SORONG, JELATANEWSPAPUA.COM– Tokoh budaya Papua, Max Binur, pendiri sekaligus Direktur Belantara Papua, tutup usia pada Kamis (18/09) pukul 19.28 Waktu Papua di Rumah Sakit 22, Kabupaten Sorong.
Kabar ini membawa duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat Papua yang selama ini mengenal kiprah almarhum. Max Binur dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk pemberdayaan masyarakat adat, pelestarian budaya, pendidikan alternatif, dan advokasi lingkungan hidup di Tanah Papua.
Melalui Belantara Papua yang didirikan pada awal 2000-an, ia mengembangkan program pendidikan anak usia dini, pelatihan seni, musik, tari, lukisan, kerajinan tangan, hingga advokasi isu agraria dan tenurial masyarakat adat.
Metode yang ia dorong adalah “belajar dari masyarakat” dengan memadukan pengetahuan lokal para tetua dan kebutuhan generasi muda.
Dalam banyak kesempatan, Max Binur menegaskan pentingnya menjaga keberagaman budaya Papua. “Di Papua itu kalau kita bilang sukunya saja ada sekitar 250-an sekian suku, bahasa, dan di dalam jumlah yang sangat besar itu pasti mereka punya budaya yang berbeda-beda, seninya berbeda-beda, karakternya berbeda-beda, dan itu satu aset yang harus dipertahankan untuk dimajukan,” ujarnya dalam salah satu wawancara.
Pemikirannya yang menekankan keterhubungan erat antara manusia, alam, dan kebudayaan menjadikan Max Binur sebagai figur penting dalam gerakan budaya Papua.
Ia diyakini banyak kalangan sebagai penggerak yang konsisten menghidupkan identitas Papua lewat jalan kebudayaan dan seni.
Kepergiannya meninggalkan jejak mendalam, bukan hanya bagi Belantara Papua, tetapi juga bagi masyarakat luas yang pernah disentuh oleh gagasan, karya, dan keteladanan hidupnya. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari para pegiat budaya, aktivis lingkungan, dan pemerhati pendidikan di seluruh Papua.
Max Binur dikenang sebagai sosok rendah hati, penuh kasih, dan teguh memperjuangkan kehidupan yang bermartabat bagi orang Papua.