JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) Manokwari menegaskan bahwa salah satu anggotanya, Elisa Gobai, menjadi korban dalam kericuhan yang terjadi di Pelabuhan Laut Manokwari pada Selasa malam [2/12] .
Ketua IMPT, Yuten Sam, meminta agar penyelesaian kasus ini dilakukan secara terbuka dan transparan dalam waktu tiga hari ke depan.
Yuten mengimbau agar situasi tidak memburuk dan mengingatkan semua pihak untuk tidak memanfaatkan insiden ini sebagai alat untuk memecah persatuan masyarakat Papua. Ia menegaskan, kericuhan tersebut menyebabkan salah satu anggota IMPT luka-luka serius.
Kronologi Kejadian
Yuten menjelaskan bahwa kericuhan bermula saat seorang ibu yang hendak pulang ke Nabire setelah menghadiri wisuda anaknya di Manokwari hendak menaiki kapal KM Labobar sekitar pukul 16.00 WIT. Dalam proses naik kapal, sejumlah anggota IMPT membantu sang ibu dengan membawa barang menggunakan noken. Saat menaiki tangga kapal, terjadi adu mulut antara anggota IMPT, petugas penjaga, dan warga pengunjung lainnya.
“Seorang di lokasi disebut sempat mengeluarkan benda tajam, namun berhasil diamankan aparat,” ujarnya.
Setelah situasi mereda, anggota IMPT membantu sang ibu naik ke kapal. Dalam perjalanan pulang, anggota IMPT bersama rekannya diduga diikuti sejumlah orang tak dikenal dan kemudian dihadang di sekitar Jl Yos Sudarso. Mereka diduga menjadi korban penganiayaan dengan menggunakan benda tajam, yang mengakibatkan dua luka di bagian lengan belakang. Korban kemudian melarikan diri ke Amban untuk melaporkan kejadian tersebut.
Kabar penganiayaan ini menyebar ke sekretariat IMPT, memicu puluhan mahasiswa turun ke pelabuhan. Bentrokan pun terjadi beberapa kali, bahkan sempat menyandera dua orang, termasuk seorang anggota aparat kepolisian Manokwari. Kerusuhan berlangsung hingga lima kali sebelum aparat gabungan TNI-Polri turun untuk mengendalikan keadaan.
Tanggapan Resmi dari Polda Papua Barat
Kombes Pol Ignatius Benny Ady Prabowo, Kabid Humas Polda Papua Barat, sebelumnya menyatakan melalui media Jagat Papuaneews bahwa berita tentang penganiayaan terhadap salah satu mahasiswa IMPT adalah hoax. Namun, Yuten Sam membantah pernyataan tersebut, menegaskan bahwa korban penganiayaan adalah anggota IMPT angkatan 2025 dan telah ada saksi di tempat kejadian yang melihat langsung penikaman tersebut.
Yuten Sam menegaskan akan meminta Kapolres Manokwari dan Kapolda Papua Barat untuk segera mengklasifikasi dan menindaklanjuti laporan ini secara adil. Ia menyatakan, jika tidak ada kejelasan, pihaknya bersama anggota IMPT siap turun secara spontan dengan gaya mereka sendiri untuk menuntut keadilan.
Penegasan
Kasus ini menjadi perhatian serius karena melibatkan kekerasan dan ketidakjelasan informasi. IMPT menuntut keadilan dan transparansi dalam penyelesaian kasus ini demi menjaga persatuan dan keamanan masyarakat Papua, khususnya di Manokwari.