu (10/09) di Jayapura, Papua.
Elias Awekidabi Gobay, Aktivis Gereja Katolik Keuskupan Jayapura menyatakan Kehidupan keluarga ini semakin berat karena keterbatasan ekonomi. Eduward memiliki keahlian sebagai nelayan, namun tidak memiliki perahu, jaring, maupun kail. Sementara itu, sang istri tidak bekerja, membuat beban keluarga sepenuhnya bertumpu padanya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Eduward hanya bisa mengandalkan bantuan tetangga atau pekerjaan serabutan. Jika ada makanan, mereka makan; jika tidak, mereka harus menahan lapar.
Di tengah kesulitan, Eduward masih menyimpan harapan besar. Ia berharap ada perhatian pemerintah dan pihak-pihak yang peduli untuk membantu keluarganya keluar dari jerat kemiskinan.
“Saya berharap pemerintah bisa membantu saya mendapatkan rumah yang layak dan peralatan nelayan. Kalau ada pekerjaan apa saja, saya siap. Saya ingin bekerja untuk keluarga saya,” ungkapnya penuh harap.
Bagi Eduward, Elias Gobai yang berada di lapangan tersebut mengatakan bantuan berupa rumah layak huni dan perlengkapan melaut adalah pintu menuju kehidupan yang lebih baik. Ia ingin kembali bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bukan hanya mengandalkan belas kasihan orang lain.
Kisah Eduward Numberi menjadi potret nyata ketimpangan sosial di Kota Jayapura. Di balik gemerlap pembangunan, masih ada warga yang hidup di rumah kayu lapuk di tepi jurang, berjuang setiap hari demi bertahan hidup. “Eduward dan keluarganya menunggu uluran tangan pemerintah, lembaga sosial, maupun masyarakat luas agar bisa hidup lebih layak dan sejahtera,” katanya. (*)