JAYAPURA, JELAYANEWSPAPUA.COM – Dalam kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia ke Jayapura, Kamis (18/09), sejumlah aspirasi nelayan kecil Orang Asli Papua (OAP) kembali mencuat. Wapres sempat mendatangi Pasar Pangkalan Ikan (PPI) Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, dan berdialog dengan pedagang ikan. Namun sebagian besar nelayan OAP tidak berkesempatan bertemu langsung sehingga menyampaikan aspirasi melalui pernyataan terbuka.
Menurut Hasbani Wihawary, Ketua Nelayan sekaligus Ketua Koperasi Nelayan di Hamadi, masalah utama nelayan kecil adalah ketiadaan fasilitas Air Blast Freezer (ABF) dan Cold Storage (CS) untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan.
“Kami nelayan kecil butuh ABF dan Cold Storage. Kalau ada fasilitas itu, ikan bisa bertahan lebih lama dan kami bisa jual dengan harga baik. Sekarang ikan cepat rusak, kami rugi. ABF/CS yang ada di PPI Hamadi malah dipakai dinas, sementara kami nelayan asli Papua harus sewa di luar dengan biaya mahal,” tegas Hasbani.
Selain keterbatasan fasilitas, nelayan juga mengeluhkan penyaluran bantuan yang dinilai tidak tepat sasaran. Bantuan berupa perahu fiber, tali rompong, GPS, dan kulbox sering kali tidak sampai ke tangan nelayan kecil OAP.
Aspirasi ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua serta UU Nomor 2 Tahun 2021 tentang perubahan kedua Otsus Papua, yang menjamin perlindungan dan pengembangan ekonomi masyarakat asli Papua, termasuk di sektor perikanan.
Rekomendasi Nelayan OAP di Jayapura :
1. Pemerintah menyediakan ABF/CS khusus untuk nelayan kecil OAP dan nelayan pada umumnya di Jayapura.
2. Bantuan perikanan disalurkan tepat sasaran langsung kepada nelayan aktif.
3. Koperasi nelayan OAP diberdayakan dan difasilitasi, bukan ditutup.
4. Pemerintah mengadakan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan SDM agar nelayan OAP mampu bersaing.
5. Perlu pengawasan ketat agar fasilitas perikanan tidak hanya dikuasai pengusaha besar atau dinas.
Dengan rekomendasi tersebut, Hasbani Wihawary berharap pemerintah memperhatikan nasib nelayan kecil di Jayapura agar lebih sejahtera, mandiri, sekaligus tetap melestarikan tradisi melaut masyarakat Papua. (Laporan dari Lapangan: Elias Awekidabi Gobay)