NABIRE, JELATANEWSPAPUA.COM – Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw, menyampaikan keprihatinannya terhadap melonjaknya jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah Papua Tengah. Hingga awal Agustus 2025, tercatat sebanyak 23.861 kasus HIV/AIDS telah terdata di provinsi tersebut.
Baca Juga: KPA Papua Tengah Gelar Peluncuran Pengurus Baru, Gaungkan Komitmen Ending AIDS 2030
Jumlah tersebut meningkat signifikan jika dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir yang berada di kisaran 20.000 hingga 22.000 kasus. Freny mengatakan, lonjakan angka ini bukan hanya mencerminkan peningkatan penularan, tetapi juga karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara sukarela.
“Dulu banyak yang belum memeriksakan diri sehingga angka terdata terlihat rendah. Sekarang karena ada dorongan dari KPA, LSM, dan keluarga, masyarakat, khususnya anak-anak muda, mulai melakukan tes HIV secara sukarela. Itu yang membuat data naik,” ujar Freny saat ditemui di Nabire, Rabu, (06/08).
Menurutnya, ada dua faktor utama yang menyebabkan lonjakan tersebut. Pertama, semakin aktifnya layanan pemeriksaan HIV yang dilakukan baik melalui fasilitas kesehatan maupun kegiatan lapangan yang digelar oleh KPA, lembaga swadaya masyarakat, serta dukungan dari komunitas dan keluarga.
Baca Juga: HIV/AIDS Musuh Kita Bersama
Faktor kedua, yang disebut lebih mengkhawatirkan, adalah memburuknya perilaku sosial di kalangan remaja dan usia produktif. Freny menyoroti bahwa banyak anak muda saat ini lebih sering berada di luar rumah pada malam hari, bergaul bebas, dan cenderung mencoba perilaku yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV.
“Anak-anak sekarang cenderung ingin mencoba hal-hal baru. Sering keluar malam, mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar, dan kurang mendapatkan pengawasan serta edukasi tentang bahaya HIV/AIDS,” ungkapnya.
Freny menegaskan pentingnya peran keluarga, gereja, sekolah, dan komunitas dalam memberikan pemahaman yang benar kepada generasi muda mengenai bahaya seks bebas dan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.
“Generasi usia 14 sampai 25 tahun adalah kelompok yang paling rentan, tapi juga kelompok yang akan memimpin Papua di masa depan. Mereka harus menjaga diri, menjauhi seks bebas, dan mendengarkan nasihat orang tua serta ajaran agama,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa HIV/AIDS bukan hanya soal penyakit, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup dan masa depan sebuah generasi. Bila generasi muda tidak menjaga diri, maka bukan hanya mereka yang akan terdampak, tetapi juga keberlangsungan Papua sebagai sebuah wilayah yang memiliki harapan besar pada anak mudanya.
“Papua ini milik kita semua. Kalau kita hancur karena penyakit, siapa yang akan lanjutkan perjuangan dan pembangunan? Gereja butuh kita, pemerintah juga butuh kita,” tegas Freny.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda Papua Tengah, untuk lebih terbuka dalam mengakses layanan kesehatan, rutin memeriksa diri, serta saling mendukung agar tidak terjadi diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Jangan takut periksa, jangan malu. Justru dengan tahu status sejak dini, kita bisa menjaga diri dan tidak menularkan ke orang lain. Itu bentuk tanggung jawab sosial,” pungkasnya.