Oleh: Marius Goo
Pengantar
Mendengar kata HIV/AIDS tidak asing di telinga manusia yang hidup di atas tanah Papua. Sudah terbiasa mendengar dan karena itu sering bosan untuk membicarakan lagi, sementara dengan sangat ganas dan bengisnya sedang merengut nyawa manusia. Gerakan pembrantasan mestinya digalan, tidak hanya mereka yang di kesehatan dan KPA, tetapi juga semua lapisan masyarakat. Tindakan promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitatif mesti lakukan secara bersama-sama secara terencana dan tersistem.
HIV/AIDS
HIV dan AIDS adalah kondisi kesehatan yang serius dan perlu dipahami dengan baik oleh masyarakat. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome) merupakan kondisi di mana sistem kekebalan tubuh sangat lemah akibat infeksi HIV.
Dalam perjalanan infeksi HIV, terdapat beberapa tahapan atau stadium yang perlu diwaspadai agar dapat mengambil tindakan yang tepat. Tahapan-tahapan ini membantu dalam pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana virus HIV berkembang dalam tubuh dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.
Fakta HIV/AIDS di tanah Papua tidak sedikit orang yang telah teridap. Kalaupun sudah teridap HIV/AIDS, kebiasaan membagi-bagi virus kepada sesama orang Papua, melalui hubungan seksual masih gencar dan secara masif dilancarkan. Orang yang telah teridap HIV/AIDS tidak merasa bersalah dan merasa rugi jika tidak membagikan virus mematikan ini kepada orang lain.
Di tanah Papua virus HIV/AIDS lebih jahat daripada setan. Manusia yang terkana virus mematikan ini mengambil peran setan untuk menghabiskan sesama manusia yang lain dengan tidak menjaga diri. Akibat saling menyebarkan virus HIV/AIDS tidak sedikit manusia Papua yang menjadi korban, terlebih anak-anak muda Papua di usia produktif yang sebenarnya adalah harapan Gereja dan bangsa.
Perjuangan Pembrantasan
Penyebaran virus HIV/AIDS yang makin pesat, seperti jamur di musim hujan, penanganan dan penanggulangan secara serius dari pemerintah harus dijalankan lebih cepat. Jika virus ini tidak ditangani secara serius, Papua akan tinggal nama. Apa yang Allah larang, yakni “jangan berziah” harus dihayati dalam hidup, dengan cara setia pada pasangan. Tindakan penanganan baik secara promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitatif sudah harus dilaksanakan:
Promotif
Tindakan promotif yang harus dilakukan adalah membangun atau meningkatkan kesadaran bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat untuk dapat menghindari penyebaran lebih lanjut kepada yang belum teridap. Melakukan promosi-promosi atau penyuluhan-penyuluhan dan pencerahan terkaitu bahayanya virus HIV/AIDS untuk membatasi laju perkembangan virus mematikan ini.
Prefentif
Tindakan ini bersifat pencerahan supaya tidak terjadi apa-apa pada orang yang teridap HIV/AIDS, termasuk tidak membagikan virus membahayakan ini kepada orang lain. Tindakan pencegahan ini penting supaya dapat mencegah terjadinya penularan kepada sesama yang lain lebih lanjut.
Kuratif
Tindakan pertolongan untuk menyembuhkan penyakit atau virus HIV/AIDS yang diterima. Tindakan kuratif atau pengobatan bagi yang teridap HIV/AIDS harus dilakukan, baik secara medis maupun obat-obatan tradisional demi memperpanjang kehidupan. Orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan harus mencari cara dan bentuk pengobatan, termasuk berjuang menemukan obat-obatan yang tepat, tidak sebatas menambahkan imun untuk memperpanjang kehidupan, yakni dengan obat ARV, tetapi lebih dari itu berjuang mencari obat-obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini secara total.
Rehabilitatif
Tindakan rehabilitasi atau tindakan memulihkan. Tindakan ini adalah berjuang untuk memulihkan kembali orang-orang yang teridap dengan HIV/AIDS untuk kembali seperti semula. Tindakan ini tidak mungkin bagi manusia, apalagi obatnya hingga kini belum ditemukan, namun bagi Tuhan sangat mungkin. Karena itu, para stakehorlder berperan melakukan penelitian untuk menemukan obat-obatan untuk menyembuhkan atau memulihkan, sambil mengandalkan Tuhan.
Keganasan virus HIV/AIDS telah membunuh manusia Papua pada usia produktif, muda belia. Hampir setiap hari orang Papua mati karena virus ini. Karena terbiasa dan terjadi berulang-ulang untuk melakukan penyuluhan, promosi atau tindakan-tindakan pemulihan mencapai tingkat kebosanan dan kejenuhan yang paling parah, padahal dengan ganasnya sedang memusnahkan manusia Papua dari muka bumi Papua.
Kenyaaan orang-orang yang berkerja di bagian kesehatan, KPA dan lain-lain, terlihat hanya mencari uang, menjadikan lahan bisnis dan tindakan penanganan tidak dijalankan secara serius dan penuh bertanggung jawab.
Himbauan Untuk Pembatasan Penyebaran
Setiap dan semua orang diundang dan harus menjadikan HIV/AIDS sebagai musuh bersama dan harus dilenyapkan dari bumi. Karena itu kepada semua orang:
Yang teridap HIV/AIDS. Kepada yang telah kena HIV/AIDS untuk tidak secara gampangan dan tanpa merasa bersalah membagikan virus mematikan ini kepada orang lain yang masih sehat. Setiap orang yang teridap HIV/AIDS harus sadar bahwa menyebarkan kepada orang lain adalah “dosa besar.”
Yang masih sehat, belum teridap. Kepada yang masih sehat atau belum kena virus HIV/ADIS yang mematikan ini supaya tetap jaga diri, waspada dan berhati-hati agar tidak teridap: terlebih dalam memilih jodoh, perlu mendahulukan pemeriksaan kesehatan. Sekaligus setiap pasangan harus tetap saling setia.
Pemerintah dan semua stakeholder kesehatan. Kepada Pemerintah yang langsung mengangani bidang kesehatan agar segar mencari dan menemukan cara-cara pengobatan yang lebih intensif dan kontinu. Para stakeholder melakukan penelitian menemukan obat-obatan untuk menyembuhkan dan tidak sebatas memperpanjang umur hidup denga obat ARV.
Penutup
Semua orang Papua harus sepakat bahwa virus HIV/AIDS itu musuh bersama yang harus musnah dari atas tanah Papua. Kita telah tahu bahwa Virus ini bertahan dan berkembang subur karena pasangan tidak saling setia (jajan di luar) dan membawa masuk virus dalam keluarga. HIV/AIDS dapat bertumbuh subur karena melanggar perintah Allah, yakni “jangan berbuat cabul, atau jangan berzinah.”
Semua orang di Papua baik pemerintah maupun masyarakat harus berpartisipasi dalam membrantas penyakit mematikan ini. Penyakit mematikan ini jangan berlama-lama di Papua. Dalam usaha ini, butuh niat, tekat dan keseriutsan dari semua pihak yang peduli pada kehidupan dan kemanusiaan.
Penulit adalah Dosen STK “TP” Deiyai, Keuskupan Timika