DOGIYAI, JELATANEWSPAPUA.COM — Memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia ke-77 tahun ini, Pemuda Katolik Komisariat Cabang (KomCab) Dogiyai mendesak negara untuk mengambil langkah nyata atas berbagai kasus pelanggaran HAM yang terus terjadi di Tanah Papua.
Ketua Pemuda Katolik KomCab Dogiyai, Benediktus Goo, mengatakan bahwa peringatan Hari HAM Sedunia pada 10 Desember selalu merujuk pada momentum ditetapkannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) di Paris pada 1948 sebagai respons atas trauma global pasca Perang Dunia II. Menurutnya, tanggal tersebut bukan sekadar libur internasional, tetapi sebuah momen refleksi kemanusiaan.
Ia menegaskan bahwa bagi masyarakat Papua, refleksi ini semakin penting karena situasi sosial dan politik yang terus menimbulkan trauma berkepanjangan. Goo menyebut hak asasi manusia sebagai ruang bagi setiap orang untuk hidup tanpa tekanan, tanpa diskriminasi, dan tanpa penghakiman berbasis identitas.
“Papua hidup dalam pengalaman traumatik berbagai tekanan hidup. Karena itu, momentum ini harus menjadi ruang untuk mengekspresikan hak hidup kita,” katanya.
Goo menjelaskan bahwa Pemuda Katolik, melalui moto Pro Ecclesia Et Patria dan Pro Bono Publico, menempatkan perjuangan kemanusiaan sebagai tanggung jawab moral, terutama melihat kondisi konkret masyarakat di wilayah masing-masing.
Ia menyoroti sejumlah kasus pelanggaran HAM yang dinilai belum terselesaikan dan memerlukan perhatian serius negara, antara lain: Penembakan terhadap Yulianus Keiya di Idakebo, Penembakan Gerry Goo di Mauwa, Penembakan Yulianus Tebai, Pembakaran Pdt. Neles Peuki di Kapiraya, Kurangnya perlindungan bagi ribuan pengungsi di Nduga, Pegunungan Bintang, Intan Jaya, dan Maybrat
Menurutnya, negara memiliki kewajiban untuk melindungi warganya, terutama kelompok rentan yang terdampak konflik bersenjata. “Pemerintah provinsi dan kabupaten wajib melindungi para pengungsi. Itu amanat kemanusiaan,” tegasnya.
Goo mengajak seluruh anggota Pemuda Katolik Dogiyai untuk terlibat dalam refleksi dan aksi damai guna memperingati Hari HAM Sedunia, serta menjadikan momentum ini sebagai dorongan perubahan kebijakan yang lebih manusiawi di Papua.
“Selamat merayakan Hari HAM Sedunia. Mari kita berdiri bersama melihat persoalan ini, bukan membiarkannya berlalu,” tutupnya.