JAYAPURA, JELATANEWSPAPUA.COM – Dua komunitas mahasiswa asal Provinsi Papua Pegunungan yang sedang menempuh pendidikan di Kota Jayapura, yakni Komunitas Pelajar Mahasiswa Yahukimo (KPMY) dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Lani Jaya (HPM-LJ), menyatakan sikap tegas menolak konflik sosial yang terjadi di Kabupaten Jayawijaya.
Pernyataan sikap tersebut disampaikan dalam jumpa pers yang digelar di Asrama Mahasiswa Yahukimo, Perumnas III Waena, Kota Jayapura, Rabu (21/01).
Konflik antarsuku Lani dari Kabupaten Lani Jaya dan Suku Yali dari Kabupaten Yahukimo dinilai telah menciptakan ketegangan serius, eskalasi konflik yang tinggi, serta menelan korban jiwa di antara sesama orang asli Papua.
Ketua Komunitas Pelajar dan Mahasiswa Yahukimo (KPMY), Edius Bayage, meminta seluruh pihak yang terlibat agar segera menghentikan perang dan memilih jalan damai.
“Perang bukan solusi terbaik. Kami mahasiswa Papua Pegunungan di Kota Jayapura tidak mengharapkan konflik ini terus terjadi di Kabupaten Jayawijaya, khususnya di Wamena sebagai ibu kota Provinsi Papua Pegunungan,” ujar Edius.
Ia menegaskan agar tidak ada lagi korban jiwa dan meminta seluruh kalangan intelektual, baik yang telah bekerja maupun yang masih menempuh pendidikan, untuk turut memberikan masukan serta edukasi kepada masyarakat agar konflik dapat segera diakhiri.
“Jayawijaya adalah ibu kota provinsi. Jangan lagi ada perang. Kami meminta para intelektual memberikan pemahaman yang baik agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Edius juga mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak menggunakan budaya perang sebagai cara menyelesaikan persoalan sosial.
Sementara itu, Ketua Rukun Keluarga Wilayah Anpropakos Kabupaten Yahukimo, Kalvin Pahabol, mengaku prihatin atas konflik yang terjadi di Wamena.
“Kami sebagai mahasiswa asal Papua Pegunungan di Jayapura sangat prihatin. Kami mendesak Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk segera turun tangan mencari jalan keluar dan mendamaikan kedua belah pihak,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah bersama lembaga adat untuk membentuk regulasi yang melindungi masyarakat dari konflik antarsuku.
Senada dengan itu, Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Lani Jaya (HPM-LJ), Yokus Morip, meminta pemerintah provinsi segera turun langsung ke lapangan untuk menghentikan konflik yang masih berlangsung.
“Mahasiswa asal Yahukimo dan Lani Jaya di Jayapura harus bersatu, tidak memihak, dan tidak membawa konflik dari kampung ke kota studi. Kita harus memberikan masukan yang menyejukkan agar situasi di Jayawijaya kembali kondusif,” tegasnya.
Dalam pernyataan sikap bersama, KPMY dan HPM-LJ menyampaikan sejumlah 5 poin, antara lain:
- Menolak tegas tindakan pembunuhan dan penyelesaian masalah melalui budaya perang.
- Mendesak kedua belah pihak untuk segera melakukan perdamaian.
- Mendukung upaya pemerintah daerah, pemerintah provinsi, gereja, DPRP, MRP, dan LSM dalam proses penyelesaian konflik.
- Meminta aparat keamanan menjamin keselamatan masyarakat hingga konflik benar-benar berakhir.
- Merekomendasikan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan Lembaga Masyarakat Adat (LMA) untuk menetapkan regulasi penyelesaian konflik berbasis hukum adat. [Melki Obaipa]